Perjodohan Sejak Dini

Perjodohan Sejak Dini
Episode 68


__ADS_3

"Papah mendoakan yang terbaik untuk kamu dan juga Radit. Semoga rumah tangga kalian langgeng, dan juga di jauhkan dari segala cobaan dan juga masalah-masalah yang membuat hubungan kalian berantakan." ucap pak Handoko.


"Amin.."


"Amin.."


"Sudah kalian tidak perlu khawatir lagi dengan masalah itu. Lagian orang-orang tidak penting bagi kita." ucap pak Handoko.


"Terimakasih yah Pah sudah tidak marah dan bisa mengerti kami." ucap Abel memeluk papah nya.


Istri nya juga ikut bergabung. Pak Handoko mengajak Radit ikut bergabung.


"Papah......!!!" ternyata Mila datang dan melihat mereka berpelukan dia sangat cemburu dan ingin melerai mereka berempat.


"Aku tidak di ajak, kalian sangat jahat sekali." ucap Mila, dia pun langsung di ajak bergabung.


Keesokan harinya...


Seperti biasa Radit berangkat ke kantor.


"Kak." panggil Mila memanggil Abel yang sedang bersih-bersih di kamar nya.


"Loh kok kamu gak ke kampus hari ini?" tanya Abel kepada Adik nya itu.


"Enggak kak, Dosen ku tidak masuk." ucap Mila. "Oohh. Kamu ngapain ke sini?" tanya Abel.


"Gak ada, aku hanya mau main saja. aku bosan sendiri di kamar." ucap Mila. Abel menghela nafas panjang.


"Sampai kan saja apa yang mau kamu katakan." ucap Abel.


Mila duduk di sofa dia melihat Abel dari atas sampai ke bawah.


"Ada apa Mila? Kenapa kamu melihat kakak seperti itu?" tanya Abel.


"Seperti nya yang di katakan mamah benar deh." ucap Mila.


"Maksud kamu apa Mila?" tanya Abel.


"Mamah bilang kalau kakak dengan kak Radit belum ngapa-ngapain kan?" ucap Mila.


Abel panik mendengar kata-kata Mila.


"Ssttt!! Kamu ngomong apa an sih Mila? Bagaimana kalau ada yang dengar?" tanya Abel kesal.


"Tenang saja kak, Bibik juga pasti maklum kok kalau mendengar nya." ucap Mila.


Abel menghela nafas panjang. "Kamu masih kecil belum mengerti tentang hal itu." ucap Abel.


Mila menatap kakak nya. "Kakak tidak perlu mengalihkan pembahasan. Kakak dengan kak Radit benar-benar belum melakukan itu kan?" ucap Mila.


Abel terdiam. "Huff mamah bilang seperti nya harapan nya mendapatkan cucu tidak lah mungkin." ucap Mila.


"Bukan seperti itu Mila, hanya saja kakak belum siap." ucap Abel.

__ADS_1


"Belum siap apa kak? Sudah berapa bulan kalian menikah, namun tetap saja kakak tidak siap?" ucap Mila.


"Kamu tidak paham di posisi kakak seperti apa." ucap Abel.


"Kakak tidak mencintai kak Radit? Apa kakak hanya main-main saja dengan kak Radit?" tanya Mila.


"Sudah lah jangan membahas itu." ucap Abel.


"Harus di bahas kak. Kalau kakak sudah menjadi istri Kak Radit itu arti nya kakak harus bisa melayani suami kakak." ucap Mila.


"Iyah kakak paham, kakak tau kok." ucap Abel.


"Ya udah deh percuma juga aku menjelaskan nya kepada kakak, kakak juga tidak akan mengerti." ucap Mila langsung pergi.


Abel melihat Mila pergi.


"Bukan aku yang tidak mau, tapi Radit tidak pernah meminta nya, masa iya aku yang menawarkan atau mengajak nya terlebih dahulu?" ucap Abel.


"Gak mungkin lah, kelihatan sekali aku terobsesi sama kak Radit." ucap Abel.


"Sudah waktunya makan siang.. Apa kak Radit sudah makan apa belum yah." ucap Abel. Dia mengambil handphone nya menelpon suami nya.


"Aku telpon gak yah? Aku tidak terbiasa." ucap Abel.


"Telpon saja non, pada umumnya laki-laki itu sangat suka di perhatikan." ucap Bibik.


Abel pun langsung menelpon Radit.


Radit sedang di ruangan meeting sehingga dia tidak mendengar kalau istri nya menelpon dia.


"Gak di jawab bik." ucap Abel.


"Mungkin tuan sedang sibuk." ucap Bibik.


"Ini kan jam makan siang bik. Pasti lagi sama Novi." ucap Abel.


"Jangan berfikir negatif non, berusaha lah berfikir positif agar tidak ada kesalahan pahaman." ucap Bibik.


Abel mengangguk walaupun wajah nya sudah cemberut.


Beberapa menit kemudian akhirnya meeting selesai.


"Terimakasih banyak waktu nya Pak Radit. Kalau begitu kami pulang dulu yah." ucap Klien nya.


"Sama-sama pak, senang bekerja sama dengan anda." ucap Radit.


Setelah Klien nya pergi Staf datang membawa makanan ke ruangan Radit.


"Permisi Pak..."


"Ada apa?"


"Ini adalah kiriman makan siang dari rumah." ucap Staf nya.

__ADS_1


Radit memasang wajah bingung.


"Apa ini dari Abel? kenapa dia gak ngomong?" ucap Radit.


Sementara di rumah Abel tetap kesal. "Aku yakin dia pasti tidak memakan makanan yang aku kirim." ucap Abel.


Dia tidak bisa berfikir positif kepada suami nya lagi kalau sudah di kantor karena Novi.


Radit memeriksa handphone nya dan ternyata sudah ada panggilan tak terjawab dari istri nya yang tidak biasa nya ada di handphone nya.


Abel yang sedang melamun tiba-tiba handphone nya berbunyi.


"Halo!" jawab Abel Deng sedikit kesal tanpa melihat siapa yang menelpon nya.


"Abel..." Ucap Radit balik telepon. Abel melihat ternyata suami nya.


"Kak Radit." ucap Abel.


"Saya mau nanya apa kamu yang mengirim kan makanan ke kantor? Kenapa sebelum nya kamu gak bilang?" ucap Radit.


"Ya sudah kalau kakak sudah makan di luar tidak perlu di makan lagi, sebaik nya buang saja." ucap Abel.


"Loh kenapa? Saya sangat lapar. Saya baru saja mau mengucapkan terimakasih kepada kamu." ucap Radit.


"Maksudnya?"


"Kamu kesal karena saya tidak menjawab telpon kamu yah?" tanya Radit. Abel diam.


"Saya minta maaf. Saya baru saja kelar meeting Deng tamu penting saya sehingga saya tidak membawa ponsel saya ke ruangan meeting." ucap Radit.


Abel terdiam sejenak.


"Aku sudah berfikir yang tidak-tidak." batin Abel dia jadi malu sendiri.


"Baiklah kalau begitu terimakasih. Saya akan makan siang." ucap Radit dan mematikan sambungan telepon.


Abel terdiam sejenak dan tiba-tiba mengacak-acak rambut nya.


"Aaaaarrrhhh!!! Bisa gila aku seperti ini. Aku nyesel keluar dari perusahaan, aku seharusnya tidak keluar agar aku bisa melihat Novi dan juga kak Radit. Aku harus mengawasi mereka." ucap Abel.


Dia jadi pusing sendiri.


Sudah Sore Abel baru saja selesai menyetrika pakaian nya dengan suami nya.


"Hufftt sekarang aku harus mengerjakan semua pekerjaan rumah agar aku tidak bosan hanya tidur-tiduran saja." ucap Abel sambil memegang pinggang nya yang terasa sangat sakit sekali.


Dia menoleh ke arah jam.


"Sudah jam Lima sore sebaiknya aku mandi dulu sebelum kak Radit pulang, aku harus terlihat cantik." ucap Abel.


Mengambil handuk dan membawa nya ke kamar mandi. Setelah beberapa menit di kamar mandi dia keluar dan memilih pakaian yang bagus.


Namun sudah hampir sepuluh menit dia berdiri di depan lemari nya.

__ADS_1


"Pakaian ku sudah tidak ada yang bagus, semua nya yang lama, aku bosan." ucap Abel.


__ADS_2