Perjodohan Sejak Dini

Perjodohan Sejak Dini
Episode 63


__ADS_3

"Huff bagaimana aku masuk ke kamar sekarang ini? Aku sudah mencari perkara mengajak Novi makan." batin Radit.


Sebenarnya Radit sengaja mengabaikan Abel dan mengajak Novi makan bersama memancing perasaan Abel.


Mau tidak mau dia tetap harus masuk ke dalam.


Dia melihat Abel tidur di sofa.


"Kenapa kamu tidur di sofa?" tanya Radit kepada Abel. Namun Abel tidak menjawab nya.


"Abel..." Panggil Radit. Tidak di jawab. Radit mau menyentuh Abel namun Abel langsung menghindar nya.


"Jangan menyentuh ku!" ucap Abel.. Radit terdiam.


"Tidur lah di kasur, kenapa kamu tidur di sini?" tanya Radit lagi.


"Aku mau tidur di sini saja." ucap Abel.


"Kamu mau saya memindahkan kamu ke tempat tidur?" tanya Radit.


Abel langsung beranjak dari sofa dan berjalan ke Kasur.


"Aku sudah bilang jangan ganggu aku. Kenapa kakak tidak mengurus Sekretaris kakak itu saja?" ucap Abel dengan saja judes.


Radit mendekati Abel.


"Kenapa kamu begitu marah ketika saya bersama Novi?" tanya Radit.


"Kamu cemburu karena tidak suka kepada Novi atau karena kamu sudah mencintai saya?" tanya Radit.


Abel menggeleng kan kepala nya. "Aku tidak mencintai kakak." ucap Abel sambil memalingkan pandangannya.


Radit tersenyum tipis.


"Apa kamu yakin tidak mencintai saya?" tanya Radit lagi.


"Iyah." ucap Abel.


"Kalau kamu tidak mencintai saya kenapa kamu sangat cemburu melihat saya bersama Novi? Kenapa kamu marah-marah tidak jelas?" tanya Radit.


"Ya karena aku tidak suka saja kepada Novi." ucap Abel. Radit tersenyum.


"Kalau kamu benar-benar tidak mencintai saya, apa kamu berani menatap mata saya dan mengatakan kalau kamu tidak mencintai saya?" tanya Radit.


"Siapa takut?" ucap Abel.


Radit menatap Abel. Abel baru saja mau menatap Radit dia sudah tidak kuat.


Radit Menatap Abel dengan tatapan yang sangat tajam. Namun terlihat sangat manis.


"Jangan menatap ku seperti itu." ucap Abel. Radit berusaha untuk biasa saja namun tetap saja sama.


"Berbicara lah, saya akan mendengar nya." ucap Radit. Abel menghela nafas panjang terlebih dahulu.


"Ayo Abel kamu bisa, kamu bisa mengatakan nya." ucap Abel kepada diri nya sendiri.


Namun pada nyatanya dia menatap Radit saja tidak kuat.

__ADS_1


"Aku... Tidak..." Baru saja mengatakan itu dia menunduk kan kepala nya.


"Abel tatap saya." ucap Radit.


Abel mencoba lagi dia menatap Radit. "Kali ini aku pasti bisa." ucap Abel.


"Aku sudah tau perasaan kamu yang sebenarnya Abel, namun aku ingin kamu jujur sendiri dan menyadari perasaan mu itu." batin Radit.


"Aku tidak...."


"Aaaaahhh Aku nyerah, aku tidak bisa karena Kakak menatap ku seperti itu." ucap Abel.


"Saya menatap kamu seperti apa? Saya hanya menatap kamu dengan tatapan cinta, tatapan sayang dan senyuman manis. ini menandakan ketulusan saya kepada kamu." ucap Radit.


"Ya ampun kenapa susah banget sih buat ngomong itu, aku tidak boleh memalukan diri sendiri." ucap Abel.


"Kenapa? Kamu tidak bisa mengatakan nya? Itu artinya kalau kamu sudah mencintai saya." ucap Radit.


Abel menggeleng kan kepala nya.


"Aku tidak mencintai pria yang masih dekat-dekat dengan perempuan lain, dan aku tidak mau mencintai pria yang di sukai banyak perempuan." ucap Abel.


Radit menghela nafas panjang. Dia sangat gemes Deng istri nya itu.


"Huff sangat sulit menjelaskan nya Abel. Saya tidak tau bagaimana membuat kamu sadar dengan perasaan kamu sendiri." ucap Radit.


"Baiklah saya tidak akan memaksa kamu untuk mengatakannya secara langsung, namun mari kita membuat perjanjian." ucap Radit.


"Perjanjian apa?" tanya Abel.


"Apa? Kakak mengusir ku? apa kakak mau kita berpisah?" tanya Abel kaget.


"Bukan seperti itu Abel, coba kamu dengar kan baik-baik." ucap Radit.


"Saya mau kita Dua hari tidak berkomunikasi sama sekali." ucap Radit.


"Maksudnya?" tanya Abel.


"Kalau dalam jangka dua hari itu kamu tahan tidak tau kabar dan tidak mendengar suara saya, dan kamu juga tidak kembali ke rumah ini itu arti kamu benar-benar tidak mencintai saya." ucap Radit.


"Dan jika hanya Saya yang datang ke rumah kamu itu arti nya cinta saya bertepuk sebelah tangan." ucap Radit.


Abel terdiam sejenak.


"Bagaimana aku bisa melakukan nya? Aku sudah terbiasa dengan kak Radit." batin Abel.


"Oke! Aku setuju." ucap Abel.


"Baiklah kalau begitu saya akan mengantar kan kamu besok pagi." ucap Radit.


"Tidak perlu, aku bisa sendiri." ucap Abel dan langsung tidur.


Abel terlihat sangat kesal namun Radit tidak boleh terlalu memanjakan nya.


Keesokan harinya... Radit bangun dia tidak melihat istrinya di samping nya.


"Abel..." Panggil Radit. Namun tidak ada jawaban.

__ADS_1


"Huff Kemana dia?" ucap Radit.


Namun dia baru ingat perjanjian nya tadi malam.


"Huff aku baru ingat perjanjian itu." ucap Radit.


Dia keluar dari kamar nya.


"Loh kamu belum berangkat ke kampus?" tanya Radit.


"Belum kak, ini sudah mau berangkat." ucap Mila.


"Oh iya kak ini ada surat dari kak Abel, tadi dia gak tega bangunin kakak jadi nya di titip sama ku deh." ucap Mila.


"Terimakasih." ucap Radit mengambil surat itu.


"Aku berangkat dulu yah kak. Assalamualaikum."


"Walaikumsalam."


Radit membaca surat dari Abel.


"Ini adalah komunikasi kita yang terakhir kak untuk dua hari ini. Semoga kakak kuat tidak bertemu dengan aku." ucap Abel di surat itu.


"Dia benar-benar Melakukan nya." batin Radit.


"Oke kita lihat saja." ucap Radit.


Di tempat lain Abel membuat orang tua nya bingung karena mendadak datang tidak ada angin tidak ada hujan.


"Kamu kenapa sih nak? apa kamu berantem dengan suami kamu?" tanya orang tua nya.


"Enggak kok mah, aku baik-baik aja dengan kak Radit, aku hanya merindukan rumah saja." ucap Abel.


"Mamah tidak percaya." ucap Mamah nya.


"Mamah bisa tanya ke Mila." ucap Abel.


"Ya udah deh Mamah percaya." ucap mamah nya karena wajah Abel ceria-ceria aja.


"Ya udah mah kalau begitu aku ke kamar dulu." ucap Abel.


Di kamar Abel membaringkan tubuh nya. Sepanjang malam dia tidak bisa tidur karena memikirkan Kalau dia hari Tampa Radit.


"Gak! Gak! aku tidak boleh memikirkan dia, aku harus buktikan aku bisa." ucap Abel.


Dia menepis pikiran nya dari Radit.


Dia tidur pagi agar tidak terlalu memikirkan Radit.


Sementara di tempat lain Radit sudah sampai di kantor nya.


Sebelum masuk seperti biasa dia melihat ke ruangan tempat Abel biasanya, namun kali ini ruangan itu sudah berbeda.


Abel sudah tidak bekerja di sana lagi. "Pak Direktur." panggil Enjel.


."Iyah kenapa?" tanya Radit.

__ADS_1


__ADS_2