Perjodohan Sejak Dini

Perjodohan Sejak Dini
Episode 88


__ADS_3

Abel menghela nafas panjang. "Kelihatan nya Papah sangat lelah nak, kamu tidur saja yah." ucap Abel karena sudah jam sembilan malam.


Farel mengerti. Abel juga pasti kelelahan akhirnya Farel tidur di lengan Abel.


Di tempat lain orang tua Abel sedang menonton TV di ruang tamu. Mereka melihat Mila baru saja pulang.


"Dari mana saja kamu jam segini baru pulang?" tanya papah nya.


"Aku habis kumpul sama teman pah."


"Ini sudah jam berapa?"


"Jam sembilan lewat pah."


"Papah berapa kali bilang sama kamu jangan pernah pulang di atas jam sembilan malam." ucap papah nya.


"Tapi Pah.."


"Jangan membantah! Papah tidak suka. Dan satu lagi dari mana kamu memiliki uang membeli Laptop baru?" tanya Papah nya.


"Kok Papah tau?"


"Papah melihat nya di ruang TV di atas." ucap papah nya.


"Aduhhh kenapa aku lupa bawa ke kamar sih." batin Mila.


"Jawab Mila!" ucap Mamah nya lagi.


"Hmm itu..."


"Jangan coba berbohong kalau itu dari tabungan kamu, mamah sama Papah tau kalau tabungan kamu tidak sebanyak itu, tidak mungkin bisa membeli laptop yang harganya mahal." ucap Mamah nya.


"Sebenarnya yang beliin kak Radit dan kak Abel mah." ucap Mila.


"Ya ampun Mila... Kenapa kamu minta ke mereka? Kamu buat malu saja." ucap Papah nya.


"Abisnya aku sangat butuh pah, kalau aku minta sama papah pasti papah marah-marah dulu." ucap Mila.


"Tapi kamu bilang dulu sama papah atau Mamah. Jangan asal minta saja. Kamu tau kan harga Laptop itu sangat mahal." ucap papah nya.


"Iyah aku tau Pah, aku juga awalnya minta Laptop biasa, namun kak Radit membelikan ini." ucap Mila.


Mamah dan papah nya mengusap wajah mau pun kepalanya masingmasing.


"Aku minta maaf mah, Pah." ucap Mila.


"Kamu tau kan kalau kakak kamu menikah dengan Radit baru berapa lama? Kamu juga tau kan Radit sudah banyak membantu kita." ucap Papah nya.


"Iyah Pah aku tau." ucap Mila.


"Sudah kamu pergi ke kamar saja." ucap papah nya.


Mila sampai di kamar dia langsung ngasih tau kepada Abel. Dia ingin mengembalikan Laptop itu.


Abel menolaknya dia langsung menelpon orang tua nya keesokan harinya. Dia menerangkan laptop itu dari mana, dan tidak perlu marah atau berfikir yang lain-lain karena laptop itu khusus untuk Mila.


Orang tua nya jadi sedikit lebih tenang.


Bukan tidak mampu membeli. Mereka hanya ingin anak-anak nya pandai menggunakan barang yang sudah ada. Kalau masih bisa di pakai kenapa harus beli.

__ADS_1


"Habis ngomong sama siapa?" tanya Radit baru saja selesai mandi.


"Sama Mamah dan papah kak. Mereka menanyakan tentang laptop itu." ucap Abel.


"Oohh." ucap Radit.


"Kakak mau berangkat kerja?" tanya Abel. Radit mengangguk.


"Oh iya hari ini saya akan keluar kota." ucap Radit.


"Loh ngapain kak?" tanya Abel.


"Ada survei pekerjaan." ucap Radit.


"Pasti sama Novi kan?" tanya Abel. Radit mengangguk.


"Kamu tidak perlu cemburu atau berfikir yang aneh-aneh, karena bukan hanya saya dengan Novi." ucap Radit.


"Lalu?"


"Abel juga ikut." ucap Radit.


"Loh tumben-tumbenan banget." ucap Abel.


"Saya mau menjodohkan dia kepada teman saya." ucap Radit.


"Kak jangan aneh-aneh deh." ucap Abel.


"Kenapa? Saya melihat dia jarang bersama laki-laki, siapa tau dia suka juga dengan teman saya." ucap Radit.


"Terserah kakak saja deh." ucap Abel. Radit tersenyum.


"Walaikumsalam.." Jawab Bibik.


"Non Enjel kan?" tanya Bibik.


"Iyah bik, apa kabar?" tanya Enjel.


"Alhamdulillah sehat. Mau bertemu dengan Non Abel yah?"


"Iyah bik."


"Seperti nya masih di kamar." ucap Bibik.


"Humm mentang-mentang pengantin baru jam segini masih di kamar." ucap Enjel, Bibik tertawa.


"Enjel..." Ucap Abel. Melihat Abel turun dia langsung memeluk Abel.


"Abel.. kamu kenapa semakin gemuk saja? Kamu baik-baik saja kan?" tanya Enjel.


"Baik kok. Tumben banget pagi-pagi kamu ke sini?" tanya Abel.


"Hari ini aku memiliki jadwal Kerja dengan pak Radit keluar kota. Sebenarnya aku sangat malas sih karena akan bertemu dengan pria yang sangat aku benci." ucap Enjel.


Abel menoleh ke arah Radit.


Abel langsung tau siapa pria itu.


"Huff kak Radit seperti nya mau ngisengin Enjel. Tapi gak apa-apa deh, biar mereka semakin akrab. Kan seru juga lihat nya walaupun terkadang Enjel rese." batin Abel.

__ADS_1


"Oohh begitu, oh iya kamu juga harus jagain suami aku dari pelakor- pelakor di luar sana yah." ucap Abel berbisik ke pada Enjel.


"Tentu saja kamu tidak perlu khawatir." ucap Enjel.


"Sebelum Berangkat, ayo sarapan sama-sama dulu." ucap Bibik.


Radit dan Farel baru saja keluar dari kamar.


"Ini anak angkat kamu Abel?" tanya Enjel.. Abel mengangguk. Dia menggendong Farel namun Farel menangis karena dia baru saja bangun.


Dia mau di peluk oleh Radit terus.


"Aku gak nyangka deh kamu bisa menjadi ibu mendadak untuk anak angkat kamu." ucap Enjel.


Abel tersenyum. Radit menghela nafas panjang.


Dia selalu saja di abaikan kalau Abel sudah bertemu dengan Enjel.


Kedua nya sangat kompak sehingga dunia serasa milik berdua.


Tidak beberapa lama Radit ijin berangkat ke kantor.


Pamitan kepada istri nya membuat Enjel menangis di pojokan dia sangat cemburu.


"Ya ampun pak Radit romantis banget sih, Kapan yah kira-kira aku bisa seperti itu." ucap Enjel.


"Enjel! Kamu jangan melamun, ayo berangkat." ucap Radit.


"Iyah pak.." ucap Enjel.


"Abel aku berangkat dulu yah. Bye.. bye.. Farel." ucap Enjel.


"Ya ampun Enjel. Semakin ke sini tingkah asli benar-benar keluar. Kekanak-kanakan sekali." ucap Abel sambil tersenyum.


Radit dan Enjel Novi terlebih dahulu ke kantor.


"Kamu pindah ke depan Enjel." ucap Novi karena Novi mau duduk di sebelah Radit.


"Aku sudah duduk di sini, aku tidak mau pindah karena sudah nyaman di sini." ucap Enjel.


"Kamu jangan membantah kata-kata ku."


"Mau sampai kapan kalian berbicara? ayo masuk!" ucap Radit.


Novi masuk di tengah-tengah juga, membuat Radit kejepit di pinggir.


Dia hanya bisa menghela nafas panjang.


Beberapa jam di dalam mobil akhirnya sampai juga.


"Abel kamu selalu mendampingi saya, dan kamu Novi tolong temui beberapa klien kita." ucap Radit.


"Loh bapak tidak bertemu dengan klien Langsung?"


"Saya tidak bisa, Saya sudah ada janji sebelum nya dengan teman saya." ucap Radit.


"Kalau begitu biar kan Enjel yang memeriksa pekerjaan dengan klien, saya akan mendampingi bapak."


"Saya sudah mengatur sebelum nya seperti apa bukan? Kamu bisa langsung berangkat ke alamat. Mobil sudah menunggu." ucap Radit.

__ADS_1


__ADS_2