
"Kata dokter harus banyak bergerak." ucap Radit.
"Tapi tidak di suruh untuk memijit-mijit." ucap Abel. Radit tersenyum.
"Sekarang jujur berapa mantan kakak." ucap Abel.
"Saya tidak memiliki mantan. Saya sadar kalau saya sudah memiliki tunangan itu arti nya saya harus setia." ucap Radit.
"Kakak belum tau aku pada saat itu, kenapa kakak harus setia?" tanya Abel.
"Saya tidak ingin membuat keluarga saya dan membuat saya malu." ucap Radit.
Abel menghela nafas panjang.
"Huff aku lupa kalau keluar kakak sangat menjaga martabat keluarga dan juga harga diri." ucap Abel.
"Tapi saya mencintai cinta pertama saya." ucap Radit.
"Siapa?" tanya Abel langsung.
"Dulu di bangku SMA, dia adalah anak kepala sekolah idola di sekolah itu. Saya hanya bisa mengidolakan dia karena dia sudah memiliki pacar pada saat itu." ucap Radit.
"Huff pantesan saha." ucap Abel.
"Maksudnya?"
"Tidak ada." ucap Abel Deng judes. Radit menghela nafas panjang.
"Kamu marah?" tanya Radit. Abel menggeleng kan kepala nya. "Saya hanya mengatakan yang sebenarnya, kamu yang meminta saya mengatakan nya bukan?" ucap Radit.
"Sudah-sudah jangan membahas itu, aku tidak mau mendengar nya." ucap Abel. Radit pun terdiam mendengar Abel sudah kesal.
Abel diam, Radit juga diam.
"Tapi itu dulu. Kamu tidak perlu marah hanya karena itu. Saya sekarang hanya mencintai kamu." ucap Radit.
Abel menatap Radit. "Aku pernah mendengar kata-kata kalau Cinta pertama tidak akan pernah berhasil namun akan sulit di lupakan." ucap Abel.
Radit diam. "Sekarang giliran aku untuk memberi tau tentang berapa mantan ku." ucap Abel. Namun Radit meletakkan jari nya di bibir Abel.
"Tidak perlu Sayang.. Saya tidak perduli dengan masa lalu mu." ucap Radit.
Abel terdiam sejenak.
"Sebaiknya kita lanjut tidur." ucap Radit.
Abel mengangguk. Radit berbaring di samping Abel.
Abel berusaha untuk tidur namun tetap tidak bisa tidur karena perut nya terasa sangat sakit sekali. Radit melihat Abel gelisah.
"Apa masih sakit?" tanya Radit. Abel menatap wajah Radit dan mengangguk sambil memajukan sedikit bibir nya membuat Radit tersenyum gemas namun berusaha untuk menutupi nya.
"Kemarilah." Radit meletakkan tangan nya di perut Abel. Tepat jam empat shubuh Abel baru bisa tidur.
Di pagi hari Radit bangun dia melihat Abel sudah meringkuk di depan nya karena kedinginan.
Radit menaik kan suhu AC dan membenarkan tidur Abel.
__ADS_1
Abel membuka mata nya.
"Apa ini sudah pagi?" tanya Abel Deng suara serak mata masih setengah terbuka.
"Kamu tidur lah, saya akan siap-siap ke kantor." ucap Radit. Abel menahan tangan Radit.
"Jangan pergi.." ucap Abel.
"Saya Harus pergi ke kantor." ucap Radit. Abel menggeleng kan kepala nya. Dia memegang tangan Radit cukup erat agar dia tidak pergi.
Radit melepaskan tangan Abel. "Saya akan pulang cepat hari ini." ucap Radit.
"Kakak janji?" ucap Abel.
Radit mengangguk sambil tersenyum. Abel juga ikut tersenyum.
"Perut mu masih sakit?" tanya Radit. Abel mengangguk.
"Saya akan meminta dokter memeriksa nya." ucap Radit.
"Jangan.." ucap Abel.
"Harus di periksa agar tidak sakit lagi." ucap Radit.
"Nanti juga sembuh sendiri." ucap Abel.
"Baiklah." Radit turun dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi.
Tidak beberapa lama Radit keluar dari kamar mandi. Dia melihat Abel masih tidur.
Dia mengelus rambut Abel dan mencium kening Abel.
Radit turun ke bawah. "Selamat pagi tuan." sapa Bibik.
"Pagi bik." ucap Radit.
"Kenapa non Abel belum turun Tuan?" tanya Bibik karena tidak biasa'nya.
"Abel sakit perut, semalaman dia tidak bisa tidur. Biarkan saja dia tidur terlebih dahulu." ucap Radit.
"Oohh baik lah Tuan."
"Oh iya bik, jangan lupa bawakan jamu pereda sakit perut untuk Abel kalau sudah bangun." ucap Radit.
"Baik Tuan."
Radit melihat Mila di ruang tamu.
"Mila apa kamu tidak berangkat ke kampus?" tanya Radit.
"Ini mau berangkat Kak." ucap Mila.
"Ya udah sekalian sama saya." ucap Radit. Mila mengangguk tidak mau menolak.
Sesampainya di kampus Semua teman-teman Mila heboh karena Mila di antar oleh kakak ipar nya yang sedang terkenal itu.
Di tempat lain Novi sedang menunggu Radit.
__ADS_1
"Pak Direktur kenapa lama banget sih?" ucap Novi. Dia melihat mobil Radit masuk ke parkiran Perusahaan.
"Akhirnya Bapak datang juga." ucap Novi.
"Ada apa? kenapa kamu menunggu saya di luar?" tanya Radit.
"Tidak apa-apa Pak, saya hanya mau mengajak bapak sarapan." ajak Novi.
"Sarapan? saya sudah sarapan dari rumah." ucap Radit.
"Sedikit saja Pak, bapak harus mencoba nya karena ini masakan saya sendiri." ucap Novi.
Novi langsung menarik tangan Radit. Enjel melihat itu dia langsung mengambil foto mengirimkan nya kepada Abel.
"Lihat lah kelakuan Novi saat kamu sudah tidak bekerja di kantor, dia tidak berhenti mencari perhatian pak direktur." ucap Enjel kepada Abel.
Abel yang baru saja bangun melihat pesan dari Enjel, menghela nafas panjang, kesal, cemburu, menyesal dan takut menjadi campur aduk.
Radit baru selesai makan dengan Novi dia meminta Novi kembali ke ruangan nya agar dia bisa bekerja.
Namun Radit teringat istri nya.
"Apa dia sudah bangun?" Ucap Radit melihat jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi.
"Halo..." dia mencoba menelpon dan langsung di jawab.
"Humm??" Jawab Abel dengan sangat cuek.
"Apa perut kamu masih sakit? Kenapa kamu menjawab nya begitu?" tanya Radit.
"Aku sedang tidur, jangan ganggu aku, sebaik nya kakak bekerja saja." ucap Abel langsung mematikan sambungan telepon nya.
"Huff berani-beraninya dia mematikan sambungan telepon dengan sebelah pihak." ucap Radit.
Dia menelpon lagi namun tidak di jawab oleh Abel.
"Kata mamah kalau sedang menstruasi itu mood nya terkadang kurang baik, sebaik nya aku jangan mengganggu nya." ucap Radit.
Di siang hari nya...
"Halo mah..." Radit di telpon oleh mamah nya.
"Apa kabar kamu nak? Apa kamu sudah makan siang?" tanya Mamah nya.
"Belum Mah." jawab Radit.
"Loh kenapa? ini sudah hampir jam satu, apa istri mu tidak mengirim kan makanan ke kantor?" tanya Mamah nya.
"Hari ini tidak mah." ucap Radit.
"Loh kenapa? Bukan nya sekarang istri mu tidak bekerja jadi Sudah bisa mengurus kamu." ucap mamah nya.
"Abel sakit perut, aku rasa dia tidak bisa Masak." ucap Radit.
"Walaupun sakit perut yang namanya kewajiban harus di lakukan." ucap mamah nya.
"Tidak apa-apa kok mah, aku juga tidak keberatan untuk makan di luar." ucap Radit.
__ADS_1