Perjodohan Sejak Dini

Perjodohan Sejak Dini
Episode 148


__ADS_3

"Yah aku jadi curhat, sudah jangan membahas itu lagi, aku minta maaf, sebaiknya kamu mandi. Sebelum Abel datang." ucap Novi. Enjel memeluk Novi.


"Aku tau kok di posisi kamu seperti apa, aku berharap semoga masalah nya cepat selesai." ucap Enjel.


Novi mengangguk. Setelah itu Enjel masuk ke kamar mandi.


Saat sedang memanas kan bubur bel berbunyi.


"Itu pasti Abel." ucap Novi dia membuka pintu.


dan benar saja itu Abel. Abel kaget karena yang buka pintu adalah Novi.


Dia memastikan tidak salah kamar namun perasaan nya tidak salah.


"Kenapa kamu bisa di sini?" tanya Abel.


"Aku juga baru saja sampai. Aku berkunjung ke apartemen Enjel karena hari libur, masuk lah Enjel sedang mandi." ucap Novi.


Abel masuk. Enjel baru saja keluar dari kamar.


"Kamu sudah sampai?" ucap Enjel. Abel tersenyum sambil mengangguk.


"Duduk dulu." ucap Enjel.. Abel mengangguk mereka duduk bersama di ruang tamu.


Abel melihat Enjel dan Novi.


"Kamu pasti bingung kenapa Novi bisa di sin kan?" tanya Enjel..Abel mengangguk.


"Setau aku kalian tidak pernah dekat, kalian selalu saja ribut namun tiba-tiba saja sudah dekat." ucap Abel.. Enjel terkekeh.


"Aku tidak memiliki teman. Sekarang Enjel sudah menjadi teman ku." ucap Novi.


"Sejak kapan kita berteman? Kita masih musuhan karena kamu mencoba untuk merebut Pak Radit." ucap Enjel.


"Aku minta maaf, itu kan dulu bukan sekarang." ucap Novi.


Abel hanya diam saja. "Oh iya bubur sudah selesai ayo sarapan dulu." ajak Novi.


"Ayo Abel, kamu pasti belum makan kan?" tanya Enjel.


Mereka berjalan ke meja makan dan makan bubur bersama.


"Sekarang kamu ngomong kenapa kamu pagi-pagi sudah di sini? bukan nya hari ini pak Radit di rumah?" tanya Enjel.


Abel melihat ke arah Novi.


"Sudah abaikan saja. Dia juga datang ke sini karena ada masalah." ucap Enjel.


"Kemarin kak Radit janji akan menemani aku membeli baju yang berukuran besar karena badan ku semakin besar, semua pakaian ku sudah sangat sempit." ucap Abel.

__ADS_1


Enjel menghela nafas panjang. "Lagian kamu sih selama ini selalu membeli baju yang pas body." ucap Enjel.


"Bukan itu masalah nya. Sekarang aku kesal kepada dia karena tidak datang tepat waktu dan tidak menepati janji nya." ucap Abel.


"Jam empat sore aku menunggu nya, namun dia tidak datang, aku sangat kesal..Dia membuat Alasan kalau dia a Bekerja sepanjang hari di kantor, aku sangat benci kepada nya karena selalu mengutamakan pekerjaan nya." ucap Abel.


"Loh bukannya pak Radit...." Tiba-tiba Novi menginjak kaki Enjel.


"Kamu mau ngomong apa?" tanya Abel kepada Enjel.


"Huff hampir saja aku keceplosan." ucap Enjel dalam hati.


"Harap maklum saja Abel, lagian kamu sudah lama tau pak Radit selalu gila kerja." ucap Enjel.


"Tapi sesekali menyisihkan waktu nya untuk ku kenapa sih? Biasanya juga bisa." ucap Abel.


Novi dan Enjel diam.


"Abel... Kamu sedang hamil tidak baik untuk marah-marah atau memikirkan banyak hal yang berlebihan seperti ini." ucap Novi.


"Huff bagaimana aku tidak memikirkan nya, kak Radit akhir-akhir ini sangat berubah." ucap Abel.


"Itu hanya perasaan kamu saja." ucap Enjel.


Abel menoleh ke arah Enjel. "Ada apa sih dengan kamu enjel? Kenapa dari tadi kamu memeriksa handphone mu?" tanya Abel.


"Maaf-maaf,"


Enjel diam. "Kamu ada masalah apa? Kenapa Wajah mu terlihat sangat sedih?" tanya Abel.


Enjel menggeleng kan kepala nya.


"Pasti tentang pak Heri." ucap Novi.


"Huff ada apa lagi sih dengan Heri?" tanya Abel.


"Tidak ada, tidak perlu di bahas." ucap Enjel.


"Katakan saja, kami sudah mengatakan masalah kami, tinggal kamu " ucap Novi.


"Mungkin Heri marah kepada ku karena tidak mau di ajak ke kota nya bertemu keluarga nya dan juga aku tidak mengantarkan dia ke bandara." ucap Enjel.


"Lalu?" tanya mereka berdua.


"Aku menelpon nya tadi Malam namun yang menjawab perempuan, aku berbicara dengan nya namun dia sangat cuek dan mereka sedang makan malam di luar." ucap Enjel.


"Wahh parah sih pak Heri, sudah memiliki pacar namun tetap saja makan malam dengan perempuan yang ada di kota nya." ucap Novi.


Namun melihat wajah Enjel semakin sedih membuat dia menyesal sudah mengatakan itu.

__ADS_1


"Aku minta maaf, aku tidak


bermaksud demikian." ucap Novi.


"Dan sampai sekarang dia tidak menghubungi aku." ucap Enjel. Mereka bertiga menghela nafas panjang.


Tidak terasa bubur sudah habis, wajah mereka semua terlihat sangat lesu.


"Kita wanita yang sangat malang, bagaimana kalau kita menonton TV saja agar tidak memikirkan hal itu?" tanya Enjel. Mereka berjalan ke ruangan TV.


Sementara di rumah Radit sedang heboh menelpon istri nya. Abel tidak membawa handphone nya jadi dia bingung harus mencari bagaimana.


Karena dia baru bangun istri nya sudah tidak ada, Bibik juga tidak tau istri nya kemana.


"Huff ini semua salah ku, seharusnya aku harus menepati janji ku, dia mencari ke tempat yang mungkin di kunjungi istri nya, dia menelpon teman-teman Abel.


Terakhir dia menelpon Enjel.. Namun Enjel tidak bisa di hubungi karena dia sengaja membiarkan handphone nya habis baterai agar dia tidak perlu memeriksa notifikasi dari Heri.


"Huff film sudah habis, namun Mood ku belum kembali." ucap Novi. "Bagaimana dengan kalian."


"Sama! Aku semakin pusing." ucap Enjel.


"Bagaimana dengan kamu Abel?"


"Huff seperti nya anak ku merindukan papah nya, aku jadi kefikiran namun aku belum mau bertemu dengan nya." ucap Abel.


"Aku memiliki Ide." ucap Enjel.


Satu jam kemudian mereka baru saja sampai di mall.. Mereka hari ini Akan happy- happy dengan berbelanja bebas, menghabis uang untuk makanan.


Dan juga Enjel dan Novi mau minum, sementara mereka hanya mengijinkan Abel minum susu saja.


Seharian mereka menghabis kan waktu bersenang-senang sampai tidak terasa sudah malam saja.


"Huff aku sedikit lebih santai." ucap Novi. Abel mengangguk dia tersenyum dia melihat belanja an nya.


"Sebenarnya aku bisa berbelanja sendiri, namun aku ingin di temanin." ucap Abel.


Novi tersenyum. Namun tiba-tiba dia sedih semenjak Enjel antara sadar dan tidak sadar.


"Novi kamu ada masalah apa? aku bisa melihat Kalau kamu seperti nya memiliki masalah keluarga."


"Sulit untuk di jelaskan, aku hanya membenci orang tua ku." ucap Novi. Abel tersenyum dia menuang kan minum ke gelas Novi.


Tidak beberapa lama mereka kembali ke apartemen Enjel.


Novi tidak minum jadi dia bisa membawa mereka pulang.


Sampai di sana mereka langsung istirahat. Abel menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Aku tidak akan pulang hari ini agar kak Radit sadar apa yang dia lakukan." ucap Abel.


__ADS_2