
"Apa Non mau makan?" tanya Bibik. Abel menggeleng kan kepala nya.
'Aku masih belum berselera bik." ucap Abel.
"Harus sarapan non, setelah itu minum obat." ucap Bibik.
Abel harus tetap minum obat, akhirnya dia memaksa kan untuk makan sedikit.
Radit di kamar terbangun karena merasa di samping nya sudah tidak ada Abel.
"Kemana dia?" ucap Radit. Dia masih sangat mengantuk namun tidak melihat Abel dia jadi tidak ingin lanjut tidur.
Namun tiba-tiba Abel masuk ke kamar dia melihat Radit merabah tempat tidur yang di samping nya kosong.
Radit tampak gelisah. Radit sadar kalau Abel sudah di ruangan itu. Perasaan nya lega dan kembali lanjut tidur.
"Seperti nya kak Radit benar-benar mau istirahat hari ini, beberapa hari dia tidak memiliki istirahat yang cukup." batin Abel.
Tidak terasa hari semakin siang. Bibik menghampiri Abel di ruang tamu.
"Non apa Tuan belum bangun juga?" tanya Bibik.
"Seperti nya belum Bik, emang nya kenapa?" tanya Abel.
"Tuan belum sarapan dari pagi, ini waktu nya makan siang tapi tuan tidak kunjung bangun." ucap Bibik terlihat sangat khawatir.
"Ya udah bik tunggu sebenernya yah, aku akan membangun kan nya." ucap Abel.
Dia berjalan ke kamar. "Kak.. Bangun lah." ucap Abel.
Radit bergeliat dia melihat Abel. "Jangan ganggu saya, saya masih ngantuk." ucap Radit.
Abel menghela nafas panjang. "Ini sudah siang kak, Bibik meminta kakak bangun." ucap Abel. Radit membuka mata nya.
"Humm saya akan bangun, sebentar lagi." ucap Radit.
"Sekarang kak." ucap Abel. Radit menutup wajahnya dengan selimut.
"Buruan bangun kak." ucap Abel sambil menarik selimut .
Radit duduk. "Baiklah saya bangun." ucap Radit.
"Tidak biasanya kakak seperti ini, apa kakak sakit?" tanya Abel. Radit menggeleng kan kepala nya.
"Saya tidak sakit." ucap Radit.
"Lalu kenapa kakak tidur sampai tengah hari seperti ini?" tanya Abel.
Radit menggeleng kan kepala nya. "Apa kakak sengaja menghindari aku tentang tadi malam?" tanya Abel.
Radit terdiam sejenak.
"Berarti kakak benar menghindari aku kan?" tanya Abel. Radit menggeleng kan kepala nya.
__ADS_1
"Tidak.. Kamu jangan berfikir seperti itu, saya hanya ingin tidur saja." ucap Radit.
"Kakak tidak perlu berbohong." ucap Abel. Radit menatap Abel.
"Saya mandi dulu." ucap Radit. Abel mengangguk.
Tidak beberapa lama Radit keluar dari kamar mandi.
Dia memakai pakaian nya dan menata rambut nya yang sangat berantakan.
Setelah itu dia turun ke bawah. Dia melihat Abel dan Bibik menunggu di meja makan.
Tidak ada percakapan mereka makan bersama seperti biasa nya.
Setelah selesai Makan Abel langsung ke kamar, dia tidak ingin lama-lama dengan Radit di bawah.
"Tuan dengan non Abel berantem?" tanya Bibik. Radit menggeleng kan kepala nya.
"Kenapa tuan dengan Non saling diam-diam." ucap Bibik.
"Biasalah bik, kalau perempuan suka seperti itu." ucap Radit.
Bibik tersenyum. "Oh iya tuan hari ini saya melihat keponakan saya sebentar gak apa-apa kan?" tanya Bibik..
"Tidak apa-apa Bik, pergilah." ucap Radit. Bibik tersenyum tidak lupa mengucapkan terimakasih.
Di kamar Abel bermain handphone nya.
"Di rumah saja sangat membosankan sekali. Apa aku bisa betah kalau seperti ini?" ucap Abel.
"Kak Radit juga ikutan hilang." batin Abel.
Abel mencari Radit namun dia mendengar suara orang berbicara di ruangan kerja Radit.
Dia masuk Tampa mengetuk pintu.
Radit melihat Abel dia langsung memberikan isyarat agar tidak berbicara dan tidak mendekat.
Abel menunggu Radit setengah jam berbicara dengan klien nya.
Sangat serius sekali sehingga Abel tidak berani untuk mengganggu nya. Tidak beberapa lama akhirnya selesai.
"Apa kamu mencari Bibik?" tanya Radit. Abel mengangguk.
"Bibik pulang melihat keponakan nya yang sakit." ucap Radit.
"Oohh. Kok mendadak sih, Bibik juga gak ngomong." ucap Abel. "Mungkin baru saja mendapatkan informasi." ucap Radit.
"Aku belum memberikan uang kepada Bibik.. Bagaimana dia kembali ke rumah nya?" tanya Abel.
"Saya sudah memberikan nya, lain kali jangan sampai telat, kasian Bibik." ucap Radit.
Abel mengangguk. "Apa kamu sibuk?" tanya Radit.
__ADS_1
"Maksudnya?" tanya Abel.
"Saya mau minum kopi." ucap Radit.
"Bentar aku buatin dulu." ucap Abel. Dia langsung ke dapur membuat kopi, tidak beberapa lama kembali membawa kopi kepada Radit.
"Terimakasih banyak." ucap Radit. Abel mengangguk.
"Apa hari ini kakak ada waktu?" tanya Abel.
"Kenapa?" tanya Radit.
"Aku ingin belanja keperluan dapur dan rumah." ucap Abel. Radit baru ingat kalau sekarang belanja sudah tugas istri nya.
"Saya akan menyelesaikan pekerjaan saya dengan cepat." ucap Radit.
"Apa masih banyak, aku bisa membantu nya." ucap Abel. Radit melihat nya. Abel mendekati Radit.
"Humm ini masih banyak aku bisa membantu melakukan ini." ucap Abel.
Abel memegang komputer Radit. Sementara Radit memeriksa Surat-surat yang baru masuk.
Melihat Abel berdiri Radit menarik pinggang Abel untuk duduk di pangkuan nya karena di sana hanya ada satu kursi khusus untuk Radit.
"Tidak apa-apa kak, aku bisa berdiri." ucap Abel. Namun Radit menahan Abel ketika mau berdiri.
Abel akhirnya duduk dengan nyaman di paha Radit.
Satu jam kemudian pekerjaan Radit selesai.. Namun Abel tak kunjung selesai karena sangat banyak yang harus di sesuaikan dan di atur.
Radit mencium aroma Abel. "Apa yang kakak lakukan?" tanya Abel.
Radit menggeleng kan kepala nya. "Kamu sengaja kan menyemprot parfum yang kamu pakai ke pakaian saya sebelumnya?" tanya Radit.
Abel menggeleng kan kepala nya. "Aku tidak melakukan nya." ucap Abel.
"Jangan berbohong. Aroma kamu dengan parfum itu Sama." ucap Radit.
Abel menghela nafas panjang. "Iyah, aku melakukan nya." ucap Abel. "Kamu melakukan itu untuk apa?" tanya Radit.
"Tidak ada hanya iseng saja karena pakaian kakak bau apek." ucap Abel. Radit tersenyum tipis.
"Kamu melakukan itu agar orang bau perempuan bukan?" tanya Radit.
Abel menggeleng kan kepala nya.
"Kamu tidak perlu khawatir kalau saya di luar, tidak ada satu pun orang yang berani dekat dengan saya. Dan hanya kamu yang bisa mencium aroma saya dengan jarak dekat." ucap Radit.
"Novi! Aku yakin Novi bisa melakukan semua nya kepada kakak." ucap Abel.
"Novi sekretaris saya, setiap hari bersama saya Wajar saja jika dia bisa mencium nya lebih dekat." ucap Radit.
"Sudah lah aku tidak mau membahas nya." ucap Abel.
__ADS_1
Dia takut kalau melanjutkan membahas itu mereka akan salah paham dan saling mendiamkan seperti tadi malam.