
"Halo mah." ."Halo nak."
"Mamah di Mana?"
"Nih Mamah lagi sama papah kamu di luar."
"Oohh aku mau nanya Mamah, Kapan Mamah ke sini?"
"Mungkin Minggu depan, ada apa nak?"
"Enggak kok mah, hanya bertanya saja." ucap Abel.
"Oohh, ya udah nanti mamah telpon lagi yah, nih Mamah lagi ada teman." ucap Mamah nya.
"Iyah mah." panggilan telepon langsung mati. Abel mengelus perutnya. "Ada apa sih dengan perut ku?" batin Abel.
Dia berbaring di kasur agar bisa mendingan, namun ternyata sama saja. Tetap saja pusing dan mual.
Mendengar Farel marah membuat nya kesal.
Emosi nya tidak bisa di kontrol sama sekali.
Radit baru saja pulang. Dia langsung ke kamar melihat istrinya, dia melihat Farel menangis di tempat tidur. Abel entah di mana.
Radit langsung menggendong Farel. "Sayang.. Kamu kenapa?" tanya Radit dengan pelan kepada Abel yang sedang duduk di balkon.
Abel menoleh ke arah Abel. Dia berdiri tiba-tiba menangis dan memeluk suaminya.
"Kamu kenapa sayang? Kok tiba-tiba nangis?" tanya Radit heran.
Abel menangis di pelukan Radit. Begitu juga dengan Farel yang masih terisak-isak.
"Aku minta maaf.. Aku tidak tau apa yang terjadi kepada ku, aku sedang tidak ingin di ganggu." ucap Abel.
"Baiklah-baiklah saya mengerti. sudah jangan menangis. Besok saya akan meminta orang tua Farel menjemput dia." ucap Radit.
Abel mengangguk. Radit melihat istrinya yang terlihat sangat aneh sekali. Dia heran kenapa istri nya seperti itu.
Malam ini Radit tidak tidur bersama istri nya dia tidur dengan Farel di kamar sebelah. Abel benar-benar tidak bisa di ganggu.
Keesokan harinya Radit datang mengunjungi orang tua nya.
"Mah apa kabar?" tanya Radit. "Baik nak, kamu datang kok gak ngabarin mamah?" tanya mamah nya.
"Aku minta maaf mah, aku ke sini hanya melihat keadaan kalian saja."
"Kamu datang dengan Farel saja?" tanya papah nya. "Iyah Pah "
"Istri kamu mana? Kok gak di ajak?" tanya papah nya.
"Aku sekalian mau ngasih tau sama Mamah dan papah kalau Abel sakit." ucap Radit.
"Sakit? Sakit apa Abel?" tanya mereka khawatir.
__ADS_1
"Aku juga tidak tau pasti sakit apa Mah, Pah. Abel setiap hari mual-mual, gak enak badan dan tidak bisa mengontrol emosi nya sehingga Farel juga kena imbasnya." ucap Radit.
"Mual-mual?" tanya Mamah nya. "Abel juga tidak bisa mencium aroma yang tidak enak. Aroma yang menyengat." ucap Radit.
"Apa kamu sudah memeriksa ke dokter?" tanya mamah nya.
"Belum Mah, Abel tidak mau."
"Periksa ke dokter saja nak, itu tanda-tanda hamil biasanya." ucap mamah nya.
"Hamil?!" Papah nya dan Radit sama-sama kaget.
Mamah nya mengangguk.
"Namun mamah tidak tau pasti nya, kamu tanyakan dulu pada istri mu apa kah dia telat?" tanya Mamah nya.
Radit mencoba mengingat kapan terakhir Abel dapet. Dan bulan ini belum dapat padahal sudah lewat.
"Seingat ku bulan ini dia belum dapet mah." ucap Radit.
"Nah siapa tau itu adalah tanda-tanda." ucap Mamah nya.
"Iyah nak, secepat nya bawa ke dokter." ucap papah nya.
Radit langsung pulang dia kembali ke rumah.
"Loh tuan kenapa sangat cepat pulang?" tanya Bibik.
"Bik tolong jaga Farel yah, saya akan membawa Abel ke rumah sakit." ucap Radit.
"Sayang..." Panggil Radit.
"Humm?"
"Kita ke rumah sakit yah, kita harus memeriksa keadaan kamu." ucap Radit.
"Enggak mau kak, aku gak mau." Ucap Abel. Radit langsung menggendong istri nya.
"Jangan paksa aku kak."
Radit tidak mengatakan apapun dia membawa Abel ke dalam mobil.
"Apa kami boleh ikut Tuan?" tanya Bibik.. Karena kalau Farel tinggal dia pasti nangis.
Radit menginyakan.
"Aku tidak mau ke rumah sakit kak." ucap Abel. "Sayang... Kita harus memeriksa keadaan kamu, saya takut terjadi sesuatu sama kamu." ucap Radit.
Abel diam. Tidak beberapa lama akhirnya sampai di rumah sakit.. Abel di periksa langsung oleh dokter.
Setelah selesai mereka menunggu hasil nya di ruang tunggu.
"Pak Radit, Bu Abel silahkan ikut saya." ucap dokter.
__ADS_1
Radit mengangguk.
"Bik tunggu di sini yah."
Mereka masuk ke ruangan dokter.
"Selamat yah Pak, Bu. Bu Abel mengandung, usia kandungan nya sudah satu minggu." ucap dokter.
Radit terdiam sejenak seperti tidak menyangka. Begitu juga dengan Abel.
Mereka berdua saling menatap satu sama lain.
"Ini tidak bercanda kan dok?"
Dokter memberikan hasil pemeriksaan nya.
Setelah di baca dengan jelas oleh Radit dia langsung memeluk istrinya.
"Kalau begitu saya permisi dulu, masih ada pasien yang harus saya periksa." ucap dokter.
Dokter pun pergi.
Radit tidak melepaskan pelukannya ternyata dia menangis. Abel menghapus air mata suami nya.
"Saya akan menjadi papah?" tanya Radit. Abel tersenyum sambil mengangguk.
Radit tidak berhenti menangis. Dia melihat perut Abel.
"Di dalam perut kamu anak saya?" tanya Radit.. Abel mengangguk lagi.
"Terimakasih ya Allah." Radit mencium kening pipi dan juga bibir Abel tidak lupa mengucapkan terimakasih.
"Aku sudah curiga sebelum nya, namun aku tidak ingin terlalu berharap dan ternyata tuhan sangat baik." batin Abel.
Mereka keluar dari sana. Bibik melihat wajah mereka berdua tegang, Radit kelihatan baru saja menangis membuat Bibik dan kedua orang tua Radit penasaran dan juga khawatir.
"Bagaimana Radit? Apa kata dokter?" tanya mamah nya.. Radit memberikan hasil pemeriksaan nya.
Setelah di baca mereka terdiam sejenak. "Abel hamil?" tanya mamah nya. Radit tersenyum sambil mengangguk.
Mamah nya langsung memeluk Abel. Mereka terlihat sangat senang sekali. Itu seperti Hadiah besar untuk kedua orang tua nya.
Abel melihat mereka tersenyum dia juga ikut tersenyum walaupun sebenarnya dia sudah tidak tahan lama-lama berdiri.
"Abel... Abel kamu baik-baik aja kan?" tanya Radit karena tiba-tiba Abel lemas lagi.
Abel mencari kamar mandi dan dia muntah lagi di sana.
Cukup lama di kamar mandi. Radit menemui dokter nya. Dia menanyakan apa yang terjadi kepada istri nya dia marah-marah karena mual istri nya semakin parah.
"Pak ini hal biasa untuk ibu-ibu Hamil muda." ucap dokter. "Saya tidak mau tau, saya ingin istri saya sembuh. Jangan sampai kesehatan nya terancam dan juga Calon anak saya kenapa-kenapa." ucap Radit.
"Radit.. hus jangan ribut-ribut, malu di lihat orang. Ini hal biasa bagi perempuan yang hamil, apalagi anak pertama." ucap Mamah nya.
__ADS_1
"Tapi mah."
"Dulu mamah waktu ngandung kamu jauh lebih parah." ucap papah nya langsung.