
“Apa yang haru aku lakukan?” Batin Abel.
Dia memberikan minun namun Radit tidak mau, obat juga tidak mau. Mau masak abel bingung harus masak apa. Akhir nya dia mencoba masak bubur untuk mpertama kali nya.
“Semoga saja ini enak, aku tidak yakin dengan masakan ku sendiri, karena aku tidak pernah masak. Untung saja ada tutorial di Youtobe.” Ucap Abel.
Dia membawa ke kamar.
“Kak ayo bangun dulu makan, setelah ini kakak harus makan obat, jangan sampai semakin parah,” ucap Abel.
“Saya tidak berselera mau makan, kamu makan lah.” Ucap Radit.
“Aku sudah bersusah payah untuk memasak bubur, ayo makan dulu kak.” Ucap Abel.
Radit menggeleng kan kepala nya dia tidak ingin makan sama sekali karena tidak berselera.
"Kak bangun dulu, kalau kakak tidak makan mana bisa sembuh." ucap Abel. Radit Menatap wajah Abel. Abel langsung membantu nya duduk.
Abel berusaha mengangkat badan Radit.
"Nih makan dulu." ucap Abel memberikan mangkuk bubur tersebut.
"Ya udah sini aku suapin saja." Abel menyuapi Radit.
"Apakah enak?" tanya Abel. Radit menggeleng kan kepala nya.
"Tidak ada rasa nya." ucap Radit. Abel langsung mencicipi nya.
"Bagi ku ini sudah pas, bahkan sudah sedikit asin." ucap Abel. Radit hanya diam saja.
"Mungkin karena sakit kakak jadi merasakan semua nya hambar, tapi kakak harus menghabiskan nya agar cepat sembuh."
Tidak begitu banyak habis Radit sudah tidak ingin lanjut makan.
"Ayo minum obat dulu." Abel seperti merawat anak kecil. Radit awal nya tidak mau Abel terpaksa harus bersabar membujuk nya dulu.
Akhirnya Radit mau minum obat. "Kakak lanjut tidur yah, aku mau menyimpan ini semua ke luar." ucap Abel namun tangan nya langsung di tahan oleh Radit.
Abel menghela nafas panjang. "Baiklah aku tidak akan pergi, tapi aku ambil baju dulu untuk kakak pakai." ucap Abel.
Radit melepaskan tangan Abel dia berdiri dan mengambil pakaian untuk Radit.
Setelah selesai memakai baju dia kembali duduk di pinggir kasur.
Radit memeluk pinggang nya dia tertidur di pangkuan Abel.
Abel hanya bisa diam, walaupun sedikit terkejut dan terasa aneh namun dia harus mengerti kalau calon suami nya sedang sakit.
Dia mengambil handphone Radit yang baru saja berbunyi dia melihat dari Mamah nya.
__ADS_1
"Kak.. ada yang menelpon." ucap Abel.
Tidak ada respon dari Radit. akhirnya Abel menjawab nya.
"Halo Tante."
"Loh kok kamu yang jawab telpon nya Abel? Kamu lagi sama Radit kan?" tanya Mamah Radit.
"Iyah Tante, dari kemarin aku sudah di sini untuk merawat kak Radit yang sakit." ucap Abel.
"Syukurlah kamu di situ, jadi Tante dan Om tidak perlu datang ke sana lagi." ucap calon mertua nya. Abel tersenyum.
"Sekarang bagaimana keadaan Radit? Apa dia masih demam?"
"Sudah lebih baik kok Tante, sekarang kak Radit lagi tidur." ucap Abel.
Abel mengarahkan Kamera ke arah Radit yang tidur di pangkuan nya.
"Bagus deh kalau begitu, kamu jagain Radit yah, hari ini dia harus sembuh karena besok sudah harus siap-siap untuk akad." ucap Calon mertua nya.
"Iyah Tante."
Panggilan telepon pun mati.
"Radit dan Abel seperti nya sudah senja dekat pah, semoga saja mereka bisa cepat saling mencintai satu sama lain." ucap Mamah Radit kepada suami nya yang duduk di ruang tamu.
"Iyah Mah. Papah juga berharap demikian."
Dia memeriksa suhu badan Radit berharap sudah berkurang panas nya.
Hanya sedikit saja, tetap saja terasa hangat.
Tidak beberapa lama dia ketiduran sambil duduk karena tidak berani bergerak takut membangun kan Radit.
Radit merasa haus lagi dia terbangun. Dia baru sadar kalau ternyata dia tertidur di pangkuan Abel.
Radit Menatap wajah Abel yang ketiduran sambil Duduk.
Dia berusaha untuk duduk namun pergerakan nya membuat Abel terbangun. "Ada apa kak? Apa kakak mau minum lagi?" tanya Abel dia langsung mengambil minum dan memberikan nya kepada Radit.
Radit memerhatikan Abel menguap terus menerus, wajah ny juga terlihat sangat lesu.
"Kalau kamu mengantuk tidur lah." ucap Radit. Namun tidak beberapa lama Abel langsung tidur.
Radit menyelimuti Abel, "Ini sangat aneh, tidak pernah saya bisa sehat secepat ini sebelum nya, sekarang saya merasa sudah lebih baik." batin Radit.
Dia membuka handphone nya dan mengabari Novi kalau dia tidak bisa masuk bekerja hari ini karena sakit.
Novi mengerti. Dan kebetulan tiga hari kedepan nya jadwal Radit sudah di kosong kan.
__ADS_1
Di siang hari nya..
Abel bangun dia melihat jam dinding.
"Ya Ampun aku kok bisa ketiduran sih?" ucap nya dia tidak melihat Radit di samping nya.
"Kak Radit kemana?" dia mendengar suara Air di kamar mandi.
"Jangan bilang dia lagi mandi?" ucap nya panik.
"Tok!! Tok!! Tok!!"
"Ada apa?" tanya Radit membuka pintu. Abel tambah kaget karena Radit hanya menggunakan lilitan Handuk di pinggang.
"Kenapa kakak mandi? Kakak tidak boleh mandi dulu sebelum sembuh." ucap Abel.
"Badan saya sudah terasa sangat lengket sekali." ucap Radit.
"Tapi tetap saja Kakak tidak boleh mandi, kalau seperti ini kakak tidak akan sembuh." ucap Abel sambil memeriksa suhu badan Radit.
Dia kurang sampai sehingga harus jinjit.
Abel menatap wajah Radit, begitu juga dengan Radit mata mereka bertemu.
"Ternyata perempuan keras kepala ini sangat perhatian dan cukup baik merawat orang sakit." batin Radit.
"Kak Radit ganteng banget sih, huff walaupun ganteng tapi tetap saja dia sangat menjengkelkan." ucap Abel dalam hati nya.
"Sampai kapan kamu akan memegang pinggang saya?" tanya Radit karena Abel menahan diri nya dengan memegang pinggang Radit.
"Saya sudah tidak sakit lagi. Kamu tidak perlu modus." ucap Radit.
"Siapa yang modus? Aku hanya memeriksa nya." ucap Abel menurunkan tangan nya dari kening dan pinggang Radit.
Wajah Abel memerah. Radit hanya senyum-senyum.
"Badan kakak masih terasa hangat, sebaik nya kakak segera memakai pakaian, aku akan memesan makanan untuk makan siang." ucap Abel.
"Memesan makanan dari luar? saya tidak mau. Saya mau makanan yang di masak di rumah." ucap Radit.
"Tapi Bibik sedang tidak di rumah." ucap Abel.
"Kamu!" ucap Radit menunjuk Abel. Abel terdiam sejenak.
"Dua hari lagi kamu sudah resmi menjadi istri saya, anggap saja kamu belajar menjadi istri yang baik.." ucap Radit.
Abel terdiam. "Kamu jangan lupa kalau kamu tidak ada menulis di perjanjian itu kalau tidak perlu mengurus suami." ucap Radit.
"Huff aku menulis nya di sana." ucap Abel.
__ADS_1
"Tidak ada, kamu hanya menulis tidak melayani suami pada malam hari bukan?" ucap Radit.