Perjodohan Sejak Dini

Perjodohan Sejak Dini
Episode 58


__ADS_3

"Aku tidak terima dengan kata-kata mereka semua. Semua nya menyudut kan aku." ucap Abel.


"Emang apa salah nya perempuan biasa seperti ku ini menjadi istri dari orang yang luar biasa seperti kakak? Apa itu salah?" tanya Abel.


"Dan lagi kalau aku hanya karyawan biasa tidak boleh berhubungan dengan direktur? Apa harus yang berjabatan tinggi dan bersekolah tinggi?" ucap Abel.


"Kalau begitu kenapa kakak menikahi ku? Kenapa kakak tidak memilih saja perempuan yang berpendidikan orang kaya dan juga cantik." ucap Abel dengan sangat kesal.


Seketika dia lupa kalau dia lagi sakit.


"Apa kamu rela saya dengan orang lain?" tanya Radit. Abel menggeleng kan kepala nya.


"Humm maksud ku, aku tidak suka." ucap Abel.


"Tidak suka?" tanya Radit. Abel gugup dia jadi salah jawab karena emosi, sekarang dia tidak tau harus menjawab apa.


"Kamu tidak suka saya bersama orang lain, kamu cemburu kan?" tanya Radit.


"Enggak, ngapain aku cemburu." ucap Abel. Radit tersenyum.


"Sudah jangan membahas itu lagi, aku mau tidur jangan ganggu aku." ucap Abel.


"Saya ingin tau apa mimpi kamu tadi malam." ucap Radit.


"Maksudnya?" tanya Abel.


"Kamu mengigau tadi malam, kamu bilang kamu cemburu kepada perempuan yang dekat kepada saya." ucap Radit.


"Aku tidak ada mimpi apa-apa, mungkin hanya mengigau saja." ucap Abel.


"Huff sudah lah jangan membahas yang tidak-tidak." ucap Abel.


"Kamu gengsi banget." ucap Radit. "Siapa yang gengsi? Aku tidak gengsi sama sekali." ucap Abel.


"Yakin?" tanya Radit. Abel mengangguk.


"Kakak geseran ke sana, jangan terlalu dekat dengan ku nanti sakit ku bisa beralih kepada kakak." ucap Abel.


"Tidak apa-apa." ucap Radit semakin mendekati Abel dan memeluk nya.


"Kak Radit! Apa yang kakak lakukan?" ucap Abel Deng kesal sambil menepis tangan Radit.


"Kamu jahat banget sih! biasanya setiap malam kita berpelukan." ucap Radit. Abel menggeleng kan kepala nya.


"Aku tidak mau, jangan sentuh aku." ucap Abel. Radit terdiam.


Abel membelakangi Radit.


Radit berusaha untuk diam tidak menggangu Abel namun tidak bisa.

__ADS_1


Dia mau memeluk Abel namun langsung di tahan oleh Abel.


"Bisa gak sih jangan membuat aku kesal kak!" ucap Abel marah dan melemparkan tangan Radit.


"Kalau kakak mengganggu ku lagi, aku akan tidur di kamar Mila." ucap Abel mengancam suami nya.


"Saya hanya ingin memeluk kamu. Saya tidak bisa tidur." ucap Radit.


"Peluk saja bantal guling itu." ucap Abel sambil memberikan bantal guling.


"Tapi saya nyaman memeluk kamu." ucap Radit. Abel menggeleng kan kepala nya.


Radit mau memeluk nya lagi namun Abel sudah sangat kesal, dia menatap marah kepada Radit.


Radit langsung terdiam tidak berani mengganggu istri nya lagi.


"Baiklah saya tidak akan menggangu kamu lagi, saya minta maaf." ucap Radit.


Beberapa menit Radit anteng, diam tidak menganggu namun tidak beberapa lama dia gelisah, bolak balik berusaha untuk tidur namun tidak bisa.


"Kak Radit! Apa sih yang kakak lakukan? aku tidak bisa tidur karena Kakak." ucap Abel.


Radit langsung diam. Setelah Abel marah Radit tidak lagi bergerak-gerak. Abel menoleh ke arah Radit dan ternyata dia sudah tidur.


"Maafin aku kak, aku tidak bisa mengontrol emosi ku. Aku tidak tau harus marah ke siapa. Aku minta maaf karena ini aku jadi marah-marah sama kakak." ucap Abel.


Seperti biasa Mila akan mengetuk pintu.


"Nih ambil lah." ucap Radit membuka pintu. Mila Mengambil uang dari Radit tidak lupa mengucapkan terimakasih.


"Bagaimana keadaan kak Abel?" tanya Mila.


"Masih demam. Apa kamu hari ini bisa cepat pulang?" tanya Radit.


"Humm kebetulan aku hanya sebentar di kampus, jadi aku bisa merawat kak Abel." ucap Mila.


Radit mengangguk. Mila pun pamitan kepada Radit.


Radit melihat handphone nya yang berdering.


"Halo mah."


"Halo Radit.. Bagaimana keadaan istri kamu?" tanya Bu Vina.


"Masih demam mah," ucap Radit.


"Ya udah mamah datang ke sana yah." ucap Bu Vina.


"Tidak perlu mah, dari sana ke sini sangat jauh, mamah sudah capek perjalanan jauh tadi malam, mamah sama papah istirahat lah." ucap Radit.

__ADS_1


"Tapi."


"Tidak apa-apa mah. Jangan sampai mamah sama papah juga ikut sakit karena kecapekan." ucap Radit.


"Ya udah nak kalau begitu. Semoga Abel cepat sembuh." ucap mamah nya. Radit mengangguk.


"Ya udah kalau begitu aku siap-siap ke kantor dulu yah mah." ucap Radit. Telpon pun langsung mati.


"Mamah yah kak?" tanya Abel yang ternyata sudah bangun. Radit mengangguk.


"Apa mamah marah karena tadi malam kita tidak bisa datang?" tanya Abel.


Radit menggeleng kan kepala nya. "Tidak kok, kamu tidak perlu khawatir. Kamu hari ini istirahat yah." ucap Radit.


"Apa kakak akan ke kantor?" tanya Abel. Radit mengangguk.


"Kamu tau sendiri saya belum bisa menyelesaikan pekerjaan saya kemarin, nunggu hari ini sudah selesai." ucap Radit.


Abel terdiam. "Saya minta maaf karena kamu sakit seperti ini saya tidak bisa di rumah." ucap Radit. Abel menggeleng kan kepala nya.


"Tidak apa-apa, aku tidak mempermasalahkan itu. Aku hanya mau kakak mengurus surat pengunduran diri ku." ucap Abel.


"Maksud kamu?" tanya Radit.


"Aku tidak sanggup lagi ke perusahaan. Orang-orang akan tetap berfikir yang aneh-aneh. Aku harus menghindari hal itu." ucap Abel.


"Ternyata masalah ini ada baik nya juga, Abel akhirnya mengundurkan diri." batin Radit.


"Baiklah saya akan mengurus nya untuk kamu." ucap Radit.


"Satu lagi tidak perlu bawa ke sini, langsung tanda tangan saja." ucap Abel. Radit mengangguk.


"Huff seperti nya kak Radit akan sangat senang aku mengundurkan diri. Dia akan lebih leluasa berhubungan dengan Novi." batin Abel.


"Tapi aku tidak akan diam saja, aku akan terus memata-matai mereka." batin Abel.


Radit berangkat ke kantor. Abel keluar dari kamar nya.


"Non.. Apa yang non lakukan? Kenapa Non bekerja padahal masih sakit." ucap Bibik kepada Abel yang di ruang tamu sambil membuka laptop nya.


"Aku gak kerja bik, aku sudah mengundurkan diri dari perusahaan kak Radit. Sekarang aku mau mencari lowongan pekerjaan." ucap Abel.


"Bukan kah lebih baik non di rumah saja tidak perlu kerja." ucap Bibik. Abel menggeleng kan kepala nya.


"Aku tidak bisa kalau tidak kerja Bik." ucap Abel. Bibik menghela nafas panjang.


"Non harus lebih fokus kepada rumah tangga Non dengan Tuan. Kalau hubungan kalian sudah lebih baik baru non bisa bekerja." ucap Bibik.


Abel terdiam sejenak. "Mau sampai kapan Non dengan tuan seperti ini?" tanya Bibik.

__ADS_1


__ADS_2