
"Abel... Abel kamu baik-baik aja kan?" tanya Radit karena tiba-tiba Abel lemas lagi.
Abel mencari kamar mandi dan dia muntah lagi di sana.
Cukup lama di kamar mandi. Radit menemui dokter nya. Dia menanyakan apa yang terjadi kepada istri nya dia marah-marah karena mual istri nya semakin parah.
"Pak ini hal biasa untuk ibu-ibu Hamil muda." ucap dokter. "Saya tidak mau tau, saya ingin istri saya sembuh. Jangan sampai kesehatan nya terancam dan juga Calon anak saya kenapa-kenapa." ucap Radit.
"Radit.. hus jangan ribut-ribut, malu di lihat orang. Ini hal biasa bagi perempuan yang hamil, apalagi anak pertama." ucap Mamah nya.
"Tapi mah."
"Dulu mamah waktu ngandung kamu jauh lebih parah." ucap papah nya langsung.
Radit tidak bisa berkata-kata dia membawa istri pulang ke rumah.
Di ruang tamu Radit mengasuh Farel, sementara orang tua nya menjaga Abel di kamar.
Tidak beberapa lama orang tua Abel datang.
"Abel kamu benar-benar hamil nak?" tanya Mamah nya.
"Iyah mah." ucap Abel.
"Alhamdulillah ya Allah. Terimakasih atas rejeki mu."
"Kita akan segera mempunyai Cucu." ucap mamah mertua nya.. Mereka berpelukan membuat Abel yang melihat nya heran.
"Aku tidak menyangka mereka benar-benar sangat bahagia dengan kehamilan ku ini." batin Abel.
Setelah beberapa lama akhirnya mereka semua pulang meninggalkan Abel agar dia istirahat.
Radit berbicara dengan ayah mertua serta papah nya. Cukup asik sehingga tidak terasa sudah jam delapan malam. Mereka harus pulang karena besok ada kegiatan masing-masing.
Sebenarnya mereka sangat ingin di sana, namun tidak mungkin mereka menginap di sana.
Radit masuk ke kamar membawa Farel.
"Sayang.." ucap Radit melihat Abel berbaring. Abel menoleh ke arah mereka berdua.
"Mamah.. Mamah..." ucap Farel, namun Radit menahan nya agar tidak berlari kepada Abel.
"Sudah tidak apa-apa kak, lepas kan saja." ucap Abel.
"Kamu yakin? Bagaimana kalau dia mengganggu kamu? Istirahat saja kami akan tidur di kamar sebelah." ucap Diki.
Abel Menatap Radit. "Kenapa harus tidur di kamar sebelah? Kakak tidak mau tidur dengan ku lagi?" tanya Abel.
__ADS_1
"Bukan seperti itu, tapi..." "Tapi apa?" tanya Abel.
Mengingat kata-kata orang tua nya untuk mengikuti saja apa kata Abel karena itu bawaan bayi nya.
"Baiklah saya akan tidur di sini." ucap Radit. Farel dan turun kan dan Farel segera berlari kepada Abel.
"Kamu sudah makan sayang? Kenapa kamu sangat bau keringat? Bau kamu tidak sedap." ucap Abel.
"Dia belum mandi kak?" tanya Abel.
"Sudah mandi kok, mungkin dia berkeringat saat bermain." ucap Radit.
Abel Mengambil minyak wangi dan juga parfum yang dia suka. Dia menyemprotkan kepada Farel dan juga suami nya.
"Kalau begini kalian berdua sangat wangi." ucap Abel. Radit benar-benar sangat aneh dengan Abel.
"Kak.." panggil Abel. Radit yang sedang menidurkan Farel menoleh ke arah Abel.
"Humm aku lapar."
"Kalau begitu saya akan mengambil kan makanan di dapur."
Abel menahan suami nya. "Tapi aku gak mau itu. Aku sangat bosan." ucap Abel.
"Kamu mau apa? saya akan membeli nya."
"Kamu mau saya memasak? ini sudah malam. Bagaimana kalau kita pesan dari luar saja?" tanya Radit.
Abel menggeleng kan kepala nya. "Aku mau kakak yang masak." ucap Abel.
Radit melihat jam, dia melihat Farel belum juga bangun.
"Pesan dari luar aja yah sayang." ucap Radit mencoba membujuk nya.
"Enggak mau! Aku mau kakak yang masak. Kata nya kalau kakak tidak menuruti apa yang aku minta anak yang ada di kandungan ku bisa ileran." ucap Abel.
Radit menghela nafas panjang. "Baiklah sayang. Kamu tunggu di sini yah." ucap Radit.
Abel tersenyum sambil mengangguk. "Bagaimana dengan Farel?"
"Gak apa-apa biar aku yang jaga in." ucap Abel.
Radit keluar dia berjalan ke dapur. Dia menyiapkan semua apa yang akan di masak.
"Ini sangat konyol sekali, seumur-umur ini aku baru Memasak, aku tidak jamin aku bisa memasak dengan baik. Tapi tidak apa-apa ini demi penerus ku." ucap Radit menyemangati diri nya sendiri.
Belum masak dia mendengar suara Abel dan Farel turun kebawah.
__ADS_1
"Abel... kamu jangan menggendong Farel, kamu tidak boleh mengangkat yang berat-berat." ucap Radit langsung mengambil Farel dari gendongan nya.
"Gak apa-apa kak. Aku bisa dan aku sudah biasa." ucap Abel. Radit menggeleng kan kepala nya. "Tidak boleh, kamu tidak bisa melakukan apapun yang membuat kandungan kamu kenapa-kenapa." ucap Radit.
Abel tiba-tiba tersenyum.
"Bagus deh kalau begitu, aku jadi bisa bersantai bagikan ratu." ucap Abel dalam hati.
"Bau apa ini?" ucap Abel.
Radit baru ingat kalau dia sedang memasak dia berlari ke dapur dan untung saja masih bisa di selamatkan.
Tidak beberapa lama akhirnya selesai. "Wahh akhirnya jadi, ini tidak pernah terfikir bagi ku bisa membuat ini." batin Radit.
Dia tidak lupa mencicipi Rasa nya. "Tidak begitu menyengat, tidak begitu asin, semua nya pas dan juga ini cukup lembek." ucap Radit.
"Makanan sudah datang." ucap Radit meletakkan di depan istri nya.
"Wahh kelihatan nya enak banget." ucap Abel. Radit memberikan piring. "Kakak makan juga." ucap Abel memberikan nasi ke piring Radit.
Sebenarnya Radit tidak mau makan lagi karena harus menjaga pola makan agar tubuh nya tetap sehat.
Abel mencicipi nya satu suap namun rasa nya mau muntah. Dia memaksa kan diri untuk menghabiskan satu sendok itu namun tidak bisa.
Dia berlari ke kamar mandi. Radit dan Farel kaget. Dia langsung menyusul ke kamar mandi.
"Kamu tidak apa-apa?"
"Aku sungguh ingin memakannya, tapi aku tidak mau lagi." ucap Abel.
Radit hanya bisa diam saja, dia membawa Abel ke kamar.
Radit berusaha menenangkan Abel agar cepat tidur. Sampai tidak terasa Abel tidur di pelukan Radit..
Radit melihat Farel tidur di bawah kaki mereka.
"Ya ampun nak." ucap Farel. dia memindahkan Farel ke tempat tidur.
"Huff ternyata mengasuh sambil menjaga wanita hamil muda sulit juga." ucap Radit. Dia berbaring di samping Abel.
Abel tidak mau melepaskan pelukannya dari Radit sampai dia benar-benar tidur dengan nyenyak.
Keesokan harinya di pagi hari lagi-lagi Radit kaget karena Abel turun dari kasur dan berlari ke kamar mandi.
Radit mengikuti nya menggosok punggung Abel. "Apa kamu tidak minum obat dari dokter?" tanya Radit setelah membawa Abel ke kasur.
"Aku tidak suka kak, rasanya sangat pahit sekali." ucap Abel.
__ADS_1