Perjodohan Sejak Dini

Perjodohan Sejak Dini
Episode 154


__ADS_3

"Saya hanya meminta jatah tiga kali seminggu, apa susahnya?' ucap Radit.


"Pelan-pelan kak, bagaimana kalau orang lain mendengar nya?" ucap Abel.


Radit menghela nafas panjang. Dia memegang tangan istrinya.


"Katakan apa yang kamu inginkan hari ini, saya akan membawa nya pulang." ucap Radit.


"Tidak ada, aku hanya ingin kakak cepat pulang." ucap Abel.


Radit tersenyum sambil mengangguk.


"Ekhem-ekhem..." Tiba-tiba Novi lewat.. Abel langsung melepaskan tangan nya namun di tahan oleh Radit.


"Sangat memalukan. Kakak tidak seperti biasanya." ucap Abel. Radit tersenyum.


"Baiklah kalau begitu kamu pulang hati-hati, terimakasih bekal nya sayang." ucap Radit mencium kening istrinya.


Abel mengangguk dia keluar dari perusahaan suami nya.


"Gak nyangka banget pak Radit akan seromantis itu sama Bu Abel." ucap orang-orang kantor. Kebetulan Novi lewat.


"Berbeda banget sama yang dulu." ucap teman nya lagi.


"Iyah yang dulu Pak Radit tidak pernah tersenyum, pak Radit selalu saja marah tampa sebab." ucap teman nya lagi.


"Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Novi yang baru saja lewat.


"Eh ibu, maaf Bu, kami hanya berbincang biasa kok."


"Saya mendengar nya. "Saya mau kalian jangan pernah membahas ini lagi." ucap Novi.


"Iyah Bu kami minta maaf."


"Jangan sampai saya mendengar nya lagi karena saya tidak segan-segan melaporkan kalian kepada pak Radit." ancam Novi.


"Iyah Bu, kami minta maaf."


"Sudah sana kembali bekerja." ucap Novi. Mereka langsung berpencar dan melanjutkan pekerjaannya.


"Pak Radit tidak tau tempat saja, sudah jelas orang di perusahaan ini mulutnya sangat ember." ucap Novi dalam hati.


"Tapi sebenarnya aku juga heran kepada Pak Radit karena terlihat sangat bucin kepada Abel.. Semoga saja hubungan mereka tetap sama. Langgeng selama-lamanya." ucap Novi.


"Dan tentang mbak Tania, semoga saja dia tidak menghancurkan kebahagiaan pak Radit dengan Abel." ucap Novi.


"Novi tolong siap kan ini untuk saya." ucap Radit..Novi berhenti berbicara sendiri dan mengerjakan tugas nya.


Sudah jam dua siang. Heri baru saja bangun dia melihat jam.


"Huff... dia bergeliat namun baru saja sadar kalau Enjel sudah tidak ada di samping nya.

__ADS_1


Dia berusaha untuk duduk.


"Ufff badan ku sakit semua, Kepala ku sangat pusing." ucap Heri karena dia benar-benar tidak bisa istirahat di kota nya.


"Enjel.... Enjel..." panggil Heri sambil berjalan keluar. Dia tidak melihat Enjel di apartemen. Heri juga melihat ke kamar nya namun tidak ada.


"Apa dia sudah pergi? apa dia benar-benar pergi?" ucap Heri karena dia mengingat kalau Enjel ada jadwal kerja sore.


Tiba-tiba pintu terbuka. Enjel masuk dari pintu.


"Ow kamu sudah bangun?" ucap Enjel. Heri mendekati Enjel dia melihat belanjaan Enjel tiba-tiba memeluk nya.


"Ada apa?" tanya Enjel.


"Kenapa kamu pergi tidak bilang kepada ku? aku mencari kamu, aku pikir kamu sudah pergi bekerja." ucap Heri.


"Jadwal hari ini sudah di batalkan. Aku baru saja pulang belanja." ucap Enjel.


"Seharusnya kamu bilang. aku bisa membantu kamu."


"Sudah tidak perlu." ucap Enjel karena Heri mau membantu membawa belanjaan nya.


"Kamu kenapa?" tanya Heri.


Enjel tersenyum. "Sebaiknya kamu mandi gih biar lebih segar. Wajah kamu masih seperti itu." ucap Enjel.


"Aku sangat merindukan kamu, apa aku tidak bisa bersama kamu dulu?" tanya Heri. Enjel menghela nafas panjang.


"Pergi mandi agar aku masak untuk makan siang." ucap Enjel.


"Pergi mandi setelah itu kita makan bersama oke." ucap Enjel harus membujuk terlebih dahulu.


Akhirnya Heri mau.


"Aku tidak memiliki baju bersih, baju ku tinggal semua di sana, apa pakaian yang sebelumnya ku tinggal sudah bersih?" tanya Heri.


"Huff sama baju saja kamu langsung ingat, aku sudah membersihkan semua nya..Kamu harus membayar ku." ucap Enjel.


"Berapa?" tanya Heri.


"Ciuman." ucap Enjel. Heri langsung mencium bibir Enjel dengan singkat.


"Kamu sungguh calon istri yang baik." ucap Heri.


"Huff kamu mencari istri hanya untuk mencuci pakaian saja?" ucap Enjel.


Heri menggeleng kan kepala nya.


"Jangan berbicara seperti itu, aku tidak pernah berfikir seperti itu." ucap Heri.


"Lalu untuk apa?"

__ADS_1


"Aku ingin mencari istri yang bisa mengurus saya dan anak-anak kita kelak." ucap Heri.


"Huff hanya itu saja?"


"Masih banyak, Salah satu nya agar bisa menemani saya tidur."


"Huff!!"' Enjel menghela nafas panjang.


"Kamu jangan marah dulu. Saya harus mencari istri yang bisa menghabiskan uang saya, agar saya bekerja ada artinya." ucap Heri.


"Owh begitu kah? Apa itu sebabnya kamu sering bergonta-ganti pasangan?"


Heri menghela nafas panjang.


"Sudah berapa kali aku bilang jangan membahas itu, aku tidak seperti itu lagi namun kamu tetap saja membahas nya." ucap Heri.


Dia langsung pergi ke kamar untuk mandi.


"Dia jadi seperti anak perempuan sekarang, sangat mudah tersinggung dan Baperan." ucap Enjel.


Sore hari nya Abel sedang enak duduk berbicara dengan kedua mertua nya, Bibik juga.


"Assalamualaikum..." Radit baru saja pulang.


"Walaikumsalam..."


"Tumben banget kamu cepat pulang?" ucap mamah nya.


Radit tersenyum. Dia tidak lupa menyalim tangan orang tua nya.


"Maaf mah."


"Tidak cukup hanya maaf saja, karena pekerjaan kamu. Kamu sampai jarak bertemu dengan orang tua kamu, walaupun mamah sama Papah sudah hampir sering ke sini!" ucap mamah nya.


Radit tersenyum saja.


"Ya sudah kalau begitu kamu sudah pulang, mamah sama papah titip istri kamu, di jaga baik-baik. Jangan lupa di perut menantu mamah ada calon Cucu Mamah." ucap mamah nya.


Radit tersenyum.. Mamah dan Papah nya pun pergi.


"Bik apa hari ini Bibik tidak ada janji di luar?" tanya Radit.. Bibik kaget dia menoleh ke arah Abel.


"Bibik baru saja pulang dari rumah nya, jadi Bibik tidak akan kemana-mana." ucap Abel.


"Hum kalau begitu Bibik bisa pergi cari sesuatu makanan, atau belanja di luar hari ini, atau mau pergi bareng teman-teman Bibik." ucap Radit sambil memberikan uang.


Bibik sama sekali tidak mengerti akhirnya dia menginyakan saja, kapan lagi dia mendapatkan kesempatan di kasih uang untuk jalan-jalan dan beli makanan.


"Ada apa sih dengan kakak? Aneh banget." ucap Abel. Radit menggeleng kan kepala nya.


"Agar Bibik bisa menikmati hari-hari nya, di rumah saja Bibik pasti bosan." ucap Radit. Abel Menatap nya bingung.

__ADS_1


Radit dan Abel sudah di kamar, Radit mau mandi terlebih dahulu karena badan nya sudah bau keringat.


Namun Radit lupa membawa handuk dia meminta kepada Abel namun dia menarik Abel agar ikut mandi. Memaksa Abel untuk mandi lagi karena Abel sudah mandi sebelum nya.


__ADS_2