
"Bukan Tante, om, saya bukan pacar nya Heri.
"Tidak perlu malu seperti itu. kenalin kami adalah orang tua Heri. Kami sangat berterimakasih kamu sudah mau merawat anak kami di sini." ucap Mamah Heri.
Enjel tidak tau harus mengatakan apa dia hanya bisa menginyakan dan tersenyum saja.
Orang tua Heri sudah ke penginapan yang tidak jauh dari bandara. Di dalam mobil Enjel langsung memukul lengan Heri.
"Kamu Ngeselin! Kamu ngeselin! aku gak suka kamu bilang aku pacar kamu sama orang tua kamu. Mereka jadi salah paham." ucap Enjel.
"Apa yang kamu lakukan Enjel? sakit!"
"Rasain! itu adalah hukuman. Sekarang orang tua kamu meminta kita tunangan karena kebohongan kamu!" ucap Enjel dengan kesal.
Heri menghela nafas panjang.
"Sudah biarkan saja, Mamah hanya bercanda saja." ucap Heri. Enjel memukul Heri lagi.. Bercanda dari mana? Sudah sangat jelas orang tua kamu sangat serius!" ucap Enjel.
"Kalau begitu kita tinggal tunangan saja seperti apa kata mereka." ucap Heri.
"Kamu pikir semudah itu untuk tunangan!" ucap Enjel.
"Apa susah nya kalau menikah saja?" tanya Heri.
"Kamu bisa gak sih berfikir dengan baik? aku tidak bercanda sekarang! Bisa-bisa nya kamu bercanda." ucap Enjel.
"Aku tidak bercanda aku serius. Aku mau kok tunangan dan menikah dengan kamu!" ucap Enjel.
"Aku tidak mau, aku yang tidak mau." ucap Enjel kesal dan langsung diam.
Heri diam. Mereka kembali ke apartemen hari itu juga karena sudah tidak ada lagi urusan di luar.
Orang tua Heri juga mau istirahat. Mereka memutuskan untuk pergi dari sana.
Sampai di rumah Enjel tidak mengatakan apapun dia langsung pergi ke dalam kamar nya.
Heri menghela nafas panjang. "Dia sungguh aneh. Kenapa menjadikan semua menjadi masalah?" ucap Heri.
Heri menyusul masuk ke dalam. Dia mau berbicara dengan Enjel namun tetap saja Enjel tidak mau membuka pintu.
Di malam hari dia baru keluar dari kamar karena lapar.
"Enjel..." panggil Heri yang ternyata dari tadi duduk di ruang tamu menunggu Enjel keluar.
Enjel Menatap sekilas saja dan setelah itu langsung pergi.
"Kamu kenapa sih?" tanya Heri menyusul Enjel masuk ke dalam dapur.
Enjel tidak menjawab.
__ADS_1
"Kamu. jangan mengabaikan aku seperti ini dong aku tidak bisa kalau kamu mengabaikan aku seperti ini." ucap Heri.
"Jangan ganggu aku!" ucap Enjel. Heri menghela nafas panjang.
"Huff ayolah jangan marah-marah terus, aku tau kalau baku salah berbicara seperti itu kepada orang tua ku, aku hanya bercanda." ucap Heri.
"Bercanda bagaimana? kamu berbicara seperti itu kepada orang tua kamu!" ucap Enjel.
"Orang tua ku tidak mungkin percaya dengan hal itu.. Mereka pasti mengabaikan kata-kata ku." ucap Heri.
"Hum wajar saja, karena kamu sudah membawa banyak perempuan ke rumah, jadi orang tua kamu biasa saja." ucap Enjel.
Heri duduk di kursi. "Kamu mau masak apa?"
"Kamu jangan berpura-pura dekat seperti ini kepada ku! Aku masih marah sama kamu." ucap Enjel.
"Aku hanya bertanya kamu mau masak apa?" tanya Heri.
"Kamu tidak perlu tau."
"Sudah lah lupakan saja tentang itu. Orang tua ku pasti hanya berbicara sembarangan. Dia hanya ingin anak nya menikah saja dan menjalin hubungan yang serius." ucap Heri.
"Tapi aku tidak mau menikah dengan kamu, aku gak mau titik!" ucap Enjel. "Baiklah-baiklah, tidak ada perempuan yang mau menerima ku karena aku tidak pantas." ucap Heri.
"Aku sekarang sudah sangat lapar berhenti lah marah-marah dan lanjut masak."
"Aku hanya masak untuk diri ku sendiri."
Enjel sudah sangat kesal. Makanan Enjel sudah Masak namun pesanan Heri belum datang. Tidak beberapa lama akhirnya datang mereka makan bersama.
"Apa Kamu tidak mau membagi makanan mu sedikit? Aku ingin merasakan nya." ucap Heri.
"Aku tidak mau!" ucap Enjel.
Heri menghela nafas panjang, dia mau mengambil satu sendok namun tangan nya langsung di pukul oleh Enjel.
"Jangan coba-coba yah!" ucap Enjel. "Iyah deh." ucap Heri sambil kembali melanjutkan makan nya.
"Kamu sungguh sangat pelit."
Enjel tidak menghiraukan nya.
Di rumah Abel dia mencoba untuk menghubungi suami nya.
"Kak Radit kenapa sampai sekarang belum ada kabar sih? Kemana sih kak?" ucap Abel. Abel Tidak bisa tenang. Namun sia-sia saja Kalau dia memikirkan nya berlebihan.
Tengah malam Heri tidak bisa tidur dia main game di ruang tamu. Dia sangat fokus main game namun mendengar suara pintu kamar Enjel terbuka dia langsung menoleh.
"Kamu bisa gak sih kecil kan volume game nya? aku ngantuk, aku mau tidur." ucap Enjel.
__ADS_1
"Maaf-maaf." ucap Heri. Enjel memegang perut nya.
"Kamu kenapa?" tanya Heri melihat wajah Enjel seperti menahan rasa sakit.
"Aku tidak apa-apa, jangan mengganggu ku." ucap Enjel masuk lagi ke dalam kamar nya.
"Sangat aneh, ada apa sih?" tanya Heri meninggal kan game nya dan membantu Enjel berjalan masuk ke dalam.
"Tidak apa-apa." ucap Enjel menolak, namun tetap saja dia butuh bantuan dari Heri.
"Kamu jangan menolak bantuan dari orang lain!" ucap Heri.
Enjel duduk di pinggir kasur.
"Seperti nya perut kamu sakit. Ada apa? apa kamu salah makan sesuatu?" tanya Heri sambil memberi air Putih.
Enjel menggeleng kan kepala nya.
"Apa kamu menstruasi?" tanya Heri.
Enjel mengangguk.
"Kenapa begitu cepat sekali? Kamu baru dapat waktu kita pulang ke sini." ucap Heri.
"Kamu tidak perlu mengingat-ingat itu, bisa jadi saja kita setiap bulan nya lebih cepat dan bisa lebih lambat." ucap Enjel..
"Kalau begitu aku akan membeli obat untuk kamu." ucap Heri.
"Ini sudah malam tidak ada yang menjual obat." ucap Enjel.
"Pasti ada, kamu tunggu lah di sini."
"Aku masih memiliki obat yang kemarin kamu beli di laci." Heri membuka laci dan ternyata hanya sisa satu.
"Apa cukup satu saja?"
"Hum untuk malam ini bisa agar perut ku lebih nyaman." ucap Enjel.
Enjel minum obat. Heri terlihat sangat khawatir melihat Enjel kesakitan sampai meringkuk dan merengek-rengek.
Heri duduk di belakang Enjel di pinggir kasur.
"Katakan apa saja yang kamu butuhkan? Aku akan membeli nya atau melakukan nya." ucap Heri.
Enjel menoleh ke arah Heri.
"Perut ku u sangat sakit." Heri meletakkan tangan nya di perut Enjel.
Namun Enjel membuka baju nya dan memasukkan tangan Heri.
__ADS_1
"Aahh tangan mu cukup hangat." ucap Enjel, sementara Heri sudah sangat gugup. Dengan cepat dia langsung menarik tangan nya.
"Aku akan mengompres perut kamu dengan air hangat." ucap Heri.