
Radit menghela nafas panjang. "Sejak kapan Novi membawa kan saya makanan?" ucap Radit. Abel terdiam sejenak.
"Ya siapa tau kan. Kalau tidak di bawain makanan pasti makan berdua." ucap Abel.
"Kamu jangan mencari-cari masalah Abel, apa yang kamu mau katakan saja." ucap Radit dengan nada kesal.
Abel yang tadi nya mau bercanda tiba-tiba takut dengan nada dan tatapan Radit.
"Aku hanya bercanda saja kenapa kakak harus serius banget sih?" ucap Abel. Radit menghela nafas lagi.
"Katakan apa yang kamu mau." ucap Radit.
"Tidak ada." ucap Abel.
"Kalau begitu saya akan berangkat ke kantor." ucap Radit. Dia pun meninggalkan istri nya.
Abel memasang wajah cemberut.
"Kak Radit hanya baik sebentar saja, huff aku yakin dia pasti sudah bosan." ucap Abel.
Malam hari Radit sudah di rumah dia melihat Abel berpakaian rapi.
"Loh kamu mau kemana?" tanya Radit.
"Tidak kemana-mana, aku baru saja pulang jalan-jalan dengan Enjel." ucap Abel.
"Oohh, kenapa kamu gak bilang?" tanya Radit.
"Untuk apa aku kasih tau kakak? Bukan nya kakak tidak perduli sama aku?" ucap Abel.
Radit menghela nafas panjang. "Jangan memulai keributan lagi deh Abel." ucap Radit.
Abel langsung diam. "Ya udah kalau begitu aku mau ke kamar. Capek.." ucap Abel langsung pergi.
"Ya Allah.. Kenapa sih Non Abel dan Tuan Radit tidak bisa berdamai? Baru saja baikan namun sudah marah-marah lagi." ucap Bibik.
"Itu hal biasa bik dalam sebuah rumah tangga, tidak perlu di pikir kan. Asal Bibik tau kak Abel itu cukup egois." ucap Mila.
Abel mendengar itu dia menatap Mila dengan tajam. Mila langsung nyengir.
Radit mengikuti Abel ke kamar. "Abel kamu kenapa?" tanya Radit.
"Tidak kenapa-kenapa." ucap Abel.
"Dari kemarin kamu seperti ini kepada saya, apa saya memiliki kesalahan kepada kamu?" tanya Radit.
"Tidak ada." Jawab Abel dengan judes.
Radit menghela nafas panjang.
"Tidak mungkin tidak ada yang salah. Kalau tidak ada kenapa kamu harus bersikap seperti ini dari kemarin?" tanya Radit.
"Aku.." Tiba-tiba handphone Radit berbunyi Abel mau berbicara tidak jadi.
"Novi! Kenapa dia menelpon ku?" ucap Radit.
__ADS_1
"Halo, ada apa Novi?" tanya Radit.
Abel langsung ke kamar mandi menukar pakaian nya tidak lagi perduli dengan Radit.
Mereka hanya membahas pekerjaan. Namun Abel sudah tambah kesal.
Di tempat tidur..
"Abel.. Kenapa kamu membelakangi saya?" tanya Radit. Abel Tidak menjawab.
"Mendekat lah ke sini. Kamu akan jatuh kalau terlalu kepinggir." ucap Radit. Tetap tidak di perduli kan oleh Abel.
Radit memeluk Abel dari belakang namun Abel langsung melepaskan nya.
"jangan menyentuh aku! Aku tidak ingin di ganggu." ucap Abel. Radit menghela nafas panjang.
"Abel..." ucap Radit. Tidak di perduli kan lagi oleh Abel.
"Kalau saya memiliki kesalahan kamu katakan, jangan mengabaikan saya seperti ini." ucap Radit.
Abel diam saja. Radit mengerti seperti nya Abel tidak ingin di ganggu akhirnya dia pun memilih untuk diam saja.
Namun tiba-tiba tengah malam dia terbangun karena merasa kan Abel sangat gelisah di tempat tidur.
Berbalik ke kiri dan kanan sambil memegang perut nya.
Radit membuka mata nya.
"Kamu kenapa Abel?" tanya Radit.
"Kenapa bisa?" tanya Radit. Abel menjerit.
"Apa kamu datang bulan?" tanya Radit.
Tidak di jawab namun Radit sudah mengerti.
"Kalau begitu ayo ke kamar mandi dulu saya akan membantu kamu." ucap Radit.
Tidak beberapa lama keluar dari kamar mandi. Radit mengambil obat untuk mengurangi nyeri, tidak lupa Air hangat.
"Apa masih sakit?" tanya Radit. Abel mengangguk.
"Apa kita ke rumah sakit saja?" tanya Radit. Abel menggeleng kan kepala nya.
"Tidak perlu kak." ucap Abel.
Radit mengambil minyak kayu putih dari atas meja. "Apa yang mau kakak lakukan?" tanya Abel karena Radit mengangkat baju nya di bagian perut.
"Saya akan memijit perut kamu agar lebih enakan." ucap Radit.
"Tidak perlu kak, aku malu." ucap Abel.
"Tidak apa-apa. Kita juga sudah suami istri." ucap Radit.
Abel diam. Radit menuangkan minyak kayu putih ke Perut Abel.
__ADS_1
Radit mau menyentuh perut Abel namun sangat canggung. Tangan nya bergemetar namun dia harus melakukan nya karena tidak tega melihat Abel kesakitan.
Saat tangan Radit menyentuh perut Abel. Abel seperti tersentrum.
"Bagaimana? Apa kah enakan?" tanya Radit. Abel mengangguk. Radit cukup pintar memijit perut Abel.
"Pasti dulu kakak sangat sering memijit perut pacar kakak waktu sakit kan?" ucap Abel. Radit menatap Abel.
"Kakak cukup pandai, seperti nya sudah terbiasa." ucap Abel.
"Kamu hanya bisa berfikiran negatif kepada saya." ucap Radit.
"Tapi kakak belum pernah cerita tentang mantan-mantan kakak. Aku sangat penasaran berapa mantan kakak." ucap Abel.
"Bukan nya sebelum nya kamu sudah tau?" tanya Radit.
"Itu hanya satu, apa tidak ada yang lain?" tanya Abel.
"Hanya itu saja, dia juga bukan pacar saya, hanya teman saja." ucap Radit.
"Aku tidak percaya hanya teman. Mana ada teman berfoto mesra seperti itu." ucap Abel. "Terserah mau percaya atau tidak." ucap Radit.
Abel menghela nafas panjang dia menatap wajah Radit.
"Aku tidak akan marah. Kakak jujur saja berapa mantan kakak, Kalau kakak jujur aku juga akan kasih tau berapa mantan ku." ucap Abel.
Radit menghela nafas panjang. "Kamu bisa tanyakan langsung kepada orang tua saya, atau kepada perempuan yang kamu bilang pacar saya itu kalau saya tidak pernah pacaran." ucap Radit.
"Tidak mungkin! Wajah-wajah kakak saja sudah play boy." ucap Abel.
Radit diam, dia menghentikan pijatan nya dan menutup perut Abel. Dia memijit tangan kanan nya yang terasa sakit.
"Sini aku bantu pijat. Tangan kakak baru saja sembuh jangan memaksakan nya untuk bergerak banyak." ucap Abel.
"Kata dokter harus banyak bergerak." ucap Radit.
"Tapi tidak di suruh untuk memijit-mijit." ucap Abel. Radit tersenyum.
"Sekarang jujur berapa mantan kakak." ucap Abel.
"Saya tidak memiliki mantan. Saya sadar kalau saya sudah memiliki tunangan itu arti nya saya harus setia." ucap Radit.
"Kakak belum tau aku pada saat itu, kenapa kakak harus setia?" tanya Abel.
"Saya tidak ingin membuat keluarga saya dan membuat saya malu." ucap Radit.
Abel menghela nafas panjang.
"Huff aku lupa kalau keluar kakak sangat menjaga martabat keluarga dan juga harga diri." ucap Abel.
"Tapi saya mencintai cinta pertama saya." ucap Radit.
"Siapa?" tanya Abel langsung.
"Dulu di bangku SMA, dia adalah anak kepala sekolah idola di sekolah itu. Saya hanya bisa mengidolakan dia karena dia sudah memiliki pacar pada saat itu." ucap Radit.
__ADS_1