
Enjel berjalan keluar dari perusahaan.
Radit mengintai Cctv Kemana istri nya pergi.
"Biasa nya kalau perempuan hamil pasti malas kemana-mana, dia sangat bersemangat sekali keluar rumah." batin Radit.
Melihat istrinya berjalan sangat gembira membuat nya juga ikut senang.
"Selagi tidak melewati batas seharusnya aku tidak perlu melarang nya kemana-mana." batin Radit.
Akhirnya dia tidak memprotes Abel pergi dengan Enjel keluar kantor.
"Heri apa pekerjaan mu sudah selesai?" tanya Radit setelah sudah jam dua lewat.
"Sudah, ada apa? Ini aku lagi berkemas mau pulang."
"Mari makan malam bersama." ajak Radit.
"Huff aku bosan makan malam bersama Tomi dan yang lain nya." ucap Heri.
"Bukan dengan mereka namun dengan Enjel dan Abel." ucap Radit.
"Ayo! aku akan membatalkan janji ku sebelum nya." ucap Heri dengan sangat bersemangat.
Radit tersenyum. "Kalau begitu aku akan menemui Enjel ke ruangan nya." ucap Heri.
"Tidak perlu, dia tidak ada di sana. Dia sedang keluar bersama Abel." ucap Radit.
"Loh kok dia gak bilang sih?" ucap Heri.
"Sudah jangan banyak cerita, ayo kita mencari mereka." ucap Radit.
Mereka keluar dari perusahaan.
"Itu kan kak Radit sama Heri." ucap Abel melihat mereka datang ke tempat mereka nongkrong.
"Huff laki-laki yang selalu mengikuti." ucap Enjel dengan kesal karena melihat Heri datang.
"Kalian di sini juga?" ucap Heri basa-basi melihat mereka datang.
Enjel dan Abel menghela nafas panjang.
"Apa yang kalian lakukan di sini? Kalian datang ke sini mau mengikuti kita berdua kan?" ucap Abel.
"Enggak! Siapa bilang? Kami ke sini kebetulan pengen aja, eh kebetulan ketemu." ucap Heri.
"Alasan!" ucap Abel.
Radit langsung duduk di samping istri nya.
"Kamu boleh bergabung di sini kan? Meja kelihatan nya tidak ada yang kosong." ucap Radit.
Heri juga mengangguk dan langsung duduk di samping Enjel.
"Silahkan! Meja ini juga sudah kosong kok, kita juga sudah mau pergi." ucap Enjel. Mereka berdua berdiri. Heri dan Radit Saling tatapan.
"Kak aku pulang ke rumah duluan yah, aku sangat ngantuk badan ku juga sangat letih." Mereka Langsung pergi.
__ADS_1
Heri dan Radit menghela nafas panjang.
"Huff benar-benar ya." batin Radit.
Di Malam hari nya Heri sampai di apartemen dia melihat Enjel sudah dandan cantik.
"Kamu mau kemana?" tanya Heri.
"Mau Makan malam bersama Pak Radit dan juga Abel." ucap Enjel.
"Oh iya aku lupa." ucap Heri.
"Maksudnya?".
"Aku juga mau ikut."
Enjel tidak mengatakan apapun dia pun langsung keluar..Heri mengikuti nya.
"Naik mobil ku saja." ucap Heri menarik tangan Enjel.
"Kenapa kamu masih ikut makan malam? Bukan nya Sudah makan dengan Jesica?" tanya Enjel.
Heri menggeleng kan kepala nya. "Aku tadi bertemu dengan Jesica hanya membahas pekerjaan. Oh iya kamu harus memeriksa ini, semua nya sudah selesai oleh Jesica." ucap Heri.
Enjel di dalam mobil langsung memeriksa pekerjaan nya dan benar saja sudah selesai.
"Bukan kah kamu ada janji dengan Mbak Jesica?"
"Ada, tadi sore kami sudah bertemu membahas pekerjaan." ucap Heri.
Heri menggeleng kan kepala nya. Enjel seketika langsung terdiam.
"Emang nya kenapa? kamu cemburu yah?" tanya Heri.
"Kamu berfikir kalau aku ada janji makan malam, atau ngedet berdua dengan Jesica?" ucap Heri lagi.
"Enggak! Aku tidak berfikir seperti itu, aku bodo amat dan tidak perduli sama sekali." ucap Jesica langsung.
Heri menghela nafas panjang.
"Huff kamu memang selalu tidak perduli dengan apa saja tentang ku." ucap Heri.
Enjel terdiam, mereka berdua sama-sama diam.
Setelah beberapa lama akhirnya mereka sampai juga di restoran yang di janjikan.
"Abel kita bertemu lagi." ucap Enjel sangat senang bertemu dengan Abel.
Mereka bertemu dan. benar saja dunia serasa milik mereka berdua saja, Radit dan Heri hanya bisa diam sambil melihat mereka berdua sibuk berbicara.
"Huff salah besar merencanakan double date seperti ini." ucap Heri kepada Radit.
"Hanya sesekali saja untuk menghibur istri ku. Dia sedang hamil muda jadi mood nya terkadang berubah tidak jelas." ucap Radit.
Heri menghela nafas panjang..
Tidak beberapa lama akhirnya selesai makan. Mereka pun pulang dengan mobil masing-masing.
__ADS_1
"Kamu senang makan malam hari ini?" tanya Radit.. Abel mengangguk aku, sangat senang sekali." ucap Abel. Radit tersenyum.
"Makasih yah kak, kakak tau saja membuat aku senang seperti apa." ucap Abel.
Radit yang sedang menyetir tersenyum saja.
Sementara Heri dan Enjel baru saja sampai di rumah.
"Enjel apa aku boleh minta sprei baru milik mu? Milik ku sudah sangat bau dan kotor." ucap Heri.
"Aku baru saja mengganti nya kemarin." ucap Enjel.
"sekarang sudah sangat kotor." ucap Heri.
"Aku bisa mengganti nya sendiri." ucap Heri.
Enjel menghela nafas panjang dia masuk ke kamar dan keluar membawa sprei.
"Hanya ada warna Pink ini." ucap Enjel.
"Tidak apa-apa, aku akan memakai nya."
Enjel langsung berlalu ke kamar Heri.
Dia menghela nafas panjang melihat kamar Heri Ys sudah sangat berantakan.
"Kamu ngapain aja sih di kamar ini sampai semua nya seperti ini!" ucap Enjel. Heri diam saja.
"Aku yakin istri mu nanti tidak akan sabar memiliki suami seperti kamu." ucap Enjel.
Heri tetap diam saja. Dia duduk di sofa sambil mendengarkan kan Enjel mengomel sambil membersihkan kamar nya.
Tidak beberapa lama akhirnya selesai juga.
"Sudah selesai. Kamu harus membayar ku." ucap Enjel sambil menoleh ke arah sofa dan ternyata Heri sudah tidur di sofa.
Wajah nya terlihat sangat letih sekali.
Enjel mendekati nya.
"Huff kenapa sih aku harus marah setiap kali Heri bertemu dengan Mbak Jesica? Padahal kan aku yang merekomendasikan dan juga aku yang menawarkan Heri kepada mbak Jesica." ucap Enjel dalam hati.
"Tidak mungkin aku cemburu terhadap kedekatan mereka. Aku mungkin hanya merasa kesal saja." batin Enjel.
Setelah beberapa lama akhirnya dia mau keluar namun Heri menahan tangan nya.
Heri membuka mata nya. Enjel langsung menepis tangan Heri.
"Tempat tidur sudah bersih, kamu bisa pindah ke sana. Sebelum nya mandi dulu agar keringat kamu tidak cepat membuat sprei bau." ucap Enjel.
Heri menggeleng kan kepala nya. "Aku sudah sangat lelah, aku tidak berdaya untuk mandi." ucap Heri.
Enjel menghela nafas panjang.
"Kamu habis minum bir di luar, mana mungkin kamu tidak mandi." ucap Enjel dengan kesal.
"Hanya sedikit saja penghilang rasa penat." ucap Heri.
__ADS_1