Perjodohan Sejak Dini

Perjodohan Sejak Dini
Episode 174


__ADS_3

"Aku tidak bermaksud seperti itu."


"Untuk apa kamu mementingkan perkataan orang lain? Apakah mereka mempengaruhi hubungan kita, semua nya tergantung kepada kita Enjel.


Enjel tiba-tiba memeluk Heri. "Aku minta maaf..." ucap Enjel dengan lirik.


Heri masih emosi dia menghela nafas panjang.


"Berhenti lah marah, aku minta maaf." ucap Enjel. Heri mencoba melepaskan pelukan Enjel namun Enjel tidak mau.


"Aku mohon jangan pergi. Aku kesal ketika membayangkan ketika kamu pergi dan jauh dari ku. Aku takut sendirian, aku kesepian dan aku takut kamu akan menemukan perempuan lain."


Heri menghela nafas panjang.


"Aku sudah bilang kamu jangan memikirkan semua nya berlebihan Enjel." ucap Heri.


Enjel menatap wajah Heri.


"Aku hanya takut Heri. Aku takut dengan apa yang terjadi sebelum nya, aku tidak ingin terluka lagi." ucap Enjel.


Heri diam saja. "Aku tau kamu pasti sangat marah kepada ku, aku benar-benar minta maaf." ucap Enjel.


"Mungkin ini sudah keputusan kamu, aku tidak bisa untuk menahan kamu bersama ku, ini semua kesalahanku, aku yang memulai nya. Aku benar-benar minta maaf dan sekarang aku akan menerima semua nya." ucap Enjel.


Perlahan dia melepaskan pelukannya yang tak kunjung di balas oleh Heri.


Namun tiba-tiba Heri menahan nya. Dia langsung memeluk Enjel dengan sangat erat sekali.


"Kamu sangat jahat membuat perasaan ku seperti Enjel, kamu yang membuat aku seperti ini Enjel. Kamu berhasil membuat aku takut kehilanganmu aku sudah terlanjur mencintai kamu." ucap Heri.


Kedua nya menangis dan saling berpelukan satu sama lain.


"Maafin aku. Aku tidak ingin kita berpisah, aku sangat mencintai kamu." ucap Enjel. Heri mengangguk.


Kedua nya tersenyum.


Enjel melihat ke arah pakaian Heri.


"Dan tentang ini aku akan benar-benar kembali ke kota ku karena permintaan orang tua ku." ucap Heri.


"Lalu bagaimana dengan aku? Bagaimana dengan hubungan kita?" tanya Enjel.


Heri menatap Enjel.


"Percayalah kalau kita akan bersama." ucap Heri.


"Aku tidak bisa jauh dari kamu."


"Kalau begitu ikut lah dengan ku." ucap Heri.


Enjel terdiam.

__ADS_1


"Aku tau ini sangat sulit bagi kamu karena kamu tidak yakin dengan ku. bagaimana kalau aku langsung menikahi kamu?" tanya Heri.


Enjel menggeleng kan kepala nya. "Menikah tidak semudah yang kita pikirkan." ucap Enjel.


"Kenapa tidak? Aku akan menemui orang tua kamu atau keluarga kamu. Dan aku akan memperkenalkan kamu kepada keluarga ku, kita mengurus semua nya dan setelah itu menikah." ucap Heri.


Enjel tersenyum. Dia tersenyum membayangkan impian nya itu.


"Humm kalau begitu aku akan menyelesaikan pekerjaan ku terlebih dahulu di Perusahaan pak Radit."


."Berapa lama lagi kontrak kamu di sana?"


"Dua bulan lagi."


"Apakah selama dua bulan ini kita akan mengurus pernikahan kita?"


"Apa kamu yakin mau menikah dengan ku? Aku memiliki banyak kekurangan."


"Kenapa tidak? Aku ingin mencintai kamu seumur hidup ku, membahagiakan kamu dan memiliki anak-anak dari kamu. Menua bersama kamu, itu adalah keinginan ku." ucap Heri.


Enjel menatap Heri.


"Tapi sebelum itu terjadi aku akan mencari tau tentang kamu terlebih dahulu." ucap Enjel.


Heri menatap Enjel.


"Tentang apa lagi yang tidak kamu tau tentang ku? Kamu sudah tau kalau aku sangat nakal, aku juga pecandu narkoba, aku pernah hampir masuk penjara karena nakal untung saja Keluarga ku terpandang." ucap Heri.


"Masalah perempuan kamu sudah tau kalau aku benar-benar sangat jahat terhadap perempuan, dan sekarang aku sudah berubah." ucap Heri.


"Aku tidak ingin kamu menyembunyikan apapun dari ku sama seperti Pak Radit."


"Kamu tidak bisa menyamakan Ku dengan Radit. Dia menyembunyikan hal tersebut karena ada alasan. Dan aku seperti ini kepada kamu karena ada alasan."


"Apa kamu tidak menyembunyikan sesuatu?"


"Humm sebaiknya ini waktu nya aku jujur." ucap Heri. Seketika wajah Enjel langsung serius.


"Apa? kamu mau menyampaikan apa?"


"Apa kamu memiliki anak dari perempuan yang sudah kamu tiduri? Atau kamu pernah membuang anak mu." ucap Enjel.


Heri menghela nafas panjang.


"Bukan itu Enjel." ucap Heri.


Tiba-tiba ada telpon masuk.


"Mamah." ucap Heri. "Jawab dulu."


Heri menjawab nya ternyata mamah nya menanyakan apa dia benar akan kembali besok.

__ADS_1


Heri menginyakan karena orang tua nya sudah tidak sabar menunggu anak nya.


Setelah selesai berbicara Heri melihat Enjel yang merapikan pakaian nya.


"Aku ingin kan sering datang berkunjung ke sini." ucap Enjel kepada Heri.


"Kenapa tidak kamu yang datang ke sana agar kamu lebih banyak tau tentang keluarga ku." ucap Heri.


"Aku tidak memiliki banyak uang seperti kamu." ucap Enjel.


"Aku akan memberikan uang yang banyak untuk kamu agar bisa datang." ucap Heri.


"Kalau aku memiliki waktu libur aku akan datang berkunjung." ucap Enjel. Heri tersenyum.


"Kamu seriusan?" tanya Heri, Enjel mengangguk.


Di malam hari nya...


"Radit akhirnya kamu datang." ucap Tania yang mengajak nya bertemu di luar hari ini.


Radit duduk di depan Tania.


"Apa kamu sudah makan? aku sudah memesan makana untuk kamu." ucap Tania. Radit hanya diam saja.


"Besok adalah hari ulang tahun ku, kamu tidak membeli kan sesuatu untuk ku?" tanya Tania.


"Katakan apa yang kamu mau." ucap Radit.


"Kamu sangat dingin sekali. Apa kamu marah aku ajak bertemu di sini?"


Radit melihat restoran itu. Restoran kesukaan Abel namun tempat makan favorit Tania dan juga Radit semasa bersama.


"Kamu bisa berhenti untuk berusaha kembali ke masa lalu tidak? Aku tidak suka.. Kalau kamu masih ingin melihat aku berhenti melakukan hal seperti ini." ucap Radit.


"Baiklah aku minta maaf, aku tidak tau harus mengajak kemana lagi selain ke sini." ucap Tania. Radit menghela nafas panjang.


Abel, Mila, Bibik dan Novi berencana untuk makan malam bersama di luar karena malam Minggu.


Mereka sudah sampai di restoran yang sama dengan Radit. Saat sedang memesan makanan. Novi tidak sengaja melihat Radit dan juga Tania.


Di melihat Abel masih belum menyadari dia langsung mengirim pesan kepada Radit. Radit kaget melihat istrinya di sana.


"Tania sekarang kamu harus pergi, di sini ada Abel, kalau dia melihat kita berdua di sini dia akan curiga, aku tidak ingin salah paham dengan Abel." ucap Radit.


"Kita baru saj Ketemu. Kita bahkan belum makan." ucap Tania.


"Lain waktu saja, sekarang kamu pergi dari sini." ucap Radit. Tania tidak ada pilihan akhirnya dia pergi meninggal kan Radit dengan perasaan kecewa, sedih.


Abel melihat Tania melewati dia.


"Loh itu kan Tania." dalam hati Abel.

__ADS_1


__ADS_2