Perjodohan Sejak Dini

Perjodohan Sejak Dini
Episode 30


__ADS_3

"Semua nya aku butuh kan dan bermanfaat." ucap Abel.. Radit sudah tidak bisa menjawab lagi.


"Sudah lah terserah kamu saja, saya tidak bisa mengatakan apapun." ucap Radit.


"Lagian kakak kerja pagi sampai tengah malam untuk siapa? Untuk istri kan? ya udah kalau begitu jangan banyak protes." ucap Radit.


"Saya hanya ingin kamu menghargai uang Abel, saya tidak akan melarang kamu membeli apa yang kamu inginkan, tapi setidaknya kamu harus belajar untuk mengatur keuangan karena kamu sudah menjadi istri dan kamu akan menjadi ibu." ucap Radit.


Abel menatap Radit. "Kalau tau seperti ini aku tidak akan menggunakan kartu kredit itu." ucap Abel.


Radit terdiam. Abel sudah memasang wajah cemberut.


"Apa kamu tidak tau berapa tagihan kamu sekali memakai kartu itu?" tanya Radit.


"Aku tidak tau dan aku tidak mau tau, itu adalah Resiko kakak menjadi kan aku istri. Kalau kakak tidak suka ya sudah berpisah saja." ucap Abel.


"Abel!" Radit memukul meja menatap Abel.


"Saya tidak suka dengan perkataan kamu! Jangan mengatakan itu lagi." ucap Radit.


"Lagian masalah itu doang saja sudah kakak permasalahan, bukan nya kakak memiliki banyak kekayaan, uang yang aku gunakan hanya sedikit." ucap Abel.


"Sudah lah percuma saja aku membahas ini kepada Abel, tidak akan ada gunanya dia tidak akan pernah mendengar kan saya." ucap Radit.


Sebenarnya Radit tidak mempermasalahkan uang itu, dia hanya ingin memberikan kode kepada Abel agar bisa menjadi istri yang baik.


"Saya lapar sebaiknya saya makan. Saya lapar." ucap Radit.


"Bisa-bisa nya kakak marah baru saja dan sekarang langsung makan?" ucap Abel.. Radit tidak menjawab lagi.


"Aku sangat tidak suka dengan hubungan seperti ini. Seandainya saja Ramalan bodoh itu tidak ada aku benar-benar tidak akan mau menikah." ucap Abel.


Radit berusaha untuk tidak menghiraukan Abel. Dia terus makan agar dia kenyang.


Karena Abel tidak berhenti berbicara, dia juga tidak sabar dengan Abel akhirnya dia memutuskan untuk pergi.


Saat Abel belum selesai ngomong Radit sudah pergi.


"Kak! Kak Radit aku belum selesai ngomong." ucap Abel.


Radit tidak menghiraukan nya dia pergi tidak mengatakan apapun.


"Benar-benar yah kak Radit!" ucap Abel.


Di malam hari nya Radit sama sekali tidak bisa tidur. Menikah dengan Abel menjadi satu beban untuk dia sekarang.

__ADS_1


Radit merasa dia harus banyak bersabar namun dia bukan lelaki yang sabar. Dia tidak tau harus melakukan apa selain bisa marah kalau tidak dia akan diam.


Namun tidak mungkin sebagai kepala rumah tangga dia diam kan istri nya, walaupun dia sakit hati ataupun dia pusing mendengar ocehan Abel dia harus sabar.


"Semoga saja Abel benar-benar bisa berubah, walaupun tidak ada yang tau tetap saja saya akan menunggu waktu itu." ucap Radit.


Di pagi hari yang cerah.. Seperti biasa Abel selalu bangun telat.


Abel langsung turun ke bawah ketika sudah selesai dari kamar mandi.


"Huff perut ku sangat lapar sekali. Sebaiknya aku memesan makanan deh." ucap nya. Sebelum memesan makanan dia ke dapur mengambil Air putih.


Namun mata nya tertuju kepada meja makan yang sudah tertata sarapan yang masih hangat.


Dia mendekati nya. "Wahh bubur ayam kesukaan ku." ucap nya. Dia melihat ada surat.


"Ini sarapan saya beli dari luar untuk kamu, kamu tidak makan tadi malam karena saya. Saya minta maaf." ucap Radit.


Abel terdiam sejenak. Entah apa yang dia pikirkan namun dia langsung makan.


Radit sampai di kantor nya.


"Selamat pak Direktur." sapa Enjel dan semua teman-teman nya.


Radit tidak menjawab mereka. Enjel bingung.


Dia ingin bertanya tapi tidak seharusnya dia ikut campur akhirnya dia memilih diam walaupun jiwa nya separuh kepo.


"Novi hari ini kosongkan jadwal saya." ucap Radit.


"Loh kenapa pak? Hari ini kita adalah pekerjaan penting." ucap Novi.


"Kalau begitu kosongkan sampai siang saja." ucap Radit.


"Baik lah pak."


"Kamu sebaiknya keluar saja, jangan ada yang menggangu saya karena saya mau istirahat." ucap Radit.


"Ba-baik pak." Radit menutup pintu kamar nya dan berbaring di sofa tidak lupa membuka Jas nya dan juga sepatu serta melonggarkan sedikit dasi nya.


"Ini benar-benar sangat aneh sekali." ucap Novi.


"Ada apa dengan pak direktur, beberapa hari ini pak direktur berubah. Dia tidak seperti yang dulu lagi." ucap Novi.


Di dalam Radit memandangi tangan nya.

__ADS_1


"Dia mengingat wajah Abel yang sangat senang pada saat itu dia bisa menggerakkan tangan nya.


"Anggota tubuh saya merespon ketika kamu ada di samping Saya, sekarang kamu tidak menyentuhnya dengan baik." ucap Radit.


Karena sudah tidak ada perubahan dari tangan Radit.


Tidak terasa sudah selesai masa cuti Abel.


Keesokan harinya dia sudah sangat bersemangat berangkat ke kantor.


Bangun pagi dia ber makeup dan keluarga kamar.


Dia melihat ke arah kamar Radit.


"Sudah beberapa hari ini aku tidak berbicara dengan kak Radit. Apa dia tau aku hari ini ke kantor?"


"Walaupun aku tidak mencintai nya tetap saja aku harus pamitan." ucap Abel.


Dia mengetuk pintu kamar Radit, tidak ada jawaban dari dalam.


"Kak Radit aku masuk yah." Dia membuka pintu dan ternyata Radit Masih tidur.


"Ya ampun nih masih tidur saja. Dan kamar ini sangat berantakan sekali." ucap Abel sambil mendekati Radit.


"Kenapa dia tidak bangun? Ini sudah jam berapa?" ucap Abel.


"Kak.. Bangun! apa kakak tidak takut telat ke kantor." ucap Abel. Tidak ada respon dari Radit sama sekali.


"Sampai kapan kakak akan tidur?" ucap Abel.


"Ah sudahlah kalau tidak mau bangun, aku akan berangkat bekerja."


Akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke kantor meninggalkan Radit di kamar nya.


"Akhirnya aku bisa masuk ke kantor lagi, aku sudah sangat bosan di rumah saja." ucap Abel.


Tidak beberapa lama akhirnya dia sampai di kantor.


"Aku ternyata sudah sangat merindukan Kantor kerja ku, walaupun belum genap satu bulan tetap saja aku sangat merindukan nya. Aku muak hanya di rumah saja." ucap Abel.


"Abel..." Teman-teman nya datang menghampiri dia. Abel langsung memeluk mereka semua termasuk Enjel.


"Aku sangat merindukan kalian semua." ucap Abel.


"Kamu kemana saja? Selama berminggu-minggu kamu pergi tidak ada yang tau." ucap teman nya.

__ADS_1


"Aku ada urusan keluarga." ucap Abel.


"Urusan keluarga tidak mungkin begitu lama." ucap teman nya curiga.


__ADS_2