Perjodohan Sejak Dini

Perjodohan Sejak Dini
Episode 113


__ADS_3

Heri terdiam sejenak. Dia langsung menggeleng kan kepala nya.


"Bukan begitu maksudku. Aku tidak suka kamu panggil aku dengan sebutan bapak. Aku tidak ingin hubungan kita hanya sebatas bos dengan sekretaris saya ingin kamu lebih akrab kepada saya namun tidak seperti ini juga."


"Apa selama ini Sifat ku ada yang salah? Apa selama ini aku tidak sopan?"


"Kamu kurang sopan karena sering mengabaikan permintaan aku, sering menolak aku dan juga tidak mendengar kan ku" ucap Heri.


Enjel menghela nafas panjang. "Kamu jangan membahas yang tidak-tidak deh, ini masih jam kerja." ucap Enjel.


"Ini sudah waktunya makan siang." ucap Heri.


"Tapi pekerjaan belum selesai." Heri langsung terdiam.


"Sebenarnya bos nya aku apa dia sih?" gumam nya.


"Tapi gak apa-apa deh, kan dia sudah menjadi bos di hati ku." batin Heri sambil senyum-senyum sendiri.


Enjel sangat fokus bekerja agar cepat selesai namun Heri malah sibuk dengan handphone nya. Enjel melihat Heri senyum-senyum ke arah handphone nya.


"Seperti nya di handphone kamu lebih penting dari pekerjaan ini." ucap Enjel.


"Humm kamu benar." ucap Heri Namun dia langsung mengangkat kepalanya.


"Bukan maksud aku bukan seperti itu. Aku sedang membalas pesan Rekan kita." ucap Heri.


"Rekan?" ucap Enjel..Heri mengangguk.


"Apa kamu tidak percaya?" tanya Heri sambil menunjuk kan layar ponsel nya kepada Heri.


"Oohh mbak Jesica." ucap Enjel.


"Saya nanti malam akan bertemu dengan dia." ucap Heri.


"Membahas apa? Bukan kah sebelum nya sudah bertemu secara pribadi?" tanya Enjel.


"Kamu sangat kepo, ini urusan pribadi." ucap Heri. Enjel terdiam langsung. "Ya sudah kalau begitu kamu lanjut saja, aku tidak bisa menahan lapar." ucap Heri dan langsung pergi meninggalkan Enjel.


Enjel melihat Heri meninggal kan ruangan itu tampa merasa bersalah sama sekali.


Enjel menghela nafas panjang. "Sebaiknya aku menyelesaikan pekerjaan ku dulu."


Heri sudah di bawah, kebetulan sekali Abel baru sampai.


"Ini mobil siapa berhenti di depan pintu?" ucap Heri dia melihat ternyata istri teman nya.


"Huff pantesan saja berhenti di depan seperti ini." batin Heri.


"Selamat siang Heri." Sapa Abel.


"Siang juga, tumben banget kamu di sini. Mencari Radit?" tanya Heri.


"Iyah, apa kamu melihat dia?"

__ADS_1


"Seperti nya masih di ruangan nya." ucap Heri.


"Loh kok kamu sendiri? Enjel mana?"


"Oohh dia masih di dalam." ucap Heri.


"oohh ya udah kalau begitu aku masuk dulu yah." ucap Abel langsung meninggalkan Heri.


"Istri Radit sangat cantik, sangat beruntung sekali Radit. Pintar masak, baik lembut." ucap Heri.


"Kak Radit.." ucap Abel masuk ke ruangan Radit namun Radit tidak ada di sana.


"Loh kok gak ada sih? kemana kak Radit?" batin Abel sambil berjalan ke arah meja meletakkan makanan di sana.


"Kak Radit." panggil Abel namun tidak ada jawaban.


Dia berjalan ke arah kamar mandi namun tidak ada juga.


"Kemana sih?"


"Kamu mencari saya?" tanya Radit yang tiba-tiba datang memeluk Abel dari belakang.


Abel terkejut.


"Kak Radit membuat ku kaget saja, kakak dari mana?" tanya Abel.


"Saya baru dari luar, saya tidak berfikir kamu secepat ini datang ke sini." ucap Radit.


"Kamu sungguh istri yang baik, walaupun kadang-kadang ngeselin." ucap Radit.


"Tapi kali ini aku gak akan ngeselin, aku senang setelah sekian lama akhirnya aku bisa nyetir sendiri dan bisa datang ke sini sendiri." ucap Abel.


"Huff kamu sangat pandai mengambil kesempatan, saya tidak bisa melarang kamu karena kamu pasti sudah mau berangkat menelpon saya." ucap Radit.


Abel tersenyum. "Ya udah kalau begitu kakak duduk dulu nih makan siang..Aku masak sendiri." ucap Abel.


"Kamu yakin masak sendiri? Apa kamu tidak mual-mual?"


"Humm pasti mual sih, hanya saja aku ingin masak. Mau tidak mau aku harus melakukan nya." ucap Abel.


"Tidak ada sesuatu menjadi bubuk tambahkan makanan ini kan?" tanya Radit lagi.


"Pakk!!! pukulan di lengan Radit.


"Kak Radit!!" ucap Abel dengan kesal Radit tertawa.


"Saya bercanda, saya hanya mau menggoda kamu." ucap Radit.


Abel menghela nafas panjang. "Kalau kakak tidak mau, biar aku saja yang makan." ucap Abel. Radit menahan nya.


"Ini sudah jam berapa? saya sudah sangat lapar, apa kamu tega membiarkan saya tidak Makan?" ucap Radit. Abel menghela nafas panjang.


"Maka nya jangan buat aku sebel." ucap Abel.

__ADS_1


Radit tersenyum. Radit mencicipinya.


"Bagaimana kak Apa rasanya pas?" tanya Abel.


Radit mencoba memakan satu suap.


"Kenapa sangat hambar?" tanya Radit.


"kok hambar sih? Perasaan tadi sudah pas deh " ucap Abel sambil mencicipi nya.


Dan benar saja rasanya masih kurang.


"Tadi aku mual-mual sehingga tidak ingat untuk mencicipi nya."


"Sudah tidak apa-apa, rasanya masih enak kok, kebetulan saya ada beberapa bumbu makanan." ucap Radit mengeluarkan dari laci.


Abel jadi sedikit tidak enak. "Aku janji deh, besok aku akan buat makanan yang lebih enak lagi, aku tidak akan melakukan kesalahan."


"Kamu seharusnya tidak perlu masak setiap hari, saya tidak harus memakan masakan kamu kok." ucap Radit.


"Jadi kakak tidak mau Masakan ku?" tanya Abel.


"Bukan seperti itu, kamu sedang hamil, memasak bagi kamu pasti sangat sulit jadi saya tidak akan memaksa kan nya." ucap Radit.


"Kamu masak kapan saja kamu mau. Jangan di paksa kan." ucap Radit.


Abel tersenyum sambil mengangguk.


"Apa kamu sudah makan?" Abel menggeleng kan kepala nya. Mereka pun makan berdua.


Sementara Heri baru saja kembali ke ruangan nya dia kaget melihat Enjel masih di sana.


"Loh Enjel kamu masih belum selesai?" tanya Heri. Dia berdiri di belakang Enjel melihat semua yang di kerjakan oleh Enjel.


"Wahh kamu sudah menyelesaikan nya. Sedikit lagi." ucap Heri. Enjel hanya diam saja tidak menjawab.


"Kok cepat sekali yah, apa kamu dari tadi belum ada istirahat?" tanya Heri. Enjel mengangguk.


"Apa?" Heri heran.


"Aku harus menyelesaikan ini sebelum jam satu siang karena harus langsung di kirim kan ke pusat." ucap Enjel.


Heri melihat beberapa menit lagi. Dia melihat Enjel sudah Hampir menyiapkan nya.


"Akhirnya selesai juga." Batin Enjel sambil meregangkan otot-otot nya. Dia melihat ke sekitar nya tidak ada bos nya.


"Loh kemana dia?"


"Kamu mencari aku?" tanya Heri baru saja datang.


Enjel menghela nafas panjang.


"Ambil lah ini dan makan siang, selanjutnya biar aku kerjakan." ucap Heri. Enjel mengangguk dia mengambil makanan dan langsung memakan nya begitu lahap sekali.

__ADS_1


__ADS_2