Perjodohan Sejak Dini

Perjodohan Sejak Dini
Episode 119


__ADS_3

"Istri saya sangat perhatian kepada saya, walaupun dia sedang hamil dia tetap memperhatikan suami nya." ucap Radit.


"Kalau begitu kamu makan siang saja dengan yang lain karena istri saya sudah membawa makan siang untuk saya." ucap Radit langsung meninggalkan Novi.


Novi terlihat sangat kesal dan greget sekali.


"Kamu sangat beruntung sekali memiliki istri seperti Abel yang sangat perhatian." ucap Heri.


"Cepat lah menikah, karena menikah itu sangat lah enak." ucap Radit. "Aku belum menemukan calon nya." ucap Heri.


"Loh Jesica tidak di anggap? Kalian sangat Cocok loh." ucap Abel. tidak sadar ternyata Enjel lewat dari samping mereka.


Enjel tidak mengatakan apapun hanya memberikan hormat kepada Radit dan pergi.


Mereka berlima seketika diam melihat Enjel berlalu begitu saja.


"Ada apa dengan Enjel kelihatan nya dia lebih dingin hari ini." ucap Abel.


Tidak ada yang menjawab.


"Ayo sebaik nya kita ke ruangan saya, saya sudah sangat lapar." ucap Radit kepada Abel. Abel tersenyum sambil mengangguk.


Dia meletakkan tangan di tangan Radit yang sudah menyodorkan tangan nya.


Abel melihat ke arah Novi yang memasang wajah kesal.


"Jesica kamu sudah makan?" tanya Heri. Jesica menggeleng kan kepala nya.


"Belum." ucap Jesica.


"Humm kebetulan kamu masih di sini, kamu mau makan siang bersama?" tanya Heri.


"Boleh juga." ucap Jesica.


Mereka Makan siang satu tempat dengan Enjel. Heri melihat Enjel makan sendirian Tampa menghiraukan dia dengan Jesica.


Sementara di ruangan Radit.


"Bagaimana? Rasa nya enak?" tanya Abel.. Radit mengangguk.


"Kali ini sangat enak, kamu sangat pintar sayang." ucap Radit mengelus rambut Istri nya.


Abel sangat senang. Radit langsung makan karena sudah sangat lapar sekali.


Tiba-tiba handphone Radit berbunyi.


"Kakak lanjut saja makan, aku akan mengambil nya." ucap Abel karena di atas Meja.


"Siapa?" tanya Radit.


"Tania kak."


"Kenapa dia menelpon saya?" ucap Radit dia langsung menjawab nya.

__ADS_1


"Halo.. Ada apa Tania?"


"Huff Untung saja kamu menjawab nya dengan cepat. Aku butuh bantuan Kamu." ucap Tania.


"Bantuan apa?" tanya Radit.


"Aku mempunyai pekerjaan di luar kota, kamu anterin aku yah. Aku tidak tau lokasinya." ucap Tania.


"Aku masih di kantor, aku tidak bisa karena sangat Sibuk."


"Radit apa kamu tega membiarkan aku pergi sendirian?" ucap Tania.


Radit menoleh ke arah istri nya.


"Istri ku sedang hamil, aku tidak bisa pergi jauh-jauh." ucap Radit.


"Hanya satu malam saja, Lagian aku sudah ijin kepada Tante dan Om. Sore ini harus berangkat karena pasien ku sudah sekarat." ucap Tania.


Radit menghela nafas panjang. "Baiklah kalau begitu. Aku akan membicarakan nya dengan istri ku." ucap Radit.


"Ada apa kak?" tanya Abel sudah sangat penasaran.


"Tania minta di anterin ke luar kota. Kamu gak apa-apa kan kalau saya pergi?" tanya Radit.


"Mau berapa lama di sana?" tanya Abel.


"Humm mungkin satu malam saya tidak akan pulang. Nanti saya akan mengabari kamu." ucap Radit.


Abel diam. "Boleh yah, kalau Mamah sama papah tau mereka akan banyak protes kalau saya tidak pergi." ucap Radit.


"Gak apa-apa kalau kamu mau ke rumah orang tua kamu, saya akan mengantar nya." ucap Radit.


Abel tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Gak usah kak, sebaik nya kakak fokus saja dengan urusan kakak." ucap Abel. Radit tersenyum.


DI sore hari nya Radit sudah berangkat menjemput Tania.


Abel duduk di ruang tamu.


"Huff kok aku jadi khawatir seperti ini sih? perasaan kak Radit baru saja pergi namun aku sudah Rindu." batin Abel.


"Non jangan melamun nanti kesambet gak boleh. Pamali. Sebaiknya non pergi mandi." ucap Bibik.


"Hari ini kita ke rumah orang tua ku yah bik." ucap Abel.. Bibik mengangguk.


Di apartemen Enjel. Heri baru saja pulang.


"Assalamualaikum..."


"Walaikumsalam..."


Enjel melihat Heri baru saja pulang.

__ADS_1


"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Heri melihat Abel berdiri di depan meja setrika dan di tangan ada setrika yang masih hidup.


"Kamu ternyata masih ingat pulang juga." ucap Enjel. Heri menghela nafas panjang.


"Maksud kamu apa?" tanya Heri.


"Tadi malam kamu tidak pulang dan sekarang Tengah malam baru pulang." ucap Enjel.


Heri mendekati Enjel.


"Bukan nya kamu sendiri yang bilang kalau kamu tidak suka aku di sini? Aku berusaha untuk tidak menggangu kamu, tidak membuat kamu risih." ucap Heri.


"Oohh kalau kamu sudah sadar sebaiknya kamu pergi saja dari apartemen ku dan tinggal bersama Jesica!" ucap Enjel.


"Maksud kamu apa Enjel!" ucap Heri.


"Tidak perlu berpura-pura, aku tau kok tadi malam kamu staycation dengan Jesica." ucap Enjel.


"Kamu tau dari mana?"


"Aku mengikuti kamu."


"Kenapa kamu mengikuti aku?"


Enjel terdiam. "Kamu bisa gak sih setia sama satu perempuan? Bisa gak menghargai perasaan perempuan? Bisa gak gak usah jadi laki-laki playboy?" ucap Enjel sambil menunjuk Heri.


"Jangan nunjuk-nunjuk seperti ini! Aku tidak suka." ucap Heri menepis tangan Enjel dengan sangat kasar.


"Aku mau sama siapa, tidur sama siapa pergi sama siapa. Dan menukar pasangan setiap saat itu adalah urusan ku sendiri, tidak ada urusan kamu." ucap Heri.


"Itu urusan ku!" ucap Enjel.


"Urusan kamu dari mana?"


"Kamu tinggal dengan ku di sini, walaupun kamu bos ku tetap saja kamu tinggal di sini dan urusan kamu urusan ku juga."


"Loh bukannya kamu sendiri yang bilang kalau kita tidak ada hubungan apapun, jadi aku tidak boleh mengurus urusan mu, begitu juga sebaliknya." ucap Heri.


Enjel langsung terdiam.


"Kamu tidak perlu merapikan pakaian ku seperti ini, kamu tidak perlu perduli kepada ku!" ucap Heri mengambil pakaian nya yang sudah di setrika oleh Enjel.


Dia membawa nya langsung ke kamar. Enjel terdiam dia berdiri sampai lupa mematikan setrika tampa sadar kemeja Heri sudah bolong..."Aaa!!" dia berteriak karena panik.


Heri mendengar itu dia melihat setrika sudah berasap dia langsung mematikan nya.


Dia melihat baju nya sudah bolong.


"Aku minta maaf." ucap Enjel. Heri menatap wajah Enjel.


"Kamu tau gak baju ini adalah pemberian mantan ku. Dan baju ini sangat mahal sekali. Kamu kalau tidak bisa menyeterika jangan menyetrika pakaian ku." ucap Heri terlihat sangat kesal.


Enjel kaget karena itu pertama kalinya Heri marah, Heri kesal, pertama kali dia menatap Enjel dengan tatapan tajam sampai Enjel kaget dan takut.

__ADS_1


Dia jadi gugup dan sedih. Heri masuk ke dalam kamar nya. Enjel menghela nafas panjang.


"Ada apa sih dengan ku? Ada apa dengan ku? Kenapa aku tidak terima melihat Heri bersama mbak Jesica." ucap Enjel.


__ADS_2