Perjodohan Sejak Dini

Perjodohan Sejak Dini
Episode 93


__ADS_3

"Orang tua ku sudah bercerai beberapa tahun yang lalu. Dan sekarang masing-masing mereka sudah memiliki kehidupan baru. Papah dengan istri baru dan juga anak-anak nya. Sementara Mamah hidup bahagia dengan suami brondong nya." ucap Enjel.


"Aku minta maaf yah, seharusnya aku tidak bertanya itu."


"Aku tidak sedih, kenapa aku harus sedih? Justru aku sangat bahagia melihat mereka bahagia dengan pilihan mereka." ucap Enjel.


"Lalu bagaimana dengan kamu?"


"Aku? Siapa yang perduli kepada ku? aku mati saja bahkan tidak ada yang perduli." ucap Enjel.


"Orang tua ku sudah lama tidak akur, mereka selalu ribut dan setelah mereka Berpisah semua nya damai, aku juga tidak tertekan setiap hari mendengar mereka berisik. Mereka meninggalkan aku di rumah kami. Mereka tidak perduli kepada ku dan tidak ada yang perduli sampai sekarang pada ku." ucap Enjel.


Heri terdiam. "Sebaik nya kita berangkat saja." ucap Enjel.


Heri menyudahi makan nya dan berangkat dengan Enjel bertemu dengan Radit.


Di rumah Abel sama sekali tidak bisa keluar dari kamar badan nya sangat lemas sekali. Farel nangis-nangis membuat kepada Abel semakin tambah pusing sekali.


Farel tidak mau Deng Bibik.


"Ada apa dengan ku? Kenapa begitu sakit dan Lemas?" ucap Abel. Dia duduk di kasur sambil menemani Farel main.


Wajah nya sudah sangat pucat sekali. "Non sini saya bantu pijit badan nya." ucap Bibik..Bibik baru bisa memijit badan Abel.


"Apa tidak Sebaik nya non memeriksa nya ke dokter?" tanya Bibik.


"Kalau ke dokter pasti mereka akan mengatakan sakit ku parah, aku tidak mau kefikiran bik." ucap Abel. Bibik menghela nafas sambil berfikir.


Dia memandangi badan Abel.


"Sebaik nya periksa dulu non, seperti nya badan non sangat berbeda." ucap Bibik.


"Maksud nya Bik?"


"Kelihatan nya Non sangat pucat, saya takut terjadi sesuatu." ucap Bibik.


"Tidak mungkin saya bilang non Abel hamil. Itu tidak lah mungkin." batin Bibik.


"Aku istirahat saja bik." ucap Abel.. Bibik mengangguk. Bibik keluar meninggalkan Abel dan juga Farel.


"Halo..." Radit menyempatkan diri menelpon istri nya.


"Halo kak."


"Bagaimana keadaan kamu masih sakit?" tanya Radit.


"Humm aku masih lemas."


"Kalau begitu saya akan meminta dokter ke sana."

__ADS_1


"Jangan! Tidak perlu kak." ucap Abel. Radit menghela nafas panjang. "Kalau begitu saya akan meminta Bibik membeli obat." ucap Radit.


"Baiklah." ucap Abel.


"Oh iya kak, seperti nya Bibik yang akan masak makan siang kakak." ucap Abel.


"Kamu tidak perlu memikirkan saya, penting kan saja kesehatan kamu." ucap Radit..Abel mengangguk.


"Kalau begitu kamu lanjut istirahat, saya mau lanjut kerja." ucap Radit.


"Kak aku denger sekarang Enjel bekerja dengan Heri teman kakak." ucap Abel. "Humm kenapa? apa Enjel memberitahu kamu?" tanya Radit.


Abel mengangguk.


"Aku rasa dia tidak nyaman dengan Heri kak, tidak perlu di paksakan."ucap Abel.


"Heri tidak akan berbuat jahat, dia sudah janji kepada saya..Dia hanya ingin mencoba mendekati Enjel dengan cara seperti ini." ucap Radit.


"Ya sudah deh kalau begitu, kalau terjadi apa-apa sama Enjel kakak yang salah." ucap Abel langsung mematikan sambungan telepon.


Tiba-tiba Heri masuk ke dalam ruangan nya.


"Sudah makan siang?" tanya Heri sambil duduk di sofa.


"Belum, mungkin istri ku akan mengantar kan makan siang. Kamu pergi lah makan siang dengan Enjel." ucap Radit.


Heri menggeleng kan kepala nya.


"Enjel seperti nya benar-benar tidak suka kepada ku. aku juga tidak enak kalau membuat dia tidak nyaman." ucap Heri.


"sudah lama kamu membuat dia tidak nyaman, kenapa baru sadar?" tanya Radit. Heri diam.


"Sudah lah bro kalau memang tidak jodoh jangan di paksakan." ucap Radit.


"Kau benar-benar Sahabat yang tidak bisa di andalkan..Kamu sudah tau berapa lama aku mengincar nya, tidak aku namanya kalau tidak mendapatkan nya." ucap Heri.


Radit tertawa. "Kamu buka tipe dia. Percuma saja kamu berusaha mati-matian. Enjel bukan perempuan gampangan seperti simpanan kamu itu." ucap Radit.


Heri menghela nafas.


"Aku ke sini mau meminta saran mu." ucap Heri.


"Aku tidak memiliki saran untuk mu sama sekali." ucap Radit.


Heri mendekati Radit. "Tidak mungkin! Bagaimana bisa kamu mendapatkan Istri mu Kalau begitu?" ucap Heri.


"Cukup mudah. Kami sudah di takdir kan bersama dari kecil." ucap Radit.


Heri menatap Radit. "Kepribadian istri mu dengan Enjel hampir sama." ucap Heri.

__ADS_1


"Cukup berikan dia perhatian, buktikan kamu mencintai nya dan jangan pernah membuat dia sakit hati atau kecewa." ucap Radit.


"Aku sudah melakukan nya." ucap Heri.


"Tapi semua yang kamu lakukan itu tertutup dengan satu kesalahan yang kamu lakukan yaitu pemain perempuan." ucap Radit.


Heri terdiam dia tidak tau harus menjawab apa. Tiba-tiba makan Siang Radit sudah datang.


"Kalau begitu aku permisi dulu." ucap Heri. Dia keluar dari sana dan menjadi keberadaan Enjel.


Dia melihat Enjel duduk di samping kantor. Dia melihat Enjel seperti nya melamun.


"Apa yang sedang kamu pikirkan? Ayo makan siang. Pekerjaan kita masih banyak." ucap Radit.


Enjel menoleh ke arah Heri. "Kamu saja, aku tidak berselera untuk makan siang." ucap Enjel.


Heri menarik tangan Enjel. "Tidak ada penolakan. Karena kalau perut kosong pasti tidak bisa berfikir dengan baik." ucap Heri.


Enjel tidak melakukan penolakan akhirnya dia pun pergi mengikuti Heri.


Di rumah Abel baru saja bangun siang..Dia terbangun karena perut nya tiba-tiba mual lagi.


"uwekk...uwekk.." Dia muntah sehingga membuat Farel bangun dan menangis.


Abel keluar dari kamar mandi.


"Kenapa kamu malah bangun Farel?" ucap Abel. Dia mendiamkan Farel terlebih dahulu.


"Huff ya Allah ada apa sih dengan ku? Kenapa rasanya aneh sekali, bahkan aku tidak bisa melakukan apapun." batin Abel.


Dia melihat handphone nya. "Telpon mamah saja, siapa tau mamah bisa datang ke sini." batin Abel.


"Halo mah." ."Halo nak."


"Mamah di Mana?"


"Nih Mamah lagi sama papah kamu di luar."


"Oohh aku mau nanya Mamah, Kapan Mamah ke sini?"


"Mungkin Minggu depan, ada apa nak?"


"Enggak kok mah, hanya bertanya saja." ucap Abel.


"Oohh, ya udah nanti mamah telpon lagi yah, nih Mamah lagi ada teman." ucap Mamah nya.


"Iyah mah." panggilan telepon langsung mati. Abel mengelus perutnya. "Ada apa sih dengan perut ku?" batin Abel.


Dia berbaring di kasur agar bisa mendingan, namun ternyata sama saja. Tetap saja pusing dan mual.

__ADS_1


Mendengar Farel marah membuat nya kesal.


Emosi nya tidak bisa di kontrol sama sekali.


__ADS_2