Perjodohan Sejak Dini

Perjodohan Sejak Dini
Episode 108


__ADS_3

Radit tersenyum melihat tingkah istri nya itu.


"Abel.. Abel.." ucap nya.


Setelah beberapa lama akhirnya Abel selesai mandi dia menelpon mamah Farel memastikan keadaan nya.


Namun Farel ternyata masih tidur.


Radit masuk ke kamar dia melihat istrinya sedang menelpon dengan Tante nya.


"Halo Tante apa kabar?" tanya Radit.


"Baik Radit..Kamu sendiri bagaimana?"


"Baik Tante." jawab Radit.


"Oh iya Tante mau bilang sama kamu jaga istri kamu baik-baik yah, jangan sampai buat dia sedih. Karena dia sangat sensitif di masa hamil nya."


"Iyah Tante." ucap Radit.


"Oh iya jangan lupa ajak istri mu sering olahraga, jalan-jalan." ucap Tante nya.


Radit terdiam karena dia belum pernah membawa istri nya jalan-jalan atau olahraga."


"Iyah Tante."


"Ya udah kalau begitu Tante tidur dulu yah, kalian juga istirahat lah." ucap Tante nya dan langsung mematikan sambungan telepon.


Radit menoleh ke arah istri nya.


"Kakak sudah mendengar nya kan?" ucap Abel.


"Hummm... Kalau saya sudah ada libur saya akan mengusahakan nya." ucap Radit.


Abel menghela nafas panjang. "Akhirnya pekan ini kakak tidak kunjung mengajak aku jalan-jalan, aku akan pergi dengan Mila." ucap Abel.


Radit menggeleng kan kepala nya. "Tidak boleh! Kamu harus pergi dengan saya." ucap Radit.


"Maka nya sesekali luang kan waktu kakak." ucap Abel. Radit mengangguk.


"Baiklah saya akan mengusahakan nya." ucap Radit. Abel tersenyum. "Ya udah kalau begitu kakak tidur lah, kakak pasti capek." ucap Abel.


Radit mengangguk dia memeluk istrinya dan tidur. Abel yang tidak bisa tidur dia menatap wajah suami nya.


"Semenjak nikah dengan kak Radit aku memang bahagia, aku juga merasa di jaga merasa di sayangi namun kenapa yah aku masih tidak bersyukur seperti ini?" ucap Abel.


Dia mengelus wajah suami nya. "Aku tau bukan tidak mau mengajak ku, namun pekerjaan nya tidak mengijinkan dia. Aku seharusnya lebih banyak mengerti keadaan nya." batin Abel.

__ADS_1


Dia mencium pipi suami nya. "Maafin aku yah kak yang selalu egois." ucap Abel dan memeluk suaminya setelah itu langsung tidur dengan santai nyenyak di pelukan suami nya.


Keesokan harinya... Radit berangkat ke kantor seperti biasa.


Sampai di kantor dia langsung di sambut oleh Novi.


"Apa bapak sudah sarapan?" tanya Novi.


"Saya sudah sarapan, kalau kamu mau sarapan pergi saja sebelum masuk kerja." ucap Radit karena tau Novi pasti mau mengajak dia.


Radit langsung masuk ke ruangan nya. "Hufff kenapa susah banget sih ngajak pak Radit?" ucap Novi sedikit kesal.


"Pokoknya aku harus segera mencari solusi agar pak Radit tidak semakin jatuh cinta kepada istri nya." batin Novi.


"Ekhem-ekhem!!!" Tiba-tiba Enjel datang. "Ada apa dengan kamu?" tanya Novi.


"Seperti nya ada yang lagi bad mood nih pagi ini, ada apa?" tanya Enjel.


"Kamu jangan bertingkah seperti itu kepada saya! saya adalah atasan kamu." ucap Novi.


"Saya hanya bertanya, apa itu tidak sopan? Siapa tau saya bisa membantu masalah mbak." ucap Enjel.


"Jangan ganggu saya, pergi kamu dari sini." ucap Novi kepada Enjel.


"Apa hak kamu mengusir sekretaris saya?" tanya Heri yang baru saja datang. Novi Langsung membungkukkan badan nya kepada Heri.


"Posisi kalian sama di kantor ini, saya tidak ingin kalian meributkan hal kecil. jangan membuat malu." ucap Heri.


"Baik pak, saya minta maaf." ucap Novi.


"Enjel tolong bawa semua berkas-berkas yang mau saya diskusikan dengan Radit." ucap Heri.


"Baik Pak." ucap Enjel. Dia mengikuti Heri ke ruangan nya.


Enjel menjulurkan lidah nya kepada Novi..Novi memasang wajah kesal.


"Dasar nyebelin!!!!" Ucap Novi.


"Kamu jangan mencari masalah kepada Novi di kantor." ucap Heri kepada Enjel.


"Bukan aku yang mencari masalah tapi dia." ucap Enjel.


"Sudah jelas aku melihat kamu menyusul dia pertama kali." ucap Heri.


"Aku hanya lewat saja. Namun aku melihat wajah dia." ucap Enjel.


'Kamu selalu saja memiliki Alasan!" ucap Heri.

__ADS_1


"Jadi kamu membela dia? Kamu menyukai dia yah?" tanya Enjel.


Heri menghela nafas panjang. "Aku lagi serius!" ucap Heri.


"Iyah aku tau aku salah. Aku tidak akan mengulangi nya lagi kalau dia tidak membuat aku kesal." ucap Enjel. Heri menggeleng kan kepala nya.


"Ya sudah kamu tunjukkan mana berkas-berkas itu saya akan ke ruangan Radit." ucap Heri.


Enjel mencari berkas nya setelah dapat dia memberi kepada Heri.


"Nih." ucap Enjel memberikan kepada Heri.


Heri Mengambil nya dengan sengaja menyentuh tangan Enjel. Enjel langsung menghindar.


"Jangan coba-coba untuk berfikir yang aneh-aneh." ucap Enjel kepada Heri karena menatap nya dengan tatapan yang membuat Enjel geli.


Enjel langsung keluar dari sana. Dia masuk ke ruangan kerjanya.


"Cieeee akhir-akhir ini kamu dengan pak Heri sudah semakin dekat saja..." ucap teman nya.


"Jangan mencoba membahas itu, aku tidak senang." ucap Enjel.


"Humm jadi benar dong kamu dengan pak Heri sudah pacaran?" tanya Teman nya.


"Sampai kapanpun aku tidak mau berpacaran dengan pria Playboy seperti dia." ucap Enjel.


"Tapi pak Heri sangat kaya, sama seperti pak Radit..Kamu hanya karyawan biasa sebenarnya kamu harus menerima pak Heri." ucap teman nya.


"Aku tidak mau! kenapa tidak mau saja sana." ucap Enjel. "Huff seandainya saja kamu adalah aku, aku akan langsung menerima pak Heri tanpa Penolakan." ucap teman nya.


"Kalau begitu pergi lah tawar kan diri, pak Heri seorang playboy dia pasti mau sama kamu. Kamu lebih cantik dari aku." ucap Enjel.


"Kamu benar banget. Aku sangat cantik semua orang mengakui itu." ucap teman nya.


Enjel menghela nafas panjang, dia pun langsung diam.


Setelah beberapa lama Heri dan Radit keluar dari ruangan untuk makan siang.


"Ya ampun Pak Radit dan Juga pak Heri seperti dua Pangeran. sangat tampan sekali." ucap seseorang yang duduk di dekat Enjel. Dan kebetulan Novi juga ada di sana.


"Kalian hanya bisa mengagumi nya saja." ucap Novi.


"Termasuk Ibu, karena sekarang pak Radit sudah menjadi suami orang lain dan juga sudah mau menjadi seorang ayah." ucap Enjel.


Novi melihat Enjel seperti mau menelan nya hidup-hidup.


"Huff Untung saja aku menjadi sekretaris Heri, jadi aku ada peluang untuk mengutarakan apa yang di hati ku kepada Novi yang sangat mengesalkan. Bisa-bisa nya pak Radit sudah menikah mau di rebut." batin Enjel.

__ADS_1


"Enjel Tolong pesan satu meja untuk tiga orang di restoran XXX." ucap Radit kepada Enjel.


__ADS_2