Perjodohan Sejak Dini

Perjodohan Sejak Dini
Episode 167


__ADS_3

"Semangat yah kerja nya. Kakak harus lebih giat karena sebentar lagi anak kita akan lahir." ucap Abel.


"Tabungan kita sudah cukup untuk membiayai tujuh anak, kamu tidak perlu khawatir tentang itu." ucap Radit. Abel tersenyum.


"Ya udah berangkat gih, hati-hati." ucap Abel.


"Kamu juga hati-hati berkendara ke rumah mamah


." ucap Radit. Abel mengangguk.


Setelah Radit pergi Abel duduk di teras sendirian.


"Aku yakin kak Radit tidak tidur di rumah mamah." batin Abel.


Sebenarnya dia hanya berbohong bilang kalau dia akan ke rumah mertua nya.


"Aku tidak tau apa yang sembunyikan oleh kak Radit, namun kenapa aku sangat takut? kenapa aku sangat khawatir?" ucap Abel.


"Aku tidak ingin tau karena aku takut akan tersakiti, namun sekarang aku sangat penasaran." ucap Abel.


Dia terus memikirkan itu. "Tapi... aku gak mau karena aku sangat penasaran aku jadi tersakiti sama seperti sebelumnya. Di tambah lagi aku sedang hamil.' ucap nya.


"Kak Radit tidak mungkin seperti itu, aku tau jelas kalau kak Radit tidak mungkin selingkuh. Kalau pun dia selingkuh pasti ada hukuman untuk dia." ucap Abel.


"Pasti nya bukan aku saja yang merasakan sakit dada ini, pasti dia juga merasakan nya." ucap Abel.


"Hayooo... kakak lagi mikirin apa sih?" tanya Mila yang baru saja keluar dari rumah dan melihat kakak nya melamun ini.


"Kamu membuat kakak terkejut saja." ucap Abel.


Mila tersenyum. "Kenapa kakak belum siap-siap? Bukan nya kakak mau ke rumah mertua kakak?"


"Gak jadi Mila, mertua kakak sedang ada urusan mendadak." ucap Abel. "Oohh ya sudah kalau begitu, aku bisa menonton Drakor seharian.' ucap Mila.


"Tidak bisa! Kamu harus nganterin kakak ke rumah mamah dan papah."


"Yahhh kenapa harus ke rumah sih kak?"


"Sudah lama kakak tidak bertemu mamah dan papah. kakak juga merindukan mereka." ucap Abel.


"Kakak sendiri saja deh, aku males banget mau keluar." ucap Mila. "Tidak bisa! Kamu harus ikut." ucap Abel. "Aku Abel....." ucap Mila merengek.


Di perusahaan Heri dan Enjel juga baru sampai dan melihat Radit yang baru sampai.


"Selamat pagi Pak..." sapa Enjel.. Radit tersenyum sambil mengangguk.


"Oh iya Abel saya mau berbicara dengan kamu dan Novi jam sepuluh Nanti di ruangan saya." ucap Radit. Abel mengangguk. Setelah itu Radit berlalu begitu saja.


"Apa yang akan di bicara kan oleh Radit kepada kamu?" tanya Heri. Enjel menggeleng kan kepala nya.

__ADS_1


Novi dan Enjel sudah di depan ruangan Radit.


"Kira-kira apa yah yang mau di bicarakan oleh pak Radit?" ucap Novi kepada Enjel.


"Aku juga tidak tau, kita berdua sama-sama bingung." ucap Enjel.


"Ayo masuk." ucap Radit membuat mereka berdua terkejut dan langsung mengangguk dan masuk ke dalam.


Radit mempersilahkan duduk di kursi. Mereka berdua tetap saja mengikuti perintah Radit walaupun dengan wajah yang sangat bingung.


"Kalian pasti bingung kenapa saya memanggil kalian ke ruangan ini kan?" tanya Radit. Novi dan Enjel mengangguk.


"Ini bukan tentang pekerjaan, kalian tidak perlu tegang. Ini hanya hal biasa." ucap Radit.


"Tentang apa Pak?" tanya Enjel.


Radit menunjuk kan layar nya dan mereka melihat kalau Tifani menelpon Radit Tampa henti.


"Maksud nya pak?"


"Seperti yang kalian tau kalau sekarang Tania semakin menjadi-jadi mengejar-ngejar saya." ucap Radit.


"Saya sangat takut istri saya tau tentang Tania. Saya ingin solusi dari kalian berdua karena kalian akhir-akhir ini sangat dekat dengan Abel.


"Kami minta maaf pak, tapi kami tidak tau mau memberikan solusi bagaimana kepada bapak." ucap Enjel.


"Itu semua tergantung Bapak. Kalau bapak tegas semua nya tidak akan seperti ini." ucap Novi.


"Maksud kamu?"


"Sebelum nya kami sudah bilang kalau Bapak harus jujur.. Namun sampai sekarang bapak tidak mau jujur. seperti nya Bapak masih memiliki perasaan kepada mbak Tania itu sebab nya bapak tidak tega untuk tegas." ucap Enjel.


Radit terdiam. "Kami tidak ingin di libatkan tentang ini pak, kami permisi." ucap Enjel dan langsung keluar menarik tangan Novi dari sana.


"Enjel kenapa kamu sepe itu? Bukan kah kita tidak sopan kalau seperti?".


"Aku tau. Hanya saja pak Radit harus memikirkan apa yang terbaik untuk diri nya sendiri." ucap Enjel.


"Humm kamu benar sih, aku hanya takut kalau nanti Abel tau semua nya sendiri." ucap Novi.


"Sudah kita tidak perlu pusing memikirkan itu." ucap Novi.


Setelah beberapa lama akhirnya mereka pergi dari sana.


"Pak Heri." ucap Enjel kaget melihat Heri duduk di kursi kerja nya.. Melihat Enjel datang Heri tersenyum.


"Ada apa?" tanya Enjel. Heri berdiri dia memberi kan makanan kepada Enjel.


"Nih untuk kamu." ucap Heri memberikan cemilan dalam kantong plastik.

__ADS_1


Enjel menghela nafas panjang. "Huff kamu bisa ngasih ini di luar, kenapa harus di sini? bagaimana kalau orang lain bertanggapan aneh?"


"Aku tidak perduli, aku akan melakukan apapun yang aku suka dan tidak akan melakukan apapun yang tidak aku suka." ucap Heri.


Enjel menghela nafas panjang. "Sudah-sudah kamu keluar sana, aku mau lanjut bekerja."


"Apa kamu tidak mengucapkan terimakasih?"


"Terimakasih." ucap Enjel dan mendorong Heri keluar.


Setelah Heri keluar semua mata melihat ke arah dia.


"Kamu dengan pak Heri sudah pacaran kan?" tanya Teman nya.


Enjel tersenyum saja. "Kamu tidak bisa berbohong." ucap Teman nya lagi.


"Kami hanya dekat, tidak ada hubungan apapun selain teman." ucap Enjel.


"Bohong! Pak Heri bilang kalian sudah pacaran Bahkan sudah berbulan-bulan." ucap Teman nya.


Enjel menghela nafas panjang.


"Kalian lanjut kerja yah, aku mau membawa berkas-berkas ini kepada pak Radit.".


"Kamu selalu saja malu kalau sudah ketahuan." ucap Rio.


Mereka semua meledek teman nya itu.


Enjel masuk ke ruangan Heri dengan tatapan kesal.


"Ada apa dengan kamu? kenapa kamu tiba-tiba masuk dan memasang wajah jelek seperti itu?"


"Apa yang kamu katakan kepada teman-teman ku?"


"Tidak ada." ucap Heri.


"Aku serius!" ucap Enjel.


"Mereka bertanya kalau aku sudah punya pacar apa belum, dan aku bilang kalau aku punya."


"Kamu bilang nama aku?" Heri dengan polos nya sambil mengangguk.


Enjel menghela nafas panjang.


"Aku sudah bilang kan Jangan sampai orang lain tau hubungan kita."


"Kita sudah pacaran berbulan-bulan Enjel, sampai kapan kamu mau menyembunyikan hubungan kita seperti ini? Aku jadi gak lelah, selama ini aku mendengar kan perkataan kamu." ucap Heri.


"Kalau kamu lelah ya sudah kita putus saja." ucap Enjel. Heri kaget diam menatap Enjel.

__ADS_1


__ADS_2