Perjodohan Sejak Dini

Perjodohan Sejak Dini
Episode 186


__ADS_3

Zaki menatap wajah Tania.


"Huff Abel masih belum mau bicara dengan kamu ?" tanya Zaki.


Tania mengangguk. "Ini salah ku, ini semua salah ku. Seharusnya aku tidak perlu mengejar Radit lagi dan menahan untuk tidak mengurus surat cerai, semua nya jadi seperti ini." ucap Tania.


"Tania berhenti menyalah kan diri sendiri. Kamu segera minta maaf kepada Tania dan bercerai dengan Radit. Sisa nya akan di atur oleh Radit seperti yang dia katakan." ucap Zaki karena Radit sebelum nya sudah menemui Tania.


Semua nya sudah di putus kan oleh Tania kalau dia akan berpisah dengan Radit. Dia akan mengakhiri semua nya demi kebahagiaan Radit.


"Kamu belum bisa melepaskan Radit dengan ikhlas?" tanya Zaki kepada Tania.


Tania diam menunduk kan kepala nya. Zaki menghela nafas panjang.


"Apa yang kamu lihat dari Radit? Apa yang kamu harapkan lagi dari dia?" tanya Zaki.


"Kamu jangan berbicara seperti itu tentang Radit. Kamu tidak akan pernah merasakan apa yang aku rasakan." ucap Tania.


"Baiklah-baiklah aku minta maaf, aku tidak berniat untuk menjelekkan tentang Radit, aku hanya kesal." ucap Zaki.


"Radit adalah pria yang baik, pria yang sudah pernah mencintai ku sangat tulus, menyanyangi ku namun aku menyia-nyiakan nya begitu saja. Dan hanya dia yang mencintai ku seperti itu." ucap Tania.


"Kapan mata kamu terbuka Tania.. Aku sudah lama di sini bersama kamu, aku sudah lama menyukai kamu. Kenapa harus Radit yang selalu jadi pemenang nya." ucap Zaki dalam hati.


"Aku tidak akan pernah mendapatkan pria seperti Radit lagi di dalam hidup ku." ucap Tania. Zaki memeluk Tania.


"Jangan berbicara seperti itu, yakin lah kalau kamu akan mendapatkan pria yang lebih dari Radit." ucap Zaki.


"Itu tidak mungkin, aku sudah menyia-nyiakan kesempatan yang di berikan hanya satu kali seumur hidup." ucap Tania.


Di malam hari nya Abel baru saja selesai makan sendiri di meja makan.


"Apakah hidup ku akan jauh lebih berantakan sekarang?" ucap Abel. Tiba-tiba handphone nya berdering dia menjawab telpon dari Orang tua nya.


"Halo Abel, kamu sedang apa nak? kamu sudah makan?"


"Sudah kok mah, nih baru saja selesai." ucap Abel.


"Oohh bagus lah nak, kamu sama Radit?" tanya Papah nya.


"Kak Radit belum pulang kerja mah."


"Oohh ya sudah, kamu jag diri baik-baik, kalau ada sesuatu segera kabari mamah dan Papah." ucap orang tua nya.


Abel mengangguk.


Tiba-tiba bel berbunyi. Telpon langsung di akhiri oleh Abel.

__ADS_1


Dia membuka pintu ternyata suami nya.


"Kenapa harus menekan bel? Kakak bisa langsung masuk. Mengganggu saja." ucap Abel.


Radit yang tadinya tersenyum langsung Datar karena mendengar kata-kata Abel.


"Apa kamu sudah Makan? saya membeli makan dari luar, ayo makan bersama." ajak Radit.


"Aku sudah selesai makan, perduli kan saja diri kakak sendiri." ucap Abel langsung masuk ke kamar. Radit menghela nafas panjang dia diam saja.


Radit baru saja selesai makan, langsung mandi dan setelah itu pergi ke kamar. Saat mau masuk ke kamar ternyata pintu nya di kunci.


"Tok!! Tok!! Tok!!" Abel buka pintu nya, saya mau masuk." ucap Radit.


Abel membuka pintu dia memberikan bantal dan juga selimut Radit.


"Kakak tidur di kamar lain saja, aku sedang ingin sendiri dan tidak ingin di ganggu."


"Tapi..."


"Kalau kakak masih ingin aku di sini, kakak harus mengikuti perkataan ku." ucap Abel.


Radit menghela nafas panjang. "Baiklah, tapi kamu jangan bergadang. Kalau kamu butuh sesuatu panggil saya." ucap Radit.


Abel memasang wajah cuek, Radit mau mengelus perut Abel.


"Tidak bisa!" ucap Abel dan menutup pintu. Radit menghela nafas panjang.


"Bagaimana aku bisa tidur kalau tidak dengan Abel dan Bersama anak ku?" ucap Radit. Akhirnya di memilih untuk tidur di depan pintu Abel.


Di tempat lain..


"Novi bagaimana ini? Abel meminta kita datang hari Minggu menemui nya." ucap Enjel.


Novi sedang di apartemen Enjel.


"Huff habis lah kita Enjel. Sebentar lagi Abel akan membenci kita." ucap Novi.


"Huff aku juga sangat takut Novi." ucap Enjel.


"sudah-sudah sebaiknya kita tidur, aku sudah sangat mengantuk.. Urusan Abel kita bisa berlindung kepada pak Radit." ucap Novi.


"Kamu enak bisa berbicara seperti itu, bagaimana dengan aku?" ucap Enjel. Namun Novi sudah tidur.


Enjel keluar dari kamar dia menghela nafas panjang. Mondar-mandir karena takut.


"Kalau Abel tau kami selama ini menyembunyikan nya dia pasti akan sangat marah, dia akan berhenti berteman dengan ku?" ucap Enjel.

__ADS_1


Handphone Enjel berdering dari Heri.


"Halo..." ucap Heri.


"Kenapa sudah tengah malam seperti ini kamu baru menghubungi aku? aku menunggu dari tadi sore." ucap Enjel marah.


"Kenapa kamu marah Sayang? Aku sudah bilang kalau aku mau tidur sebentar, aku baru saja bangun." ucap Heri terkejut karena Enjel marah.


Enjel terdiam. Dia melihat jam dan ingat kalau Heri ijin tidur sebentar karena kelelahan.


"Maafin aku, aku sangat pusing."


"Kenapa? Apa Radit memberikan banyak pekerjaan kepada kamu? aku akan menghubungi dia." ucap Enjel.


"Bukan. Bukan masalah itu."


"Lalu kenapa sayang?"


"Sekarang Abel sudah tau kalau pak Radit sudah pernah menikah, dan orang-orang tertentu pasti sudah tau pernikahan itu. Sekarang Abel meminta aku dan Novi menemui nya hari Minggu."


"Pergi saja apa salah nya?"


"Tidak semudah itu Heri.. Aku yakin Abel pasti menanyakan hal itu kepada ku dan juga Novi."


"Katakan saja dengan Jujur. Abel juga pasti mengerti alasan kalian menyembunyikan nya." ucap Heri.


Enjel menghela nafas panjang. Dia berbaring di sofa. "Huff aku. sangat merindukan kamu." ucap Enjel. Heri tersenyum.


"Aku ingin melihat wajah kamu." ucap Heri. Panggilan beralih ke panggilan Video.


"Kenapa kamu tidur di sofa?" tanya Heri.


"Novi sudah tidur, aku takut nanti dia terganggu karena kita telponan." ucap Enjel.


"Oohh begitu kah." ucap Heri, Enjel mengangguk.


"Kamu baru mau mandi?" tanya Enjel kepada Heri yang tidak memakai baju .


"Benar, apa kamu mau ikut mandi?" tanya Heri. Enjel menggeleng kan kepala nya dengan cepat.


"Aku tidak mau. Kalau begitu kamu Mandi saja dulu, setelah itu hubungi aku lagi. Seperti nya aku tidak akan bisa tidur." ucap Enjel.


Heri mengangguk. Setelah itu Heri pergi mandi.


Abel menunggu Heri sambil memasak mie instan untuk dia makan.


"Tapi kalau di pikir-pikir di posisi Tania sebenarnya jauh lebih sakit." batin Enjel terlintas saja dari pikiran nya.

__ADS_1


__ADS_2