Perjodohan Sejak Dini

Perjodohan Sejak Dini
Episode 66


__ADS_3

"Saya juga sangat mencintai kamu, saya sangat tersiksa ketika tidak melihat kamu satu jam saja." ucap Radit. Abel tersenyum mendengar itu.


"Maafin aku sudah membuat kakak lama menunggu, maafin aku." ucap Abel langsung memeluk Radit yang masih berbaring.


Radit membalas pelukan Abel. "Ini tidak mimpi kan? Aku tidak mimpi." ucap Radit setelah melepas kan pelukan nya.


Abel memegang tangan Radit.


"Kakak gak mimpi kok." ucap Abel sambil memegang tangan Radit dan mencium pipi nya.


"Sekarang kita sudah berbaikan lagi?" tanya Radit. Abel mengangguk.


"Kita sudah resmi menjadi suami istri?" tanya Radit. Abel mengangguk.


Radit tersenyum dia tidak berhenti memeluk istrinya.


"Saya sangat mencintai kamu Abel, jangan pernah meninggalkan saya lagi." ucap Radit.


Abel mengangguk.


"Lepaskan aku kak, aku sangat sesak kalau seperti ini." ucap Abel karena Radit memeluk nya terlalu erat dan juga Sudah sangat lama.


"Maaf-maaf." ucap Radit sambil melepas kan. Mereka duduk saling tatap.


"Jadi sekarang kita sudah resmi suami istri yang saling mencintai?" tanya Radit. Abel mengangguk.


"Kamu benar-benar mencintai saya?" tanya Radit.


Abel mengangguk lagi. "Kamu tidak akan pernah meninggalkan saya kan?" tanya Radit. Abel tersenyum.


"Kamu tidak akan mengatakan kalau kamu tidak mencintai saya lagi kan?" tanya Radit lagi.


"Iyah kak, setiap hari aku akan mengatakan kalau aku mencintai kakak." ucap Abel.


Radit sangat senang sekali mendengar Jawaban istri nya itu.


"Apa saya boleh panggil kamu dengan panggilan sayang? Atau istri ku?" tanya Radit.


"Humm aku rasa Abel saja sudah cukup kak, aku tidak terbiasa dengan itu." ucap Abel.


"Kamu akan terbiasa nanti nya." ucap Radit.


"Humm kalau begitu kita akan memulai hidup baru lagi." ucap Radit.


Abel mengambil tas nya dari atas meja. Dia mengeluarkan Kotak cincin.


"Untuk apa ini?" tanya Radit.


"Aku sekarang sudah bersedia memakai nya." ucap Abel. Radit tersenyum.


Selama ini mereka tidak memakai cincin pernikahan agar tidak ada yang tau, namun sekarang tidak ada yang perlu di sembunyikan lagi di antar mereka berdua ataupun hubungan mereka.


Radit memasang kan Cincin ke jari manis Abel. Dan Radit meminta Abel memasang cincin yang dia punya.

__ADS_1


"Maafin aku terkadang banyak salah kepada kakak. Aku benar-benar minta maaf. Mulai dari sekarang aku akan mencoba merubah kebiasaan buruk ku." ucap Abel.


Radit tersenyum. "Saya tidak mempermasalahkan itu, saya hanya minta jangan membuat dada sakit karena itu pasti mengenai hubungan kita." ucap Radit.


Abel mengangguk. "Mari kita saling menjaga perasaan masing-masing." ucap Abel.


Malam Itu serasa malam yang panjang bagi mereka berdua. Malam yang sangat berarti. Malam yang indah dan malam yang di inginkan.


Abel dan Radit satu kamar tidur bersama seperti suami istri pada umumnya.


Bukan lagi karena terpaksa.


"Ya udah kalau begitu ayo kita istirahat." ajak Radit. Abel mengangguk.


"Apa kakak tidak mau tukar baju dulu?" tanya Abel melihat Radit masih memakai baju kerja.


Radit baru sadar.


"Huff saya terlalu lelah sehingga tidak sadar." ucap Radit.


Dia langsung ke kamar mandi.


Sementara Abel hanya menukar pakaian saja.


Radit baru saja selesai mandi. Abel melihat Radit.


"Sini." ucap Abel menepuk tempat tidur di samping nya.


Radit naik ke kasur dan berbaring di samping Abel yang duduk.


Radit menghela nafas panjang. "Kamu mengejek saya?" tanya Radit. Abel tertawa kecil.


"Enggak kak, aku mau merawat wajah kakak agar terlihat tampan lagi." ucap Abel sambil meletakkan masker wajah di wajah Radit.


"Bukan hanya wajah saya yang kusam, saya juga tidak berselera makan karena kamu tidak ada. Seandainya nanti kamu tidak ada lagi saya akan seperti ini." ucap Radit.


Abel mencubit lengan Radit. "Kalau kakak melakukan ini lagi aku akan marah." ucap Abel.


"Sakit sayang..." ucap Radit dengan sangat manja. Abel tersipu malu mendengar Radit.


"Sekarang kakak mau Makan?" tanya Abel. Radit menggeleng kan kepala nya.


"Kenapa? apa kakak tidak lapar?" tanya Abel.


"Saya sudah kenyang melihat kamu dari tadi tersenyum kepada saya." ucap Radit.


"Huff kakak sudah mulai berbual." ucap Abel. Radit tersenyum.


"Tidur lah." ucap Radit sambil menepuk lengan nya. Abel berbaring di lengan Radit.


"Kamu istri saya."


"Kakak suami ku."

__ADS_1


Kedua nya pun tidur dengan sangat nyenyak sekali.


Keesokan harinya Radit dan Abel harus ke rumah orang tua Radit karena tiba-tiba Papah Radit sakit mendadak.


Tidak tau apa penyebab nya namun tiba-tiba saja. Namun tidak terlalu parah.


Radit dan Abel sudah sampai siang tadi.


"Mah bagaimana keadaan papah?" tanya Radit yang menunggu di depan ruangan Papah nya.


"Masih di periksa oleh Dokter nak, semoga saja tidak ada terjadi apa-apa." ucap Bu Novi.


"Kok bisa sih mah? kemarin papah sehat-sehat saja." ucap Radit.


"Papah mu membaca komentar-komentar orang-orang di handphone nya, dia syok mendengar nya." ucap Bu Vina.


Radit menoleh ke arah Abel.


"Maafin aku mah, seharusnya aku tidak menutupi semua nya itu." ucap Radit.


"Sudah tidak apa-apa nak, semua nya sudah terlanjur. Mau bagaimana lagi." ucap mamah nya.


Radit dan keluarga nya masuk ke dalam melihat papah nya.


Pak Malvin melihat Radit dan Abel.


"Bagaimana keadaan papah?" tanya Radit.


"Ngapain kalian ke sini?" tanya Papah nya membuat Abel dan Radit kaget.


"Pergi kalian dari sini! Papah tidak mau melihat Kalian berdua!" ucap papah nya.


Bu Novi meminta mereka keluar.


"Untuk sekarang kalian jangan datang dulu yah sampai keadaan papah benar-benar sembuh. Dia masih syok karena tau berita itu." ucap Bu Vina.


"Iyah mah." ucap Radit.


Abel dan Radit pulang dari rumah sakit.


"Kak aku minta maaf yah, ini semua karena aku. Coba saja kita tidak menyembunyikan pernikahan ini, tidak akan membuat orang tua kakak malu." ucap Abel.


"Jangan merasa bersalah seperti itu. Kakak yang salah." ucap Radit.


"Jangan berbicara seperti itu kak, aku ingin kakak tegas kepada ku, aku juga yang salah." ucap Abel.


Radit memeluk istrinya.


"Sekarang kamu juga harus memikirkan Orang tua kamu, kalau mereka tau mereka juga pasti sangat kecewa sama kita berdua." ucap Radit.


Abel mengangguk. "Iyah kak, aku juga sedang memikirkan itu." ucap Abel.


"Ya sudah kalau begitu kita pulang saja yah." ucap Radit.

__ADS_1


"Humm Iyah kak." ucap Abel.


Kedua nya sudah tidak bisa mengatakan apapun lagi kecuali berpasrah diri.


__ADS_2