Perjodohan Sejak Dini

Perjodohan Sejak Dini
Episode 144


__ADS_3

Abel tersenyum.


"Maafin aku mah." ucap Abel.


Tidak lama orang tua Abel datang.


"Semua nya ayo makan siang dulu, aku sudah rindu kalian ajak Abel.


Mereka setuju.


"Kak Radit kok gak ada yah? Tapi mungkin dia Sibuk aku tidak boleh terlihat posesif di depan keluarga ku." ucap Abel.


Saat sedang makan siang suami nya datang.


"Kak Radit." ucap Abel langsung memeluk suaminya.


"Bagaimana liburan nya?"


"Sangat seru." ucap Abel. Radit tersenyum.


Mereka makan bersama. Makan ramai-ramai sangat seru.


Saat sedang asik makan Enjel di telpon oleh Heri karena sudah sangat merindukan nya. Namun Enjel mengabaikan nya.


Selepas pulang dari sana Enjel mengantarkan Abel, dia masih ingin mendengar kan banyak cerita pengalaman Abel di luar negeri.


"Sudah sore Abel, aku pulang dulu yah " ucap Enjel.


"Iyah, makasih yah sudah datang." ucap Abel. Enjel tersenyum dia memeluk Abel.


"Kamu jaga kesehatan selalu yah." ucap Enjel. Abel mengangguk.


Enjel tidak lupa mengelus perut Abel.


"Perut kamu sudah kelihatan saja, aku tidak sabar menunggu anak itu lahir." ucap Enjel. Abel tersenyum.


"Kamu sendiri kapan nyusul? Bukan nya kamu dengan Heri sudah cocok?"


"Aku belum kefikiran." ucap Enjel. Abel tersenyum.


Radit masuk ke kamar.


"Aku pamit yah Abel."


"Sampai jumpa besok." ucap Abel melambaikan tangan nya.


"Permisi pak." Radit mengangguk. Abel tersenyum melihat Radit. Radit juga tersenyum.


Radit duduk di samping Abel.


"Anak papah lagi apa tuh di sana? Kamu sudah semakin besar saja yah." ucap Radit mengelus perut Abel.


Abel hanya tersenyum. Walaupun sebenarnya dia sangat kefikiran dengan apa yang dia lihat kemarin, namun dia berusaha untuk tidak membahas nya.


"Bagaimana kabar kakak di Sini?" tanya Abel.


"Semua nya baik-baik saja. Hanya saja saya sangat merindukan kamu." ucap Radit.


Abel tersenyum. Radit mau mencium bibir Abel namun Abel menahan nya.


"Aku mau mandi dulu kak." ucap Abel.


"Yahh saya bantuin yah."

__ADS_1


"Kak Radit..." ucap Abel malu.


"Kok kamu jadi malu gini sih?" ucap Radit.


"Humm aku sekarang sudah gemuk, perut ku juga buncit. aku malu." ucap Abel.


Radit tersenyum dia menarik tangan Abel ke kamar mandi dan mandi bersama berendam di bathtub.


"Kak akhir-akhir ini kakak pernah merasakan sakit dada seperti dulu lagi gak?" tanya Abel. Radit menggeleng kan kepala nya.


"Kutukan itu sudah hilang karena kita sudah menikah, jadi tidak mungkin sakit lagi." ucap Radit.


"Oohh begitu yah kak." ucap Abel.


"Kenapa? Apa kamu sakit?" Abel Langsung menggeleng kan kepala nya.


"Enggak kok kak." ucap Abel.


"Sakit itu akan timbul ketika satu sama lain saling menyakiti. Atau ada Masalah di hubungan kita." ucap Radit.


"Oohh gitu yah kak? Bagus deh kalau begitu aku lega mendengar nya." ucap Abel. Radit tersenyum.


Selesai mandi mereka mengeringkan tubuh. Radit membantu mengerti rambut istri nya.


Tidak beberapa lama Radit kembali dari luar mau mengambil buah untuk isti nya.


"Sayang kenapa kamu belum pakai baju?" tanya Radit.


Radit melihat pakaian yang di tempat tidur.


"Kok kamu sedih? ada apa dengan pakaian ini?"


"Badan ku sudah semakin besar. Semua pakaian ku ini pas badan, rasanya sangat sempit dan tidak leluasa."


"Kamu memiliki banyak baju yang berukuran besar."


Radit bingung harus bagaimana.


"Aku sudah semakin gendut, badan ku sudah bongsor aku pasti sangat jelek, ini semua karena kakak."


"Maafin saya, jangan sedih. Saya akan membeli baju yang lebih besar." ucap Radit.


"Menunggu kakak membeli nya sudah membuat aku masuk angin." ucap Abel.


Radit menoleh ke arah lemari baju nya.


"Kamu pakai baju saya saja."


Tidak beberapa lama Abel keluar dari kamar mandi. Radit melihat Istrinya dan tertawa kecil.


"Kak Radit kenapa ketawa? Ini sudah sangat nyaman aku pasti tidak nyenyak." ucap Abel.


Radit melihat baju nya yang kedodoran kepada Abel.


Abel memakai skincare nya. Radit memerhatikan nya terus.


"Kenapa aura Abel semakin cantik sih? Apa karena hamil? dia semakin cantik saja." batin Radit.


Radit berdiri tiba-tiba dia memeluk Abel dari belakang.


"Kak Radit, apa yang kakak lakukan?"


"Saya tidak bisa menahan nya lagi, kamu sangat cantik memakai baju saya." ucap Radit mencium leher Abel.

__ADS_1


"Tapi aku sedang tidak mood kak, aku lagi lelah." Radit mengangkat badan Abel.


"Kamu berbaring dan diam saja, saya yang akan melakukan nya. Kamu sudah membuat saya berpuasa beberapa Minggu. Saya tidak akan melepaskan kamu." ucap Radit.


Putri tersenyum dia berbaring di tempat tidur. Radit mulai menciumi Abel.


"Kak kakak janji kan tidak akan meninggalkan aku atau menghianati aku?" tanya Abel. Radit Menatap wajah Abel.


"Saya tidak akan pernah melakukan itu. Karena kamu lah yang terakhir." ucap Radit. Abel tersenyum.


Abel membuka kaos suami nya.


"Aku ingin hanya aku yang bisa memeluk badan kakak dan bersandar di dada kakak. Jangan biarkan perempuan lain." ucap Abel.


Radit mengangguk. Mereka pun melanjutkan olahraga malam. Kedua nya sangat bersemangat sampai tiga ronde.


Sementara di apartemen Enjel. Heri baru saja pulang sangat lesu, dan juga sangat lemas.


Dia berjalan ke arah ruang tamu dengan sangat malas. Namun dia melihat Enjel di sana.


"Kamu sudah pulang?" tanya Enjel yang sedang menonton.


Heri memasang wajah cemberut.


"Aku minta maaf.. Aku tadi mengabaikan telpon kamu karena bersama Abel." ucap Enjel.


Heri tetap memasang wajah cemberut. Enjel merentang kan tangan nya.


"Yakin kamu tidak mau di peluk sama pacar kamu? Kamu pasti sangat lelah kan?" tanya Enjel.


Hery tetap jual mahal.


"Baiklah aku tau kamu marah." ucap Enjel. Tiba-tiba Heri mendekati Enjel dan memeluk nya. Enjel sambil berbaring karena badan Heri sangat berat.


"Saya tidak mau lain kali kamu melakukan hal seperti itu, kalau tidak bisa menjawab telpon setidaknya kasih kabar." ucap Heri.


Enjel tersenyum dia mengelus rambut Heri.


"Aku minta maaf."


"Aku tidak memaafkan kamu."


"Sebagai permintaan maaf ku aku akan masak makanan kesukaan kamu." ucap Enjel. Heri menggeleng kan kepala nya.


"Saya mau memeluk kamu." ucap Heri.


"Apa kamu tidak lapar? Kamu harus mandi dulu." ucap Enjel.


Heri menggeleng kan kepala nya.


Enjel menghela nafas panjang.


"Besok aku akan pulang ke kota saya." ucap Heri.


"Ngapain?" tanya Enjel.


"Kakak ku mau menikah." ucap Heri.


"Lalu masalah nya Apa?"


"Kamu ikut aku yah." ucap Heri.


"Kak aku sudah cuti selama satu Minggu, Kalau aku cuti lagi pak Radit akan marah."

__ADS_1


"Aku adalah bos kamu."


"Tetap saja aku gak enak sama yang lain." ucap Enjel.


__ADS_2