
"Tumben banget kak Radit cepat pulang, biasa nya selalu lama." ucap Abel.
Tidak beberapa lama Radit keluar dari kamar mandi.
"Apa pakaian saya sudah kamu ambil kan?" tanya Radit memeluk Abel dari belakang. Abel sedang memilih pakaian nya.
"Kak Radit.. Apa yang kakak lakukan?" ucap Abel karena Radit basah.
Radit tersenyum dia mencium pipi Abel.
"Saya mau kamu pakai ini." ucap Radit memilih pakaian untuk Abel.
Abel tersenyum. "Baiklah." ucap Abel.
"Sekarang lepas kan aku, aku mau mandi, pakaian kakak sudah di atas kasur." ucap Abel.
"Abel.. Apa kamu tidak nyaman saya peluk seperti ini? Saya sangat merindukan kamu." ucap Radit. Abel menghela nafas panjang.
"Jangan seperti ini kak, bagaimana kalau Farel melihat nya." ucap Abel.
"Dia anak kecil, tidak tau apa-apa." ucap Radit.
Abel diam. "Ya sudah kalau begitu kamu mandi gih." ucap Radit.
Radit dan Farel sudah menunggu di lantai bawah.
"Huff rumah sangat berantakan sekali." batin Radit.
Tidak beberapa lama Abel turun.
"Sudah siap ayo kita berangkat." ucap Abel. Dia melihat Radit sedang merapikan rumah.
"Biar Bibik saja kak." ucap Abel.
"Tidak apa-apa, Bibik malam ini seperti nya tidak pulang." ucap Radit.
Abel menghela nafas panjang.
"Ya udah biar aku nanti kak, sebaiknya kita pergi dulu lihat tuh Farel dari tadi tidak mau diam." ucap Abel.
Radit melihat Farel. "Ya udah." ucap Radit. Akhirnya mereka pun pergi.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai. Farel dan Abel sangat bersemangat ketika sampai di toko mainan.
Farel Mengambil apa saja yang dia mau tanpa di larang oleh Abel dan Radit.
"Apa kamu suka ini." tanya Abel menawarkan Mainan Dokter-dokter.
"Yang ini?" menunjuk lagi masak-masakan. Farel menggeleng kan kepala nya.
Dia pergi meninggalkan Abel.
"Kenapa kakak tertawa?" tanya Abel melihat suami nya.
"Farel itu laki-laki Abel.. Dia tidak suka dengan mainan perempuan. Coba kamu tawarkan Mainan Laki-laki dia pasti mau." ucap Radit.
__ADS_1
Abel berdiri. "Biar dia saja yang milih." ucap Abel. Radit tersenyum dia mengelus rambut Abel.
"Kak Radit jangan seperti itu, di sini sangat ramai." ucap Abel.
Namun Radit tidak mendengar kan nya dia malah mencium pipi Abel.
Abel hanya bisa pasrah walaupun dia malu penjaga toko melihat ke arah mereka.
Tidak beberapa lama akhirnya selesai juga. Abel melihat Farel duduk di belakang sudah sibuk dengan mainan nya sehingga tidak memperdulikan mereka berdua.
"Kamu mau kemana lagi?" tanya Radit. Abel menggeleng kan kepala nya.
"Kita pulang saja kak, Farel juga pasti sudah lelah." ucap Abel.
"Baiklah."
Sesampainya di rumah Abel meminta Radit untuk istirahat saja di kamar bersama Farel. Dia membersihkan ruang tamu yang masih berantakan.
Tidak beberapa lama akhirnya selesai.
"Sekarang Mila sudah tidak di sini lagi, apa aku harus pindah ke kamar ku?" ucap Abel.
"Tapi... Aku sudah sangat nyaman di kamar kak Radit. Dan sekarang hubungan kita sudah berbeda." batin Abel.
"Walaupun sudah saling jujur sudah lebih dekat, namun tetap saja terasa kurang." ucap Abel.
"Sudah selesai sayang?" tanya Radit melihat Abel baru saja masuk ke kamar. Abel mengangguk.
Abel melihat Farel sudah tidur.
"Kenapa Farel sangat cepat tidur? tidak biasanya." ucap Abel.
"Oohh ya udah kalau begitu aku bersih-bersih dulu." Ucap Abel karena berkeringat.
Tidak beberapa lama akhirnya selesai. Radit melihat Abel memakai piyama celana pendek dan baju pendek.
Abel selesai dia mau tidur namun Radit Langsung menepuk tempat tidur di samping nya.
Abel menggeleng kan kepala nya karena tidak mau Farel di pinggir.
"Sini..." ucap Radit. Abel tetap tidak mau.
Abel tidur di samping Farel mengabaikan Radit.
Radit sudah memasang wajah kesal, cemberut.
Radit turun dari tempat tidur. Abel melihat nya.
"Kakak mau kemana?" tanya Abel.
"Saya mau tidur di bawah, kamu tidur lah dengan Farel." ucap Radit. Abel menghela nafas panjang.
Dia menahan Radit. "Kakak marah?" ucap Abel. Radit menggeleng kan kepala nya.
"Kalau tidak marah lantas ini apa? Sangat jelek kalau cemberut seperti ini." ucap Abel.
__ADS_1
Radit Menatap wajah Abel.
"Saya tidak marah kepada kamu, saya marah kepada diri saya sendiri." ucap Radit. Abel menaikkan alisnya bingung.
"Saya tidak bisa menahan diri. Saya bahkan cemburu melihat kamu tidur di samping Farel." ucap Radit.
Abel tertawa mendengar nya, Radit jadi malu.
"Sudah-sudah jangan seperti anak kecil kak, ayo tidur." ucap Abel.
Keesokan harinya Abel dan Farel baru saja selesai makan siang. Tidak lupa juga Abel mengirimkan makanan untuk suami nya.
"Tok!! Tok!! tok!!
"Loh siapa yang datang? kalau Bibik kenapa tidak langsung masuk saja?" ucap Abel.
"Iyah siapa?" tanya Abel sambil membuka pintu dan ternyata itu adalah Orang mengantar barang.
Abel merasa tidak memesan barang-barang. Dia menelpon suami nya.
"Halo sayang.." Ucap Radit.
"Kakak pesan barang apa?" tanya Abel.
"Box bayi, Farel bisa tidur di sana agar tidur nya lebih nyenyak." ucap Radit. "Kok kakak gak ngomong dulu?" tanya Abel.
"Sekarang kamu sudah tau kan?" ucap Radit. Abel menghela nafas panjang.
"Ya udah kalau begitu saya lanjut kerja dulu yah, sampai jumpa nanti malam istri ku." ucap Radit langsung mematikan sambungan telepon.
Radit sudah sangat bucin sehingga tidak perduli dengan Novi dan staf lain di ruangan nya.
Boxx sudah terpasang rapi di kamar Radit.
Banyak juga barang-barang lain nya hanya keperluan Farel.
"Ternyata memiliki anak itu ribet yah, perkakas nya benar-benar sangat banyak." batin Abel.
"Kak Radit benar-benar sangat tau apa yang di inginkan anak kecil dan barang-barang nya, aku sama sekali tidak paham." batin Abel merasa malu sendiri.
"Kalau seperti ini kak Radit pasti sangat sayang kepada anak nya sendiri." batin Abel.
Abel melihat buku gratis dari toko. Buku untuk ibu hamil, buku untuk ibu muda.
Melihat gambar ibu hamil dia mengelus perut nya.
"Ini sangat aneh kenapa aku tiba-tiba menginginkan nya? Padahal aku sangat takut hamil." batin Abel.
Abel menjaga Farel hari ini cukup melelahkan dia tidak bisa melakukan apapun karena Farel tidak bisa di tinggal sama sekali.
"Kak Radit kenapa belum pulang sih? Aku mau mandi sudah bau keringat." ucap Abel. Karena tidak ada tanda-tanda Radit pulang akhirnya dia membawa Farel mandi.
"Gak apa-apa Abel itung-itung belajar." batin Abel. Dia dengan sangat senang membawa Farel mandi.
Sampai di kamar mandi mereka malah main air sampai satu jam.
__ADS_1
Radit baru saja pulang.
"Assalamualaikum..." Dia tidak melihat siapapun di ruang tamu, dia melihat ke kamar tidak ada juga.