Perjodohan Sejak Dini

Perjodohan Sejak Dini
Episode 83


__ADS_3

Setelah selesai makan mereka menonton TV bersama di kamar. Farel duduk di tengah-tengah.


Sementara di tempat lain Enjel bertemu dengan Novi parkiran.


"Enjel!" panggil Novi.


"Iyah Bu."


"Kamu teman dekat Abel kan?" tanya Novi.


Enjel mengangguk.


"Bilang sama Abel agar lebih sadar diri, dia sama sekali tidak cocok dengan pak direktur." ucap Novi.


"Maksud ibu seperti apa? Saya tidak mengerti."


"Tidak perlu berpura-pura tidak tau, kamu juga pasti setuju dengan saya kalau mereka sama sekali tidak cocok, dan saya yakin kalau pak direktur hanya main-main." ucap Novi dan setelah itu pergi.


Enjel menghela nafas panjang. "Sudah benar dugaan ku kalau sekretaris Novi suka sama pak direktur." batin Enjel.


Di malam hari nya Mila datang ke rumah Abel dan juga Radit.


"Kak." ucap Mila kepada Abel yang hanya diam saja. Tidak beberapa lama Radit datang ke ruang tamu.


Suasana tiba-tiba menjadi sangat tegang.


"Ada apa kamu ke sini?" tanya Radit.


"Aku datang ke sini ada keperluan sama kak Abel kak." ucap Mila.


"Keperluan dengan Abel? Ada apa?" tanya Radit.


Mila menghela nafas panjang. Dia sudah tau sebenarnya kakak ipar nya mau dia jujur.


"Aku membutuhkan laptop baru kak, aku tidak berani bilang sama mamah dan papah." ucap Mila.


"Bik.." panggil Radit. Bibik datang membawa tas Laptop.


"Ambillah." ucap Radit.


"Hah? Ini seriusan kak?" tanya Mila seperti tidak percaya.


"Ambil dan pakai lah, selesai kan kuliah kamu dengan serius. Dan dapat kan nilai yang bagus." ucap Radit.


"Terimakasih banyak kak, terimakasih." ucap Mila sangat senang sekali.


Melihat Mila senang Abel juga ikut senang.


"Ya sudah kalau begitu kamu pulang lah sebelum larut malam." ucap Radit.


Mila mengangguk. "Terimakasih yah kak, aku pamit pulang dulu." ucap Mila setelah itu pergi.


Abel masuk ke kamar dia melihat Radit sedang memeriksa pekerjaan di atas tempat tidur.


"Ada apa? Kenapa kamu melihat saya seperti itu?" tanya Radit. Abel menggeleng kan kepala nya.

__ADS_1


"Sini.." Radit menepuk tempat tidur di samping nya.


Abel duduk di samping Radit.


"Kak Radit..." Ucap Abel kesal karena Radit mencium leher nya. Radit tidak mendengar kan nya dia meletakkan laptop nya dan mencium bibir Abel.


Abel menolak nya karena dia rasa dia belum bisa melayani Radit.


"Kak aku masih kesakitan, jangan sekarang." ucap Abel.


Radit tidak perduli dia terus mencium Adel sampai Adel pasrah.


Namun mengingat Abel kalau sakit susah sembuh akhirnya dia menghentikan nya.


"Saya akan melepaskan kamu malam ini, tapi malam selanjutnya tidak akan pernah." ucap Radit.


Adel bernafas lega. Farel tiba-tiba masuk ke kamar setelah selesai bermain di luar.


Radit langsung melepaskan Abel.


"Mamah.. Mamah.." ucap Farel.


"Panggil Tante sayang." ucap Abel. Beberapa kali mengajari Farel namun tetap saja Farel memanggil Mamah.


"Sudah biarkan saja dia manggil Mamah." ucap Radit.


Abel tersenyum.


Ternyata Farel datang mau minta susu.


Farel minum susu. Radit mengasuh nya sampai tidur. Setelah Farel tidur dia melihat ke arah Abel ternyata Abel juga sudah tidur.


"Huff seperti nya dia sengaja duluan tidur." ucap Radit.


Namun Radit tidak membiarkan nya, dia malah mengganggu Abel, tidak membiarkan nya tidur."


Keesokan harinya Orang tua Farel sudah datang.


Farel biasa saja ketika mereka datang. Dia sudah sangat nyaman bersama Abel dan Radit di rumah itu.


"Sampai kapan Farel di sini Tante? Sudah seminggu lebih dia di sini. Kasian dia harus jauh dari orang tua nya." ucap Radit.


"Kamu dan Abel jangan keberatan yah menjaga Farel, kamu lihat keadaan Tante sekarang dan om kamu lagi sibuk-sibuknya." ucap Tante nya.


"Tidak keberatan Tante, hanya saja kasihan Farel harus tinggal dengan orang lain." ucap Radit.


"Tante percaya kamu dan Abel bisa menjadi seperti orang tua nya." ucap Tante nya.


Setelah beberapa lama akhirnya Tante nya pergi. Farel menangis namun tidak lama seperti kemarin. Abel sudah sangat pintar cara membujuk Farel.


Radit melihat Abel dekat dengan Farel senyum-senyum sendiri. Dia sedang membayangkan kalau mereka sudah memiliki anak.


Lagi asyik-asyiknya menemani Farel bermain tiba-tiba Novi datang.


"Loh kok Novi ada di sini?" tanya Abel.

__ADS_1


"Kamu lanjut main saja yah, saya mau membahas pekerjaan dengan Novi." ucap Radit.


Abel mengangguk. Mereka masuk ke ruangan kerja.


Abel jadi tidak fokus menemani Farel bermain. Dia kefikiran Radit dan Radit di dalam sana.


"Kira-kira apa yah yang mereka lakukan di dalam?" ucap Abel.


"Bik, itu untuk siapa?" tanya Abel melihat minuman di atas nampan.


"Ini minuman untuk Tuan dan juga Non Novi." ucap Bibik.


"Biar saya saja bik yang membawa nya ke ruangan itu, Bibik lihat Farel sebentar yah." ucap Abel.


"Tok!! tok!!" ketukan pintu.


"Masuk." Ucap Radit.


Dia melihat istrinya. "Loh kok Kamu yang nganterin ke sini sih?" tanya Radit.


Abel melihat Abel duduk di samping Radit di sofa membuat nya kesal namun menyembunyikan nya.


"Gak apa-apa." ucap Abel.


Radit kembali bekerja dengan Abel.


Radit sadar kalau Abel tak kunjung pergi. Radit menatap Abel.


"Ya udah kalau begitu aku permisi Dulu." ucap Abel langsung pamit.


Tidak beberapa lama kembali lagi.


"Ada apa lagi?" tanya Radit.


"Ini ada cemilan sedikit. Ini cukup enak menemani kerja. Pekerjaan akan menjadi lebih ringan kalau sambil ngemil." ucap Abel.


"Ya udah kalau begitu letak kan saja, kamu bisa keluar." ucap Radit.


"Ck apa-apaan ini, kenapa kak Radit malah mengusir ku?" ucap Abel. Dia memikirkan apa yang harus dia lakukan agar tidak membiarkan Radit dan Novi berdua an.


Abel bisa melihat wajah licik Novi yang mau mendekati suami nya.


Tidak beberapa lama kembali lagi. Dan benar saja Novi semakin dekat duduk dengan Radit.


"Sayang apa yang kamu lakukan?" tanya Radit melihat Abel membawa kain Pell dan juga emper perasan.


"Kata Bibik ruangan ini belum di bersihkan, aku akan membersihkan agar lebih nyaman..Kakak lanjut bekerja saja." ucap Abel.


Dia melihat kaki Novi mau menyentuh Radit dia pura-pura membersihkan di bagian sana. Novi sangat kesal namun dia tidak bisa melakukan apapun.


Bisa-bisa dia kena pecat sama seperti yang lain kalau berani mencari masalah dengan istri bos nya itu.


Sudah selesai membersihkan kamar itu, Abel sudah sangat kelelahan.


"Huff kenapa sangat lama sih bekerja nya?" ucap Abel. Dia tidak berhenti akhirnya dia meminta Farel masuk ke ruangan itu.

__ADS_1


__ADS_2