
"Ini non saya lagi membersihkan tanaman ini, sudah lama tidak di bersihkan." ucap Bibik.
"Oohh." ucap Abel. Dia mendekati nya.
"Bik boleh aku bantu?" tanya Abel.
"Boleh. Anggap saja ini sebagai olahraga agar tidak malas bergerak." ucap Bibik. Abel tersenyum.
"Dulu aku juga punya taman di rumah bik, namun sekarang seperti nya sudah tidak di rawat lagi..Mila sangat pemalas sehingga tidak bisa merawat bunga-bunga itu." ucap Abel.
"Oohh Non juga suka tanam bunga?" tanya Bibik.
"Sangat suka Bik. Sebenarnya aku juga ingin tanam bunga di sini, namun semua nya sudah penuh dengan tanaman hasil Bibik. Semua nya sudah tertata rapi." ucap Abel.
Bibik tersenyum. Bibik membuat bunga di telinga Abel. "Sangat cantik sekali non." ucap Bibik.
"Terimakasih Bik." ucap Abel. Dia mengambil foto dan mengirim kan nya kepada suami nya.
Radit yang sedang bekerja dengan Novi melihat handphone nya berdering tanda pesan masuk dia langsung memeriksa nya.
Dia tiba-tiba tersenyum ketika melihat foto istri nya yang sangat cantik.
Novi Novi melihat foto yang membuat Bos nya tiba-tiba berhenti bekerja.
"Pak apa ini masih kurang?" tanya Novi mengalihkan perhatian bos nya dari foto istri nya.
"Tunggu saya akan memeriksa nya." ucap Radit. Radit pun meletakkan handphone nya setelah membalas pesan istri nya.
Abel membaca balasan suami nya.
"Sangat cantik sekali istri saya." ucap Radit membalas pesan istri nya.
Abel senyum-senyum sendiri membaca pesan dari suami nya.
"Humm seperti nya non lagi chatan sama Tuan yah?" tanya Bibik.
Abel tersenyum sambil malu-malu. Akhirnya mereka memilih untuk melanjutkan kegiatan nya.
Setelah selesai di taman mereka masuk ke dalam.
"Bik aku masak untuk kak Radit yah."
"Jangan Non, bagaimana kalau non tiba-tiba mual-mual, tuan akan sangat marah kepada saya." ucap Bibik.
"Sudah lama kak Diki tidak makan masakan ku bik."
"Tuan tidak pernah memaksakan non untuk masak untuk dia, sebaiknya Non jangan memaksakan diri."
__ADS_1
"Tapi bik sebenarnya aku bisa, hanya sedikit mual saja, kalau sudah terbiasa tidak mungkin seperti itu." ucap Abel.
Bibik menghela nafas panjang.
"Ya udah deh non, Terserah non saja, kalau tuan marah saya tidak mau di salahkan." ucap Bibik. Abel malah sangat senang.
"Tenang saja bik, dia tidak akan tau, asalkan Bibik jangan kasih tau, dan juga jangan ada yang kasih tau." ucap Abel.
Bibik hanya diam saja.
"Oh iya bik, Bibik duduk saja di sini, atau mengerjakan hal yang lain, aku akan melakukan nya sendiri. Dan juga aku juga yang akan mengantar nya ke kantor." ucap Abel.
"Tapi Non. Non tau sendiri kan kalau tuan tidak mengijinkan Non keluar sendiri tampa dampingan atau Ijin dari Tuan." ucap Bibik.
"Kalau begitu aku akan meminta ijin kepada kak Radit, Bibik tidak perlu khawatir." ucap Abel. Bibik tersenyum.
Abel masuk ke dapur. "Huff kalau bisa memilih aku seharusnya tidak mengandung penerus keluarga besar ini." batin Abel.
"Aku seperti menjadi tahanan." ucap Abel.
Dia mulai Memasak. Semua nya dia tahan sendiri agar tidak terlalu manja, walaupun suami nya sangat memanjakan dia, dia tidak boleh manja.
Tidak beberapa lama akhirnya selesai. Setelah selesai di Langsung ke kamar mandi agar tidak bau dapur, badan nya kembali segar.
Di kantor Radit dia dan Novi baru saja selesai bekerja.
"Belum." jawab Radit.
"Oh iya kebetulan saya juga belum makan, bagaimana kalau kita makan siang bersama pak?" tanya Novi.
"Oohh boleh juga. Saya juga sudah sangat lapar." ucap Radit.
"Yes akhirnya ada waktu untuk makan siang berdua."' batin Novi sangat senang sekali.
Tiba-tiba handphone nya berdering. "Tunggu sebentar istri saya menelpon." ucap Radit.
"Huff." Wajah Novi yang tadi nya terlihat sangat ceria sekarang berubah drastis menjadi wajah yang sangat judes seperti biasa.
"Halo.."jawab Radit.
"Halo kak. Kakak lagi di mana? Lagi sibuk gak?" tanya Abel dengan sangat bersemangat.
"Ini saya masih di kantor mau istirahat makan siang." ucap Radit. "Kebetulan banget, aku sudah siap-siap mau Otw ke sana." ucap Abel.
"Ngapain kamu ke sini?" tanya Radit, seketika Novi langsung khawatir.
"Aku masak makan siang untuk kakak, aku juga sudah siap-siap mau nganterin ke sana." ucap Abel.
__ADS_1
"Aku tidak bisa banyak ngomong kak, aku mau Otw dulu." telpon langsung mati.
"Ayo pak." ajak Novi.
"Hem Novi saya minta maaf, seperti nya saya tidak bisa ikut kamu makan siang, istri saya datang ke sini membawa kan saya bekal." ucap Radit.
"Tapi pak."
"Maaf yah Novi, kamu bisa pergi dengan Heri dan juga Enjel, saya akan menghubungi mereka."
Radit langsung menghubungi nomor Heri.
"Iyah Halo Dit, ada apa?" tanya Heri.
"Novi mau ikut makan siang." ucap Radit.
"Novi? kami sedang di luar, apa loe lupa kamu ada kerjaan di luar sehingga tidak datang kenkant?" ucap Heri.
"Oh iya bro, maaf gua Lupa." Radit langsung mematikan telepon.
"Bapak tadi sudah deal untuk makan siang dengan saya, sekarang bapak membatalkan nya." ucap Novi.
"Saya benar-benar minta maaf sudah membohongi kamu, bagaimana kalau besok saja, saya pasti kan besok saya akan ikut makan siang bersama kamu." ucap Radit.
"Baiklah kalau begitu Pak." ucap Novi. Radit langsung pergi dari sana.
"Kenapa pak Radit nelpon kamu?" tanya Enjel.
"Kamu lupa yah kalau Radit dan aku seumuran, dan juga posisi nya sama, kenapa kamu lebih Sopan kepada dia dari pada Kepada aku?" tanya Heri.
Enjel menghela nafas panjang. "Baiklah kalau begitu aku akan panggil kamu dari sekarang dengan sebutan bapak Heri!" ucap Enjel.
Heri terdiam sejenak. Dia langsung menggeleng kan kepala nya.
"Bukan begitu maksudku. Aku tidak suka kamu panggil aku dengan sebutan bapak. Aku tidak ingin hubungan kita hanya sebatas bos dengan sekretaris saya ingin kamu lebih akrab kepada saya namun tidak seperti ini juga."
"Apa selama ini Sifat ku ada yang salah? Apa selama ini aku tidak sopan?"
"Kamu kurang sopan karena sering mengabaikan permintaan aku, sering menolak aku dan juga tidak mendengar kan ku" ucap Heri.
Enjel menghela nafas panjang. "Kamu jangan membahas yang tidak-tidak deh, ini masih jam kerja." ucap Enjel.
"Ini sudah waktunya makan siang." ucap Heri.
"Tapi pekerjaan belum selesai." Heri langsung terdiam.
"Sebenarnya bos nya aku apa dia sih?" gumam nya.
__ADS_1
"Tapi gak apa-apa deh, kan dia sudah menjadi bos di hati ku." batin Heri sambil senyum-senyum sendiri.