Perjodohan Sejak Dini

Perjodohan Sejak Dini
Episode 103


__ADS_3

Abel Tidak mengatakan apapun dia langsung tidur. Tidak beberapa lama Farel bangun Radit baru saja selesai mandi dia langsung menggendong Farel agar tidak membangunkan kan Abel.


Namun ternyata Abel dari tadi tidak tidur, melainkan hanya Berbaring saja. Dia melihat badan suami nya yang sangat bagus sekali.


"Huff pantesan saja banyak orang yang suka sama kak Radit, semua nya pasti menginginkan kak Radit termasuk teman-teman ku." ucap Abel.


Dia sedikit kesal karena teman-teman nya tidak berhenti memuji suami nya. Dia juga cemburu.


Tapi dia juga harus bersyukur sudah bisa memiliki suami seperti Radit walaupun sekarang dia masih kesal kepada suami nya itu.


Farel sudah tenang dia memakai baju nya.


"Hari ini say akan pulang cepat." ucap Radit. "Humm." ucap Abel.


"Kalau kamu mau kita akan berkunjung ke rumah orang tua kamu." ucap Radit.


"Mamah sama papah lagi pergi berkunjung ke rumah keluarga ku yang baru saja melahirkan." ucap Abel.


"Ya sudah kalau begitu istirahat saja di rumah." ucap Radit..


"Kan!! Kakak bisa gak sih peka sama perasaan istri, keinginan istri?!" ucap Abel. Radit Menatap wajah Abel.


"Katakan apa yang kamu mau."


"Aku sudah tidak Mood."


"Ya udah kalau begitu saya berangkat dulu.


"Dasar suami gak peka, dasar suami tidak perhatian." ucap Abel.


Radit menghela nafas panjang lagi. Dia mendekati istri nya memegang tangan nya.


"Saya tidak tau apa yang kamu mau, saya bukan dukun yang bisa menebak benar apa keinginan kamu."


"Itu tandanya kakak tidak peka sama sekali.".


Radit diam. Dia melihat perut Abel yang masih rata.


"Nak.. kamu mau apa? Ayo katakan pada Papah." ucap Radit. "Percuma saja kakak bertanya kepada perut ku,"


"Nah itu kamu tau, kalau diam saja saya tidak akan tau." ucap Radit.


"Aku mau belanja." ucap Abel.


"Belanja? Ya sudah kamu boleh pergi tapi harus dengan saya." ucap Radit.


"Baiklah, tapi kali ini aku mau kakak yang bayarin semua nya, kakak tidak boleh melarang apapun yang mau aku beli karena itu untuk anak kakak juga."


"Selagi batas wajar saya tidak akan melarang nya.


Tiba waktu untuk belanja. Radit mendorong stroller Farel sambil mengikuti Abel yang sangat bersemangat mengelilingi mal.


Setiap toko ada saja yang dia beli. Radit membawa semua nya sudah sangat kelelahan.


Akhirnya dia menelpon supir membantu nya.

__ADS_1


"Abel! Abel." panggil Radit menahan istri nya.


"Ada apa kak?"


"Kamu mau beli apa lagi? Ini sudah sangat banyak." ucap Radit.


"Ingat yah perjanjian dari rumah. Aku membeli barang-barang yang kita perlukan." ucap Abel.


Radit menghela nafas panjang.


"Tapi ini semua.."


"Aku membeli sprei banyak agar bisa ganti. Apalagi sprei di rumah sudah sangat lama semua. Ini baju kakak ini celana dalaman kakak, bajunya Farel semua nya masih tentang kalian.


"Sekarang aku mau memilih bagian ku." ucap Abel.


Radit tidak bisa mengatakan apapun akhirnya dia pun mengikuti saja apa yang di mau istri nya dari pada ribut di sana.


"Kalau kakak sudah lelah pergi saja tunggu di mobil, aku bisa sendiri." ucap Abel.


Radit menggeleng kan kepala nya.


"Nih minum dulu, kamu jangan memaksakan untuk berjalan terus, kasihan anak kita." ucap Radit.


Abel minum.


"Kakak duduk saja di sini. Aku mau mencoba baju-baju ini." ucap Abel.


Radit lega akhirnya bisa duduk. Namun sudah lama di sana bahkan Farel juga sudah bosan Abel tak kunjung selesai memilih pakaian nya.


"Abel apa kamu masih lama? Kasian Farel seperti nya sudah bosan." ucap Radit.


Radit menghela nafas panjang. Tidak beberapa lama Abel keluar dari ruang ganti.


"Bagaimana kak? Bagus gak?" tanya Abel sambil berdiri di depan Radit.


"Buka. Saya tidak ingin kamu memakai pakaian terbuka. anak saya sesak bernafas di dalam."


"Tapi kan ini sangat cantik." Radit menggeleng kan kepala nya. "Cari yang lebih besar ukuran nya mbak." ucap Radit kepada penjaga Toko.


"Tidak perlu mbak, ini saja." ucap Abel, membayar dan keluar dari sana.


Radit benar-benar bingung, Heran melihat kelakuan istri nya yang sangat keras kepala.


Tidak terasa sudah magrib saja mereka baru pulang ke rumah.


"Hufff aku sangat lelah sekali, aku mau istirahat." ucap Abel langsung melemparkan tubuhnya ke kasur.


"Pelan-pelan Abel. Ingat kamu lagi hamil."


"Sstt!!! Berisik! aku ngantuk." ucap Abel. Radit diam.


"Sini sayang bobo sama mamah." ucap Abel kepada Farel yang di gendongan Radit.


"Mandi dulu. Kamu baru luar sangat banyak kuman, pergi mandi." ucap Radit.

__ADS_1


"Gak mau kak, aku males." "Abel pergi mandi!" ucap Radit.


Abel menghela nafas panjang. "Iyah-iyah, tapi tunggu dulu."


Radit tidak bisa membiarkan nya di langsung menggendong tubuh Abel ke kamar mandi.


"Kak Radit aku bisa mandi sendiri." ucap Abel.


Radit Menatap wajah istri nya. "Seandainya kamu tidak hamil, saya sudah menghukum kamu dengan cara saya." ucap Radit.


Dia membuka baju nya.


"Kakak mau ngapain?" tanya Abel.


"Mau menghukum kamu." ucap Radit. Abel Langsung mundur berdiri di sudut kamar mandi.


dia memerhatikan suami nya yang sedang mandi.


"Sampai kapan kamu akan melihat saya?" tanya Radit.


Abel menggeleng kan kepala nya. "Enggak! Siapa yang lihatin kakak?" ucap Abel.


Radit tersenyum tipis melihat wajah Abel yang gugup karena dia.


Setelah selesai mandi Radit keluar dia juga meminta Abel memandikan Farel.


Radit memakai kan piyama untuk Farel agar langsung tidur.


Tidak beberapa lama Abel keluar dari kamar mandi.


"Sini.." ucap Radit. Abel duduk di depan Radit.


Radit Mulai mengeringkan rambut istri nya.


"Kalau sudah gelap seperti ini seharusnya kamu tidak perlu keramas.' ucap Radit.


"Aku tidak puas kalau tidak membasahi rambut.' ucap Abel. "Humm ya udah kalau begitu mulai sekarang Ijin kan saya mengeringkan rambut kamu." ucap Radit.


"Humm terserah." ucap Abel.


"Kak aku pengen buah-buahan deh.'" ucap Abel.


"Buah apa?"


"Humm yang ada saja deh." ucap Abel.


Radit melihat ke bawah untung saja di bawah masih ada buah lengkap kesukaan istri nya.


Dia membawa ke atas. Abel makan buah-buahan itu. Sementara Radit membuka laptop nya seperti biasa melihat pekerjaan nya.


"Sudah seharian melakukan aktivitas, sekarang waktunya tidur masih saja mengurus pekerjaan. Kenapa kakak tidak nikah dengan pekerjaan kakak saja?" ucap Abel.


Radit menoleh ke arah Abel.


"Saya bekerja untuk kamu juga, masa depan kita." ucap Radit.

__ADS_1


"Aku tau, tapi ini waktu nya tidur." ucap Abel. Radit langsung menutup laptopnya.


"Baiklah." ucap Radit.


__ADS_2