
"Kalian jangan berbohong, hubungan kalian tidak baik-baik saja kan?" tanya Papah Abel.
Radit dan Abel langsung terdiam.
"Papah kasih tau sama kalian. Sakit yang di alami oleh Radit karena hubungan kalian tidak tidak baik. Jadi jangan mencoba membohongi orang tua." ucap pak Handoko.
"Kak Radit bekerja selalu larut malam Pah, aku dengan kak Radit baik-baik saja kok. Apa Papah tidak melihat sekarang aku tidak sakit-sakit lagi." ucap Abel.
"Kamu setelah menikah dengan Radit semua penyakit apapun itu suami kamu yang menanggung. walaupun kamu yang membuat kesalahan suami kamu yang akan menanggung nya." ucap papah nya.
Setelah orang tua nya pergi dia melamun di dapur sambil memasak untuk makan siang suami nya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Radit kepada Abel yang sedang melamun memegang pisau. Abel menoleh ke arah Radit.
"Apa yang kamu goreng? Sudah gosong!" ucap Radit. Abel melih ke arah wajan nya ayam yang dia goreng sudah hitam kecoklatan dia segera mematikan Kompor.
"Yahh kok malah gosong sih?" ucap Abel.
"Apa yang kamu pikirkan? bagaimana kalau dapur ini kebakaran?" tanya Radit.
Abel menatap Radit. "Bisa gak sih gak usah marah-marah? sudah sakit saja masih tetap marah, kalau tidak mau dapur ini kebakaran masak saja sendiri." ucap Abel.
Radit tidak bisa mengatakan apapun dia hanya diam. Abel melanjutkan masak lagi.
Tidak beberapa lama akhirnya selesai dia menyiapkan nya di meja makan agar Radit tidak menyuruh saya menemani dia lagi." ucap Abel.
"Kak makan, Makanan nya sudah ada di meja makan." ucap Abel kepada Radit.
Namun Radit tidak ada di ruang tamu.
"Loh kok gak ada sih? Kemana dia?" tanya Abel Heran. Dia mencari ke kamar namun ternyata tidak ada di kamar dia bingung kemana suami nya pergi.
Dari teras atas dia melihat Radit ternyata lagi duduk di Taman samping.
"Kak.. makanan nya sudah selesai. Sebaiknya kakak makan dulu." ucap Abel..
"Nanti saja, saya belum lapar." ucap Radit.
"Huff aku sudah capek-capek bekerja, sudah capek-capek memasak kakak bilang malah gak lapar." ucap Abel.
"Saya Akan makan setelah lapar. Kamu pergi lah tidur siang." ucap Radit.
Abel menghela nafas panjang.
"Justru kakak yang harus tidur siang setelah makan dan minum obat." ucap Abel.
"Saya sudah bosan di kamar, saya mau di sini." ucap Radit.
__ADS_1
"Terserah kakak saja deh, aku mau ke kamar dulu."
Abel meninggalkan Radit yang duduk di taman samping.
Cukup lama dia di sana. Badan nya terasa Lemas akhirnya dia masuk ke dalam. Radit sama sekali tidak berselera makan dia langsung ke kamar saja.
Dia melihat Abel yang tidur di kamar nya.
"Kenapa dia tidur di sini? Memenuhi tempat." ucap Radit karena Abel tidur di tengah-tengah.
Radit naik ke kasur dia duduk di samping Abel yang ternyata sudah tidur dengan nyenyak.
"Saya tidak tau kapan ada perasaan ini, tapi saya sangat senang kamu ada di sini bersama saya." ucap Radit dalam hati.
Di sore hari nya Abel terbangun dia melihat ke samping nya ternyata ada Radit yang tidur cukup nyenyak.
Dia menatap wajah Radit.
"Apa dia sudah sembuh?" ucap Abel sambil menempelkan tangan nya di dahi Radit.
"Masih hangat."
"Untung saja Bos ku adalah suami ku sendiri, aku bisa libur seperti ini, tapi tetap saja aku merasa tidak nyaman dan tidak enak sama yang lain nya." ucap Abel.
Abel melihat ke dapur makanan tidak berkurang dia merasa kesal langsung ke kamar.
"Ada apa dengan mu? Kenapa kamu berteriak?" tanya Radit.
"Aku Memasak untuk kakak namun kakak malah tidak makan, apa kakak tidak mau menghargai masakan ku?" tanya Abel.
"Aku tau kalau masakan ku tidak enak, aku tau Rasanya pasti tidak pas." ucap Abel tidak berhenti mengoceh.
Radit bangun dari tempat tidur dia mendekati Abel dan mencium bibir Abel mendadak.
Abel yang tadi nya mengoceh tidak jelas seketika langsung berhenti dia membulat kan matanya dengan sempurna.
"Saya akan makan sekarang, saya tadi tidak berselera makan ketika saya sendiri." ucap Radit. Abel diam dia seperti di sihir menjadi patung.
Radit keluar dari kamar Abel segera sadar dia memegang bibir nya.
"Apa-apaan ini?" ucap Radit. Dia tidak menghela nafas panjang.
"Dia pasti sengaja melakukan itu karena aku mengoceh, aku tidak boleh berfikir yang aneh-aneh." ucap Abel.
Akhirnya dia langsung keluar dari kamar.
Di meja makan mereka makan bersama.
__ADS_1
"Malam ini aku ada janji di luar bersama teman ku, aku boleh keluar kan?" tanya Abel. Radit mengingat terakhir kali Abel keluar bersama teman nya.
"Terserah kamu saja."
Abel tersenyum.
Abel segera siap-siap setelah selesai Makan.
"Aku pamit dulu yah kak, kakak jangan menunggu ku." ucap Abel.
"Jangan pulang terlalu larut malam." ucap Radit.
Abel tidak menjawab dia langsung pergi ke dalam.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai di tempat teman nya.
"Maaf yah teman-teman aku telat datang." ucap Abel kepada teman nya.
"Gak apa-apa kok, kami ngerti sekarang kamu pasti sudah memiliki yang baru itu sebabnya kamu sangat jarang mau kumpul bersama kami.
"Ih bukan seperti itu Mona, aku hanya sibuk bekerja saja." ucap Abel. "Iyah deh Iyah."
Mereka berbincang-bincang cukup lama menunggu yang lain nya dan setelah itu mereka makan malam bersama.
Abel melihat jam sudah jam sembilan malam.
"Apa kak Radit sudah makan? Aku takut dia tidak makan lagi." ucap Radit.
"Kamu kenapa sih dari tadi melihat jam? Apa kamu di marahin sama orang tua kamu?" tanya teman nya.."Enggak kok, gak apa-apa." ucap Abel.
Dia mencoba mengirim kan pesan kepada Radit.
"Tidak perlu menunggu ku kak, aku akan pulang larut malam."
Radit yang duduk di ruang tamu melihat handphone nya bunyi, ada pesan dari nomor baru namun Radit sudah tau siapa itu.
Dia tidak membalas nya.
"Huff kenapa dia tidak membalas nya."
"Kamu lagi menunggu chat siapa sih?" tanya Teman nya.
"Enggak ada kok." ucap Abel langsung mematikan handphone nya. Setengah jam kemudian dia tidak enak dia selalu kefikiran kepada Radit akhirnya dia pun pergi pamit pulang.
Teman-teman nya seperti biasa berusaha untuk menahan nya namun tetap saja dia harus pergi.
Teman-teman nya banyak yang ngambek karena dia pulang sangat cepat sekali.
__ADS_1
Di perjalanan pulang dia melihat banyak jajanan yang enak di makan. Dia membeli nya dan membawa ke rumah.