Perjodohan Sejak Dini

Perjodohan Sejak Dini
Episode 29


__ADS_3

Namun karena adik nya sedang kuliah jadi mereka tidak bisa bersama pergi belanja.


Dia membeli handphone keluaran terbaru.


"Kapan lagi aku bisa menikmati uang suami ku sendiri, aku tidak boleh menyia-nyiakan ini." Dia mencari baju, sepatu dan juga tas.


"Permisi Pak." Tiba-tiba Novi masuk ke ruangan Radit.


"Iyah ada apa?" tanya Radit.


"Saya melihat kartu kredit bapak yang satu lagi Sangat banyak di gunakan." ucap Novi.


Radit melihat nya. Dia cukup kaget karena tiba-tiba mendadak tagihan nya menjadi sangat banyak tidak hal wajar.


"Sudah biarkan saja, itu adalah istri saya." ucap Radit.


"Istri!" ucap Novi sedikit kaget. Radit Menatap nya.


"Apa kamu lupa kalau saya sudah memiliki istri?" tanya Radit.


Novi terdiam sejenak.


"Huff kenapa aku bisa lupa sih kalau pak Radit sudah menikah? Buat malu saja." ucap nya kepada diri nya sendiri.


"Maaf kan saya pak." ucap Novi.


"Kalau begitu saya permisi dulu." ucap Novi mohon diri.


Di ruangan nya Radit penasaran kemana saja Abel.


Hari ini dia memutuskan untuk pulang cepat.


Tepat jam lima sore dia baru sampai di rumah nya.


Namun ternyata istri nya tidak ada di rumah. "Loh kemana dia? kenapa belum juga pulang sudah sore." batin Radit.


Namun tiba-tiba ada satu mobil datang. Sangat asing karena tidak pernah di lihat oleh Radit.


Berhenti di depan Gerbang. Abel keluar dari dalam mobil itu.


"Makasih yah sudah nganterin aku pulang." ucap Abel kepada pria yang duduk di bagian kursi supir.


"Iyah. Ya udah kamu masuk gih." ucap pria itu..Abel mengangguk.


"Siapa pria itu?" tanya Radit kepada Abel. Abel kaget karena dia tidak sadar kalau suami nya sudah pulang.


"Itu teman ku." ucap Abel.

__ADS_1


"Kemana mobil kamu?" tanya Radit.


"Rusak, aku menitipkan nya di bengkel." ucap Abel, aku meminta teman ku mengantarkan aku pulang." ucap Abel.


Radit menghela nafas panjang.


"Lagian kenapa sih? dia hanya teman ku. Bukan nya sudah deal dari awal kalau perjanjian kita agar tidak ikut campur dengan urusan masing-masing." ucap Abel.


"Kalau orang lain melihat kamu di antar oleh pria seperti itu mereka akan berfikir aneh-aneh." ucap Radit.


"Orang lain tidak tau kalau aku sudah menikah, di sini juga tidak ada tetangga, dan tidak ada satu pun yang tau Aku." ucap Abel.


"Saya mengijinkan kamu bertemu dengan teman-teman kamu yang perempuan, bukan dengan laki-laki!" ucap Radit.


"Kakak bisa gak sih gak usah mempermasalahkan hal-hal yang tidak perlu di bahas?" ucap Abel dengan kesal.


"Sudah lah aku tidak mau ribut aku mau masuk dulu." ucap Abel.


"Abel saya belum selesai berbicara! Kamu bisa mendengar kan saya berbicara tidak?" tanya Radit.


Abel tidak menjawab dia masuk ke dalam.


Karena Radit pulang lebih awal dia terpaksa harus Memasak agar Radit tidak marah-marah saja.


Radit keluar dari kamar nya dia turun ke lantai bawah dan melihat istrinya sedang memasak di dapur.


Dia duduk di meja makan sambil melihat Abel memasak di dapur.


Dia masuk ke dapur dan melihat apa yang sedang di masak oleh Abel.


"Apa yang sedang kamu masak?" tanya nya.


"Apa kakak tidak bisa melihat sendiri?" ucap Abel dengan kesal.


"Saya bertanya dengan baik, apa kamu tidak bisa menjawab nya dengan baik juga?" tanya Radit.


Abel menghela nafas panjang.


"Kalau kakak masuk ke Hanya untuk membuat keributan sebaiknya kakak keluar saja, tunggu saja di meja makan. Asal kakak tau aku tidak pernah masak seperti ini. Kulit ku sekarang semua nya lecet karena terkena minyak yang panas dan semua nya merah-merah." ucap Abel.


"Kalau begitu sini saya bantu." ucap Radit.


"Tidak perlu." ucap Abel.


"Kamu jangan keras kepala." ucap Radit.


"Kalau kakak bisa memasak kenapa kakak masih meminta aku yang Memasak? Kenapa tidak kakak saja?" ucap Abel.

__ADS_1


Radit terdiam dia langsung melepaskan sendok goreng dari tangan kiri nya.


"Mana mungkin tangan kiri seperti ini bisa masak? Sebaiknya kakak mengurus tangan kanan kakak!" ucap Abel.


Tidak beberapa lama masakan Abel selesai dia menyajikan di meja makan di depan Radit.


Satu persatu di bawa ke atas meja.


"Aku tau masakan ku tidak seenak masakan orang tua kakak dan juga Bibik, tapi setidaknya aku sudah berusaha memasak ini agar kakak tidak membuat ku kesal." ucap Abel.


"Kelihatan nya enak, tapi saya harus mencicipi rasa nya." ucap Radit. Dia mengambil sendok.


Abel sudah sangat antusias menunggu jawaban Radit namun tidak juga dia masih sibuk mencicipi.


"Bagaimana kak?" tanya Abel.


"Masih kurang pas, kamu harus banyak belajar." ucap Radit.


Abel seketika menjadi lesu. "Huff..."


"Tapi ini sudah jauh lebih baik. Dari pada tidak bisa sama sekali." ucap Radit.


"Terimakasih sudah Memasak kan saya untuk pertama kalinya semenjak menjadi istri saya." ucap Radit.


Abel diam. "Oh iya aku lupa bilang kalau aku banyak menggunakan kartu kredit kakak." ucap Abel.


"Saya tau, yang ingin saya tau kemana saja kamu? Kenapa kamu menghabis kan uang begitu banyak?" tanya Radit.


"Aku membeli handphone baru, aku juga belanja menghilangkan rasa bosan ku setelah itu mentraktir teman-teman ku." ucap Abel.


Radit Menatap Abel.


"Bukan nya handphone kamu masih baru sebelum nya?" tanya Radit.


"Memang masih baru, tapi aku tidak suka lagi, itu sebabnya aku ingin ganti." ucap Abel.


"Dan belanja tas, dan lain sebagainya bukan nya semua barang-barang branded kamu sudah punya? Bahkan satu pun kado-kado dari para tamu belum kamu buka." ucap Radit.


"Kakak kok perhitungan sih? Bukan nya kakak sendiri yang ngomong kalau aku bisa membeli semua yang aku butuhkan?" ucap Abel.


"Yang kamu beli itu yang kamu inginkan bukan kamu butuhkan. Saya bilang yang kamu butuhkan dan bermanfaat untuk kamu." ucap Radit.


"Semua nya aku butuh kan dan bermanfaat." ucap Abel.. Radit sudah tidak bisa menjawab lagi.


"Sudah lah terserah kamu saja, saya tidak bisa mengatakan apapun." ucap Radit.


"Lagian kakak kerja pagi sampai tengah malam untuk siapa? Untuk istri kan? ya udah kalau begitu jangan banyak protes." ucap Radit.

__ADS_1


"Saya hanya ingin kamu menghargai uang Abel, saya tidak akan melarang kamu membeli apa yang kamu inginkan, tapi setidaknya kamu harus belajar untuk mengatur keuangan karena kamu sudah menjadi istri dan kamu akan menjadi ibu." ucap Radit.


Abel menatap Radit. "Kalau tau seperti ini aku tidak akan menggunakan kartu kredit itu." ucap Abel.


__ADS_2