
"Telpon aku saja, lagian aku sudah buat di koper kamu parfum, foto dan juga syal aku. Nanti kalau kamu rindu lihat saja." ucap Enjel.
Heri tersenyum. "Ya sudah kalau begitu aku matikan dulu yah." telpon pun mati.. Enjel menghela nafas panjang.
"Huff ternyata seperti ini yah rasanya merindukan seseorang yang baru saja kita lihat. seperti ini rasanya Mencintai seseorang.. Cukup sulit namun ini sangat indah." batin Enjel.
Enjel tidak bisa fokus bekerja karena memikirkan kekasih hati nya itu.
"Ekhem-ekhem... Tuh kan kamu melamun pasti merindukan pak Heri yah?" tanya Rio.
"Ya ampun Rio bisa gak sih jangan membuat aku terkejut?"
"Ya Maaf, sudah waktunya makan siang, kamu mau gak?" tanya Rio.
"Mau apa?"
"Ya makan siang Enjel." ucap Rio.
"Seperti nya enggak deh, Aku harus ikut pak Heri." ucap Enjel. "Ya ampun Enjel kamu sadar gak sih?" tanya Rio.
"Sadar lah, nih aku lagi di depan kamu dan berbicara dengan kamu." ucap Enjel.
"Kalau kamu sadar tidak mungkin kamu tidak ingat kalau pak Heri tidak di kantor, dia lagi pulang ke kota nya." ucap Rio.
Seketika Enjel ingat. Dia sangat malu terhadap Rio.
"Aku paham kok, tidak perlu malu seperti itu ayo berangkat." ucap Rio.
"kemana?" tanya Enjel lagi.. Rio menghela nafas panjang.
"Makan Siang Enjel.. Kalau kamu tidak mau ya sudah kau pergi sendiri, menunggu kamu aku bisa mati kelaparan."
"Tunggu dulu, aku ikut." ucap Enjel mengejar Rio.
"Eh Rio, Enjel kalian mau kemana?" tanya Novi.
"Makan siang mbak." jawab Rio.
"Aku ikut bergabung yah."
"Loh pak Radit bagaimana?"
"Pak Radit makan siang di luar hari ini."
"Sama siapa?" tanya Enjel.
Enjel menunjuk ke arah luar.
"Tuh si mbak Tania sudah menunggu dari tadi..Dia memaksa pak Radit untuk makan siang bersama.. Kalau tidak mau dia akan marah-marah di kantor." ucap Novi.
"Huff..." mereka semua menghela nafas panjang.
"Ya udah deh kalau begitu ayo makan." ucap Enjel.. Mereka turun ke bawah.
Di sore hari nya...
"Kak Radit janji akan pulang jam empat, kok sudah jam empat lewat dia belum pulang sih?" ucap Abel dalam hati sambil menelpon Radit.
Namun handphone Radit tidak di jawab sama sekali.
"Yahh kak Radit kemana sih? aku bete deh kalau seperti ini." ucap Abel.
__ADS_1
Abel ingin menelpon ke Novi atau Enjel namun dia tidak enak mengganggu mereka. Abel menunggu sampai jam lima sore namun Radit tidak kunjung datang.
Dia sudah kesal dia mengganti baju nya dan tidur.
"Dari Siang tadi pak Radit kok belum pulang sih? padahal ini ada pekerjaan yang harus di tandatangani." ucap Novi menunggu dari tadi.
sudah waktunya pulang dari kantor.
Enjel melihat Novi berdiri di depan ruangan Radit.
"Kok kamu belum pulang?" tanya Abel.
"Nih aku lagi nungguin pak Radit." ucap Novi.
"Loh pak Radit belum pulang dari tadi?"
"Belum Enjel, kalau seperti ini aku juga jadi bingung."
Enjel melihat surat itu.
"Sudah kamu kirim kan saja, ini tidak harus di tandatangani." ucap Enjel.
"Kamu seriusan gak apa-apa?" tanya Novi. Enjel mengganguk.
Setelah dikirim Novi pun tenang, akhirnya dia bisa pulang.
"Enjel kamu mau ikut Bareng aku gak?" tanya Novi berhenti di depan Enjel.
"apartemen ku sangat jauh."
"Gak apa-apa. Aku juga mau ngajakin ngopi bareng." ajak Novi.
Mereka minum di sebuah Cafe yang tidak jauh dari apartemen Enjel.
Cukup lama mereka di sana, karena hari semakin gelap mereka memilih untuk pulang. Namun saat keluar dari Cafe tidak sengaja Enjel melihat mobil pak Radit lewat.
"Itu seperti mobil pak Radit." ucap Enjel.
"Eh iya benar, pak Radit dari mana yah?" tanya Novi.
Enjel menggeleng kan kepala nya.
Mereka melihat Hotel milik keluarga Radit.
"Tunggu deh, apa mungkin pak Radit dari hotel itu?" tanya Enjel.
"Gak mungkin deh, pak Radit gak akan ke hotel kalau tidak ada urusan pekerjaan atau janji lain nya." ucap Novi.
Namun tiba-tiba Mobil Tania lewat dan keluar dari hotel itu juga.
Mereka berdua saling menatap satu sama lain..
"Tidak mungkin.. Tidak mungkin. Mereka sudah bercerai mana mungkin." ucap Novi.
"Semoga enggak. Kita tidak boleh ikut campur ayo pulang." ucap Enjel.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai di apartemen Enjel.
"Makasih yah sudah nganterin aku pulang." ucap Enjel. Novi mengangguk.
Setelah itu Novi pun langsung ijin pergi dari sana.
__ADS_1
Sementara Radit baru saja sampai rumah.
Sebelum keluar dari mobil dia menghela nafas panjang.
"Ini semua karena Tania. Sekarang Abel pasti sudah sangat marah." ucap Radit.
Dia masuk. "Assalamualaikum.."
"Walaikumsalam Tuan..Tuan baru pulang? Dari tadi non Abel menunggu." ucap Bibik.
"Sekarang Abel di Mana?"
"Non Abel ada di kamar."
"Ya udah bik saya ke atas dulu." Radit naik ke atas dia mengetuk pintu sebelum masuk,. namun tidak ada jawaban dia pun langsung masuk begitu Saja.
"Sayang..." Ucap Radit. Tidak ada jawaban, Abel tidur.
Karena Abel tidur Radit tidak mau mengganggu nya. Dia memilih untuk mandi.
Tidak beberapa lama dia keluar dari kamar mandi dia melihat Abel sudah bangun dan duduk di tempat tidur.
"Kamu sudah bangun?" ucap Radit.
"Dari mana saja kakak? kenapa kakak baru pulang jam segitu dan kenapa telpon ku tidak di jawab?" tanya Abel dengan nada yang sangat jutek kesal membuat Radit takut.
"Maaf sayang.. Tadi pekerjaan sangat banyak." ucap Radit.
"Kakak sudah janji kepada ku, kakak membuat harapan palsu, kakak membuat aku menunggu sangat lama..Aku benci kakak, aku Marah." ucap Abel.
Radit memegang tangan Abel.
"Sayang..." ucap Radit mencoba membujuk nya.
Abel mengabaikan nya.
"Malam ini kakak harus tidur di sofa, aku mau tidur sendirian dan jangan berbicara dengan ku." ucap Abel.
"Jangan sayang.." ucap Radit.
"Kalau kakak tidak mau, aku akan pindah ke kamar sebelah." ucap Abel.
"Ya udah kalau begitu." ucap Radit.
"Sana." ucap Abel.
"Tapi..."
"Ssttt!!! Aku masih Marah." ucap Abel..Abel kembali tidur.
Radit membawa bantal dan selimut nya ke sofa.
"Hufff...." Wajah nya terlihat sangat sedih.
"Abel kamu jangan terlalu emosi, nanti kesehatan kamu kurang baik."
"Ini semua karena kakak!" ucap Abel. Radit tiba-tiba diam.
"Saya mau mengucapkan selamat malam untuk anak kita."
"Katakan saja dari situ, dia juga marah kepada kakak, karena kakak hari ini aku memakai baju yang sempit dan dia tertekan." ucap Abel.
__ADS_1