
"Huff kalau seperti ini cepat atau lambat semua nya akan terbongkar." ucap Enjel dalam hati.
Setelah satu jam lebih akhirnya Radit masuk ke dalam mobil, dengan nafas yang tersengal-sengal dia memasang wajah marah.
"Kenapa kakak kelihatan nya marah?" tanya Abel. Radit menggeleng kan kepala nya.
"sebaik nya Saya mengantarkan kamu pulang dan saya harus ke kantor." ucap Radit.
"Ke kantor? Ini hari Minggu."
"Saya harus mengambil barang-barang saya yang ketinggalan dan saya juga ada janji di luar hari ini." ucap Radit.
"Oohh ya udah deh gak apa-apa." ucap Abel. Tidak berani banyak tanya akhirnya dia iyakan saja. Setelah beberapa lama akhirnya sampai di rumah.. Tidak mengatakan apapun dia langsung meninggalkan Abel setelah keluar dari dalam mobil.
Abel melihat nya Heran.
"Pria tadi menanyakan tentang Tania. Seperti nya dia Cukup tau tentang masa lalu Kak Radit." ucap Abel.
"Non Abel sudah pulang? Pulang sendiri saja?" tanya Bibik. Abel tersenyum sambil mengangguk.
"Tuan mana?"
"Oohh kak Radit ada urusan Keluar sebentar bik."
"Oohh gitu yah, ya sudah deh kalau begitu ayo masuk non." ajak Bibik.
"Oh iya bik, apa aku boleh tanya sesuatu?" tanya Abel. Bibik menoleh ke arah Abel.
"Tentu boleh non." jawab Bibik.
"Apakah Bibik tau kalau Kak Radit memiliki teman yang bernama Zaki, teman kuliah kak Radit." ucap Abel.
Bibik mencoba mengingat nya sejenak.
"Kenal non, emang nya kenapa Non?" tanya Bibik.
"Tadi kami tidak sengaja bertemu dengan nya di Bandara, seperti nya dia juga baru kembali ke Indonesia." ucap Abel.
"Iyah Non. Zaki bekerja sebagai dokter di luar negeri. Mungkin dia kembali karena sudah mendapatkan cuti dan ingin bertemu dengan keluarga nya." ucap Bibik.
"Oohh gitu yah bik." ucap Abel.
"Tumben-tumbenan sekali non sangat penasaran kepada teman Tuan Radit. Sebelum nya biasa saja."
"Aku tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka. Dia menanyakan Tentang Tania."
__ADS_1
"Oohh itu.. Dulu Tuan dan Juga Tania serta Zaki satu universitas. Lebih tepatnya Zaki adalah sahabat Non Tania." ucap Bibik.
"Oohh..." Ucap Abel.
"Tapi bik mereka terlihat tidak akur seperti ada kebencian di antara mereka berdua. Aku juga tidak sengaja melihat mereka seperti ribut." ucap Abel.
"Non mendengar apa yang mereka bicarakan?" tanya Bibik. Abel menggeleng kan kepala nya. Bibik bernafas lega.
"Kalau mereka ribut jujur saja Bibik kurang tau, karena selama ini terlihat baik-baik saja." ucap Bibik.
"Sudah non, sebaik nya kita masuk saja." ucap Bibik. Mereka masuk ke dalam rumah.
Radit dalam perjalanan ke apartemen Tania.
"Tok!!! Tok!! Tok!!" Sudah cukup lama dia mengetuk dan memencet bel apartemen Tania namun tidak ada jawaban dari dalam.
"Kemana dia? Di saat di cari dia tidak ada." ucap Radit dengan sangat kesal.
Dia membuka handphone mau menghubungi Tania namun dia melihat Tania baru saja kembali entah dari mana namun membawa banyak belanjaan di tangan.
"Radit.. Kamu di sini? Kamu kok.gak bilang mau datang ke sini?" tanya Tania.
"Tidak perlu banyak basa-basi, kamu tau kan kalau Sekarang Zaki sudah di Indonesia. Bahkan dia sudah di sini." ucap Radit.
"Iyah aku tau, nanti malam dia akan ke sini itu sebabnya aku berbelanja banyak." ucap Tania.
"Iyah, emang nya kenapa?" tanya Tania bingung.
"Terserah saja, tapi kamu peringat kan kepada dia agar berhenti ikut campur dengan urusan pribadi ku, urus saja kehidupan nya sendiri dan jangan pernah membawa-bawa Abel dalam hubungan kita yang seperti ini." ucap Radit.
"Kapan sih kamu bisa akur dengan Zaki? Dia baru saja kembali namun kalian sudah ribut." ucap Tania.
"Sudah ayo masuk dulu, di luar seperti ini tidak enak di lihat orang." ajak Tania.
Mereka masuk ke dalam apartemen Tania.
"Kamu tau sendiri kalau aku tidak pernah damai dan akur dengan Zaki. Dia selalu mencari masalah." ucap Radit.
Tania menghela nafas panjang dia mengambil minum untuk Radit agar lebih tenang.
"Aku serius Tania." ucap Radit.
"Baik lah aku akan meminta dia berhenti ikut campur." ucap Tania.
"Bagus kalau seperti itu."
__ADS_1
"Tapi aku tidak bisa jamin kalau dia akan membiarkan kebohongan ini tidak terbongkar ke istri mu dan juga kepublik." ucap Tania.
"Kamu yang akan menanggung resiko nya kalau itu terjadi." ucap Radit. Tania langsung terdiam.
"Tok!! Tok!! Tok!!" Ketukan pintu.
Tania segera membuka nya.
"Zaki." ucap Tania kaget.
"Tania... aku sangat merindukan mu." ucap Zaki langsung memeluk Tania. Namun mata Zaki melihat ke arah Radit.
"Loh kamu bilang kamu tinggal sendirian, kenapa Radit masih ada di sini? Bukan nya dia sudah memiliki istri dan calon anak?" tanya Zaki.
"Tenang saja bro, aku di sini hanya datang berkunjung melihat keadaan istri pertama ku yang seperti nya sebentar lagi menjadi istri orang lain." ucap Radit.
"Apa maksud mu?" ucap Zaki. Radit diam hanya memasang wajah sinis saja.
"Aku pikir setelah memiliki istri kedua kau tidak akan pernah datang lagi mengunjungi Tania, namun kau sungguh pria murahan, licik dan penghianat." ucap Zaki.
"Zaki sudah Zaki." ucap Tania.
"Tania kamu berhenti membela nya! selama ini kamu selalu membela nya sehingga sekarang kamu menjadi korban." ucap Zaki.
"Sudah Zaki aku tidak apa-apa." ucap Tania.
Radit berdiri.
"Istri ku sudah menunggu di rumah, sebaiknya aku pulang." ucap Radit menepuk pundak Zaki dan pergi.
Zaki mau marah namun langsung di tahan oleh Tania.
"Sudah Zaki. Aku sudah bilang kalau kamu kembali ke sini aku tidak ingin melihat kamu ribut dengan Radit." ucap Tania.
"Aku kesal kepada nya Tania, bagaimana bisa dia meninggalkan kamu begitu saja setelah kalian bertahun-tahun bersama?" ucap Zaki.
Tania diam.
"Lupakan saja tentang itu, sebaiknya kamu duduk aku akan membuat kan teh untuk kamu, aku tidak berfikir kalau kamu datang sangat cepat dari yang di janjikan. Sekarang aku belum masak Apa pun." ucap Tania.
"Tidak apa-apa, aku bisa menunggu. Aku sangat merindukan kamu itu sebabnya aku segera datang ke sini." ucap Zaki.
Radit baru saja sampai di rumah, dia langsung di sambut oleh istri nya. Namun melihat wajah Radit sangat suram akhirnya dia memilih untuk tidak banyak tanya.
Dia membiarkan suami nya untuk istirahat terlebih dahulu.
__ADS_1
"Bagaimana aku tidak berfikir negatif kalau seperti ini? kak Radit terlihat sangat jelas menutupi sesuatu dari aku. Aku mencoba berlagak bodoh dan tidak ingin tau namun semua nya terlihat sangat jelas membuat aku penasaran." ucap Abel dalam hati.