
"Tidak ada hanya iseng saja karena pakaian kakak bau apek." ucap Abel. Radit tersenyum tipis.
"Kamu melakukan itu agar orang bau perempuan bukan?" tanya Radit.
Abel menggeleng kan kepala nya.
"Kamu tidak perlu khawatir kalau saya di luar, tidak ada satu pun orang yang berani dekat dengan saya. Dan hanya kamu yang bisa mencium aroma saya dengan jarak dekat." ucap Radit.
"Novi! Aku yakin Novi bisa melakukan semua nya kepada kakak." ucap Abel.
"Novi sekretaris saya, setiap hari bersama saya Wajar saja jika dia bisa mencium nya lebih dekat." ucap Radit.
"Sudah lah aku tidak mau membahas nya." ucap Abel.
Dia takut kalau melanjutkan membahas itu mereka akan salah paham dan saling mendiamkan seperti tadi malam.
Tidak beberapa lama akhirnya Kerjaan Abel selesai, dia mau berdiri namun di tahan oleh Radit.
"Kenapa kak? Ini sudah selesai kita harus siap-siap pergi belanja." ucap Abel.
Radit melihat ternyata sudah selesai. "Huff perasaan baru sebentar." batin Radit.
Mereka siap-siap pergi belanja.
Di sore semua belanjaan sudah di dalam mobil.
"Abel apa menurut mu kita menukar tempat tidur yang kita pakai sekarang dengan tempat tidur yang lebih luas?" tanya Radit karena mereka melewati toko Penjual kasur.
"Kasur yang sekarang sudah sangat bagus." ucap Abel.
"Saya sudah bosan dengan itu." ucap Radit.
"Kita tidur bersama hanya sementara kak, lagian kasur kakak sudah paling besar." ucap Abel.
Radit menghela nafas panjang. "Baiklah, Kalau begitu kita pulang saja." ucap Radit.
Mereka kembali ke rumah sudah gelap.
"Ternyata hanya belanja saja memakan waktu yang banyak." ucap Abel.
"Kamu jangan mengangkat yang berat, biar saya saja." ucap Radit mengambil barang-barang dari tangan Abel.
"Wahh kakak baru selesai belanja?" ternyata Mila sudah pulang. Abel mengangguk.
"Sini aku bantuin." ucap Mila. Dia membantu membawa ke dapur.
"Enak yah, belanja bulanan di temanin sama suami. Jadi ingin cepat-cepat nikah deh." ucap Mila.
"Huss!! kamu ngomong apaan! Kuliah dulu yang benar baru membicarakan pernikahan." ucap Abel.
"Tidak ada salahnya kalau hanya sekedar membicarakan nya." ucap Radit.
Abel menatap sinis kepada Radit. "Bisa diam gak?" ucap Abel. Radit langsung terdiam.
__ADS_1
"Seharusnya kakak beruntung mendapatkan Suami seperti kak Radit." ucap Mila setelah Radit pergi.
"Kakak tidak boleh terlalu kejam kepada kak Radit." ucap Mila.
"Kamu belum mengerti apa-apa Mila." ucap Abel.
"Permisi...." Tiba-tiba Novi Datang.
"Loh itu kan sekretaris Kak Radit." ucap Mila. Abel melihat Novi datang.
"Loh ngapain Novi ke sini?" ucap Abel dalam hati.
Tidak beberapa lama Radit datang menghampiri Novi.
"Kamu sudah datang? Maaf yah jadi merepotkan kamu datang ke sini." ucap Radit.
"Tidak apa-apa pak. Ini juga sudah tugas saya." ucap Novi.
"Abel tolong Buat kan minum yah." ucap Radit.
Abel datang membawa kan minum kepada mereka berdua.
Mereka berbicara sangat serius sekali sehingga tidak sadar Novi menawarkan minum.
Abel melihat Radit tidak menghiraukan nya membuat nya tiba-tiba kesal.
Mila tau kalau kakak nya sedang cemburu, namun dia diam saja karena kalau dia berbicara kakak nya akan menyerang dia.
"Oh iya kak, dari tadi aku tidak melihat Bibik. Bibik Kemana?" tanya Mila.
"Bibik sedang kembali ke rumah nya, mungkin besok Bibik baru bisa datang. Kamu harus bantuin kakak masak makan malam." ucap Abel.
"Emang nya kakak bisa masak?" tanya Mila.
"Bisa. Siapa bilang gak bisa, kamu terlalu sepele kepada kakak." ucap Abel.
Mila menatap Abel sangat ragu.
"Kamu harus tau kalau tidak selamanya pernikahan itu enak. Menikah itu mengajarkan kita lebih Mandiri.. Sebelum kamu menyesal nanti kamu harus bisa melakukan tugas perempuan untuk suami mu nanti." ucap Abel.
Mila mengangguk. "Semoga saja suatu saat nanti aku mendapatkan suami seperti kak Radit. Sudah kaya, baik , ganteng dan juga Sabar menghadapi istri nya." ucap Mila.
"Maksud kamu?" tanya Abel.
Mila langsung menggeleng kan kepala nya.
"Tidak ada kak, ayo kita lanjut masak." ucap Mila.
Sudah selesai masak namun Novi masih ada di sana.
"Kak ayo makan malam dulu." ajak Mila kepada Radit.
"Oohh baik lah. Ayo bergabung Novi." ajak Radit.
__ADS_1
"Apa? Perempuan ini juga ikut?" ucap Mila dalam hati.
"Seperti nya Sekretaris kak Radit ada sifat yang tidak baik deh. Terlihat sekali dari mata nya kalau dia suka sama bos nya sendiri." batin Mila.
Mereka duduk bersama, Novi duduk di samping Radit.
Abel tidak berbicara apapun. Dia hanya mendengar kan Radit dan Novi yang berbincang-bincang satu sama lain.
"Huff ingin rasa nya aku menendang perempuan ini keluar." batin Mila karena sesekali dia menyindir kakak nya.
Wajah Abel sudah tidur karuan lagi, bahkan nasi nya tidak dia habiskan.
Tidak beberapa lama setelah selesai makan Novi pamit untuk pulang.
Radit mengantarkan dia ke depan tidak beberapa lama kembali lagi ke dalam.
"Sebaiknya kakak jauh-jauh deh dari perempuan seperti mbak Novi." ucap Mila.
"Kenapa Kam berbicara seperti itu?" tanya Radit.
"Apa kakak tidak sadar kalau seperti nya kak Abel cemburu sekali melihat kakak dengan Mbak Novi, lagian mbak Novi seperti nya suka sama kakak." ucap Mila.
"Tidak mungkin. Novi Dari dulu memang seperti itu. Dia sudah lama bekerja di perusahaan." ucap Radit.
Mila menghela nafas panjang. "Tapi apa kakak tidak bisa mengerti dengan perasaan kak Abel?" tanya Mila.
Radit menghela nafas panjang. "Kakak kamu juga pasti mengerti kok." ucap Radit.
Mila terdiam sejenak. "Ya sudah deh kalau kakak tidak mau mendengar nya, aku juga seharusnya tidak perlu ikut campur. Aku hanya ingin hubungan kakak dengan kak Abel baik-baik saja." ucap Mila.
Dia langsung masuk ke kamar nya.
"Adik sama kakak Sama saja." ucap Radit sambil tersenyum tipis.
"Huff bagaimana aku masuk ke kamar sekarang ini? Aku sudah mencari perkara mengajak Novi makan." batin Radit.
Sebenarnya Radit sengaja mengabaikan Abel dan mengajak Novi makan bersama memancing perasaan Abel.
Mau tidak mau dia tetap harus masuk ke dalam.
Dia melihat Abel tidur di sofa.
"Kenapa kamu tidur di sofa?" tanya Radit kepada Abel. Namun Abel tidak menjawab nya.
"Abel..." Panggil Radit. Tidak di jawab. Radit mau menyentuh Abel namun Abel langsung menghindar nya.
"Jangan menyentuh ku!" ucap Abel.. Radit terdiam.
"Tidur lah di kasur, kenapa kamu tidur di sini?" tanya Radit lagi.
"Aku mau tidur di sini saja." ucap Abel.
"Kamu mau saya memindahkan kamu ke tempat tidur?" tanya Radit.
__ADS_1