Perjodohan Sejak Dini

Perjodohan Sejak Dini
Episode 160


__ADS_3

"Aku tidak bisa janji Tania."


"Kalau kamu tidak datang aku akan marah, kamu akan menanggung semua nya." ucap Tania.


Telpon langsung mati. Radit dengan kesal melempar kan handphone nya.


Namum Tampa sadar ternyata Novi yang masuk di sana dan melihat dia marah.


"Selamat pagi Pak.." ucap Novi.


"Pagi." jawab Radit. Novi duduk di depan Radit.


"Maafkan saya yang tidak bisa konsisten. Saya benar-benar sangat stress sekarang." ucap Radit.


Novi hanya dia karena itu bukan urusan nya. Setelah beberapa lama akhirnya Radit bisa fokus bekerja. sementara di tempat lain Abel sedang siap-siap berangkat.


"Non mau kemana?" tanya Bibik.


"Aku mau membeli barang yang aku butuhkan saja bik."


"Mau Bibik temanin gak?"


"Gak usah bik,." ucap Abel.


Abel akhirnya pergi sendiri meninggalkan rumah itu. Bibik memasang wajah yang sangat cemas sekali.


"Non kata nya mau belanja kenapa dia pergi ke arah yang berlawanan? sangat aneh. Tidak mungkin dia memilih tempat yang sangat jauh hanya untuk membeli beberapa barang saja." ucap Bibik dalam hati.


Bibik semakin khawatir akhirnya dia menghubungi Radit.


"Halo Tuan..."


"Ini saya Bik, ada apa?" tanya Novi yang menjawab telpon Radit.


"Ini non saya mau berbicara dengan tuan." ucap Bibik.


"Katakan saja kepada saya bik, saya akan menyampaikan kepada Pak Radit karena beliau masih di dalam ruangan meeting." ucap Novi.


"Oohh gitu yah bik, ini tentang non Abel."


"Kenapa Bik? Apa Abel sakit? Ada terjadi sesuatu?" tanya Novi.


"Tidak non, saya mau bilang kalau Non Abel pergi keluar sendiri dengan beralasan mau pergi belanja membeli barang-barang nya namun non Abel melakukan perjalanan yang berlainan arah." ucap Bibik.


"Oohh begitu yah Bik, mungkin dia pergi ke tempat yang lain, tidak perlu khawatir seperti itu Bik." ucap Novi.


"Saya tidak bisa berfikir dengan baik Non, saya melihat wajah Non Abel membuat saya semakin khawatir." ucap Bibik.


"Ya sudah kalau begitu nanti saya akan memberi tau kepada Pak Radit. Bibik tunggu saja di rumah yah." ucap Novi.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Enjel melihat Novi berbicara dengan seseorang menggunakan telepon.


"Ya udah kalau begitu saya akan menyampaikan nya kepada pak Radit." ucap Novi.


"Siapa? Abel yah?" tanya Enjel karena tau itu handphone bos nya.


"Enggak, itu Bibik, dia bilang kalau dia khawatir karena Abel pergi sendiri." ucap Novi.

__ADS_1


"Emangnya Abel Kemana?" tanya Enjel. Novi menggeleng kan kepala nya.


"Aku juga tidak tau, aku juga sedikit khawatir kalau dia keluar sendiri. Apa lagi gak Ijin sama suami atau Bibik nya." ucap Novi.


"Sudah lah tidak perlu terlalu memikirkan nya, meeting nya seperti nya masih lama aku bawain kamu roti nih untuk mengganjal perut sebelum makan siang." ucap Enjel.


"Loh Pak Heri mana." tanya Novi.


"Di dalam sana Pak Radit juga." ucap Enjel.


"Oohh pantesan saja kamu bisa ke sini, biasanya kamu harus menempel seperti perangko sama pak Heri." ucap Novi.


Enjel tersenyum.


Di Tempat lain...


Mobil Abel memasuki parkiran rumah Sakit yang sangat megah dan besar sekali. Rumah sakit terbesar di Kota itu.


Abel juga akan Melahirkan di sana, jauh-jauh hari Suami atau keluarga suami nya sudah menyewakan tempat untuk persalinan Abel nanti nya.


Bahkan Abel sering memeriksa kandungan dan juga kesehatan nya.


"Selamat Siang Bu Abel... Ada yang bisa kamu bantu?" tanya dokter langsung menyambutnya Abel.


Abel tersenyum sambil mengangguk.


"Perasaan kemarin baru saja USG, semua nya sehat dan sekarang apa ibu mau USG lagi?" tanya dokter.


"Tidak dok, saya ke sini bukan mau memeriksa kandungan saya."


Abel Terdiam sejenak.


"Boleh saya meminta dokter merahasiakan kedatangan saya hari ini?" tanya Abel.


Dokter itu bingung.


"Saya bekerja juga harus memberi kan laporan kepada pak Radit tentang kesehatan Ibu." ucap dokter.


"saya mohon kali ini jangan dok." ucap Abel. Karena melihat wajah Abel sangat serius akhirnya dokter menginyakan selagi bukan tentang kandungan.


"Baiklah bu, ada yang bisa saya bantu?"


"Saya ingin bapak memeriksa bagian dada saya ."


"Ada keluhan apa di bagian dada nya Bu?"


"Saya sering kali merasakan sakit yang mendadak membuat seluruh badan saya lemas, membuat kepala saya dan sesak nafas." ucap Abel...


Dokter mendengar nya langsung khawatir dia membawa Abel ke ruangan pemeriksaan.


Di periksa Dada Abel tidak pernah mengalami cidera, bahkan kejujuran Abel juga tidak pernah jatuh, atau sesuatu yang di tanyakan dokter tidak pernah di alami oleh Abel.


Dokter bingung, dia memutuskan untuk merongsen dada Abel. Butuh waktu untuk menunggu nya.


Setelah keluar namun tidak ada terjadi apa-apa, semua nya baik-baik saja.


Abel yang melihat itu juga ikut bingung.

__ADS_1


Dokter meminta Abel jangan terlalu banyak memikirkan banyak hal agar dada nya tidak sakit.


"Permisi pak, ini tadi ada telpon Dari Bibik." ucap Novi kepada Radit yang baru saja keluar dari ruangan meeting."


"Ada apa?" tanya Radit.


"Bibik bilang kalau Bu Abel pergi keluar sendiri." ucap Novi. Radit tersenyum.


"Sudah biarkan saja, Lagian dia tidak bisa di larang." ucap Radit.


"Tapi sebaiknya Bapak hubungi Bu Abel dulu."


"Mana handphone daya?" Radit menghubungi Istri nya.


Tidak menunggu lama Abel langsung menjawab nya dan meminta dokter berhenti berbicara.


"Halo sayang..." ucap Radit.


"Halo kak, ada apa kakak menelpon ku? apa kakak tidak bekerja?"


"Baru saja selesai, kamu lagi di mana?"


"Humm aku..."


"Jangan berbohong, saya tau kamu lagi di luar."


"Hehehe aku lagi belanja kak, aku minta maaf gak ijin kepada kakak." ucap Abel.


Radit menghela nafas panjang.


"Kamu lagi di mana? Saya akan menjemput kamu." ucap Radit.


"Aku akan pulang sendiri kak.".


"Tunggu di sana, saya akan menjemput kamu sekarang juga." ucap Radit.


"Huff aku harus bagaimana ini?" batin Abel.


"Ya udah deh kak aku akan mengirimkan lokasinya." ucap Abel.


Abel langsung cepat-cepat ke restoran terdekat agar bertemu di sana.


"kamu atur semua nya Novi, saya akan menjemput Abel." ucap Radit. Novi mengangguk. Setelah Radit pergi tidak beberapa lama Tania menelpon Novi.


"Loh kenapa dia menghubungi aku?" ucap Novi dalam hati.


"Halo." ucap Novi.


"Halo. Apa ada Radit di sana?"


"Tidak ada." ucap Novi.


"Tidak mungkin tidak ada, dia pasti di kantor nya. kecuali kamu sudah di pecat dan tidak bekerja di sana." ucap Tania.


Novi menghela nafas panjang.


"Pak Radit pergi keluar menjemput istrinya tercinta." ucap Novi langsung membuat Tania kesal mendengar nya.

__ADS_1


__ADS_2