Perjodohan Sejak Dini

Perjodohan Sejak Dini
Episode 116


__ADS_3

"Tidak mungkin aku cemburu terhadap kedekatan mereka. Aku mungkin hanya merasa kesal saja." batin Enjel.


Setelah beberapa lama akhirnya dia mau keluar namun Heri menahan tangan nya.


Heri membuka mata nya. Enjel langsung menepis tangan Heri.


"Tempat tidur sudah bersih, kamu bisa pindah ke sana. Sebelum nya mandi dulu agar keringat kamu tidak cepat membuat sprei bau." ucap Enjel.


Heri menggeleng kan kepala nya. "Aku sudah sangat lelah, aku tidak berdaya untuk mandi." ucap Heri.


Enjel menghela nafas panjang.


"Kamu habis minum bir di luar, mana mungkin kamu tidak mandi." ucap Enjel dengan kesal.


"Hanya sedikit saja penghilang rasa penat." ucap Heri


Enjel menghela nafas panjang. "Mandi sekarang kalau tidak mandi tidak boleh naik ke tempat tidur." ucap Enjel.


"Baiklah-baiklah aku akan mandi." ucap Heri. Dia masuk ke kamar mandi. Enjel melempar kan handuk karena Heri tidak membawa nya.


"Terimakasih." Ucap Heri sambil masuk ke dalam kamar mandi.


Tidak beberapa lama akhirnya dia keluar dia tidak melihat Enjel lagi di kamar nya, saat mau mengambil baju dia melihat pakaian nya sudah ada di atas tempat tidur.


"Apakah ini Enjel yang menyiapkan?" ucap Heri, dia sudah sangat senang karena Enjel menyediakan pakaian nya.


Sementara di rumah Abel sama sekali tidak bisa tidur karena Radit belum tidur. Dia melihat ke arah balkon kamar nya. Radit sedang berbicara dengan seseorang mengenai pekerjaan nya.


"Apa sih yang di bicarakan oleh Mereka sehingga sangatlah serius?" batin Abel. Dia turun dari tempat tidur dia berjalan ke arah balkon.


Radit menyadari Abel datang ke balkon.


Dia menjauhkan ponselnya sebentar.


"Apa yang kamu lakukan di luar? di sini sangat dingin pergi tidur." ucap Radit.


"Aku tidak bisa tidur, kenapa kakak belum juga tidur?" ucap Abel.


"Halo pak, kalau begitu pembicaraan kita malam sudah sudah seleksi dulu, besok saya akan memberikan kabar selanjutnya." ucap Radit dan mematikan sambungan telepon.


Dia menoleh ke arah Abel yang berdiri tidak jauh dari nya. Radit mendekati nya.


"Ayo masuk ke dalam dan tidur." ucap Radit.


Abel menggeleng kan kepala nya. "Aku masih mau di sini, ternyata di luar sini sangat sejuk sekali." ucap Abel.


Radit tiba-tiba langsung mengangkat badan istri nya dan masuk ke dalam.

__ADS_1


"Kak Radit! Kak Radit aku bisa jatuh, turun kan aku." ucap Abel.


"Kamu sangat keras kepala, tidak mau mendengar kan apa kata saya." ucap Radit. Abel di baring kan ke tempat tidur.


"Kamu benar-benar sangat keras kepala." ucap Radit. Abel menatap suaminya.


"Aku tidak keras kepala." ucap Abel.


"Lalu ini apa? Kamu selalu saja menentang dan tidak mau menuruti perintah dari saya." ucap Radit.


"Lagian kakak sudah malam seperti ini masih saja sibuk dengan pekerjaan, bukan hanya aku saja yang bisa masuk angin atau sakit tapi kakak juga." ucap Abel.


Radit terdiam. "Semua orang juga bekerja karena uang, tapi ada batas nya. Kakak di kantor, di tempat makan, di rumah di hari libur pasti terus bekerja sehingga waktu untuk ku tidak ada!" ucap Abel.


Radit Menatap wajah istri. Dia duduk di pinggir kasur dan memegang tangan istrinya.


"Saya sebagai direktur di perusahaan harus menerima semua pekerjaan saya apa adanya. Tidak mungkin saya mengabaikan semua nya." ucap Radit.


"Tapi ada batasan nya kak. Kalau kakak sakit bagaimana?" ucap Abel.


Radit tersenyum. "Terimakasih sudah perduli kepada saya. Tapi saya melakukan seperti ini bukan dari dulu kok, hanya sekarang ini." ucap Radit.


"Apa karena ada aku? Karena kakak tidak mau menghabis kan waktu lebih banyak dengan aku?"


Radit menggeleng kan kepala nya.


"Bukan sayang." ucap Radit.


"Anak kita sudah mau lahir. Kebutuhan membesarkan anak itu tidak lah sedikit." ucap Radit.


Abel menghela nafas panjang. "Sudah lah jangan membahas itu, aku tidak mau kakak kecapean, aku juga tidak mau mau Kakak bekerja terlalu keras seperti ini." ucap Abel.


Radit tersenyum sambil mengangguk. Dia mencium kening istrinya.


Dia mengelus perut istri nya.


"Kamu yang sehat terus yah nak." .


Keesokan harinya di pagi-pagi hari tepat nya di hari Minggu Heri bangun lebih siang.


Dia keluar dari kamar nya karena sangat lapar sekali.


"Selamat pagi." sapa Heri melihat Enjel Memasak di dapur.


"Pagi." jawab Enjel dengan sangat cuek.


"Pantesan saja perut ku sangat lapar, ternyata Aroma yang aku cium dari tadi dari sini." ucap Heri.

__ADS_1


Enjel Memasak bubur dia langsung memberikan kepada Heri. "Cobalah." ucap Enjel..Heri mengangguk.


"Apakah enak?" tanya Enjel..Heri menyendok kan ke mulut nya.


"Sstt panas." ucap Heri kaget. Dia tidak ingat bubur baru saja masak.


"Ini masih sangat panas, di tiup dulu." ucap Enjel langsung memegang tangan Heri yang memegang sendok dan meniup bubur tersebut.


Heri kaget. Seketika badan nya panas dingin di sentuh oleh Enjel.


"Sangat cantik." ucap Heri memandangi wajah Enjel. yang sama sekali tidak memakai makeup dan mengikat rambut dengan jepitan ke belakang.


"Hah?" tanya Enjel karena kurang jelas mendengar nya.


"Tidak ada, aku hanya bilang bubur nya terlihat sangat enak dari bentuk nya." ucap Heri jadi gugup.


"Sudah dingin cobalah ." ucap Enjel.


Dia mencicipi nya.


"Humm enak sih, tapi seperti nya kurang gula." ucap Heri sambil memasukkan gula setelah di tambah rasa nya semakin enak.


Heri pun langsung makan.


"Loh ini untuk siapa?" tanya Heri melihat di sisih kan di dalam bekal.


"Untuk Abel." ucap Enjel. "Dia ngidam makanan yang aku masak tapi harus bubur." ucap Enjel.


"Pantesan saja kamu masak bubur kacang ijo seperti ini. Ternyata untuk Abel." ucap Heri.


"Jadi kamu akan mengantar nya ke sana?" tanya Heri.


Enjel mengangguk.


"Tidak perlu kamu yang pergi, biar taksi saja." ucap Heri.


"Kenapa?" tanya Enjel.


"Kamu lupa hari ini hari apa?"


"Hari Minggu, apa yang salah dengan itu?"


"Pakaian kotor mu Pasti sangat banyak, pakaian ku juga. Aku butuh bantuan kamu untuk mencuci nya."


"Aku sudah mengantarkan pakaian ku ke laundry. Kamu juga sebaik nya bawa saja ke Laundry aku sangat lelah."


"Kamu tau sendiri pakaian ku tidak pernah di laundry."

__ADS_1


"Kalau begitu cuci saja sendiri."


"Ya sudah gak apa-apa, tapi aku numpang nyuci di balkon kamar kamu." ucap Heri. Enjel mengangguk.


__ADS_2