
"Makan kok." ucap Radit langsung memasukkan ke dalam mulut nya. Begitu juga dengan Enjel Menatap Heri.
Dengan cepat Heri memasuk kan makanan ke dalam mulut nya.
"Aku juga makan kok, hanya saja kurang suka." ucap Heri.
"Huff ini adalah makanan salah satu favorit." ucap Enjel. "Aku juga akan membiasakan diri untuk memakan ini." ucap Heri.
Mereka berdua benar-benar harus mengikuti apa kemauan dua perempuan yang di depan nya sementara Farel Sibuk dengan paha ayam di tangan nya.
Tidak beberapa lama akhirnya selesai, Heri berlari ke kamar mandi.
"Sialan si Enjel! Dia sudah jelas tau aku tidak suka makanan seperti ini, namun tetap saja dia memaksa ku." ucap Heri.
"Ngomong apa kamu?" ucap Enjel baru saja masuk ke kamar mandi dan melihat Heri mual-mual.
"Enggak.. Gak ada kok. Aku sangat kenyang sehingga rasa nya mau keluar." ucap Heri. Enjel mengangguk sambil tersenyum.
"Kalau begitu kita kembali ke kantor." ucap Enjel..Heri mengangguk.
Sampai di kantor Radit melihat Abel berdiri di samping kaca tembus pandang.
"Apa yang kamu lihat?" tanya Radit tiba-tiba memeluk Abel dari belakang. Abel memegang tangan suami nya yang ada di perut nya.
"Tidak ada, aku hanya memikirkan dulu keinginan ku hanya bekerja di sini saja, bukan jadi istri pemilik perusahaan ini." ucap Abel.
Radit tersenyum dia mencium leher Abel.
"Kak Radit..." ucap Abel. Radit tersenyum dia mengelus perut Abel. "Saya sangat senang setelah memiliki kamu di hidup saya." ucap Radit.
"Dan di tambah lagi calon buah hati kita. Terimakasih sayang." ucap Radit mencium kening Abel.
Abel tersenyum. "Oh iya kak, apa kakak baik-baik saja kalau Farel tetap tinggal bersama kita?" tanya Abel.
"Maksud kamu?"
"Aku takut dia akan kekurangan kasih sayang karena mood ku terkadang berubah-ubah." ucap Abel.
"Tidak apa-apa.. Saya akan menjaga Farel dan Bibik juga ada yang bantuin. Lagian kita harus berterimakasih kepada Farel berkat dia juga kita cepat mendapatkan rejeki." ucap Radit.
Abel tersenyum dia melihat ke arah Farel yang sibuk dengan mainan. Bukan mainan yang di beli melainkan buku Radit yang tidak di pakai. alat tulis dan banyak juga yang lain nya karena tidak mungkin membawa mainan ke sana.
Radit menatap Abel, kenapa kakak menatap ku seperti itu?" tanya Abel.
Radit menggeleng kan kepala nya. Tiba-tiba Abel mencium pipi Radit. Radit tersenyum dia langsung mencium bibir Abel.
"Permisi Pak." tiba-tiba Novi datang. Abel dan Radit kaget. Mereka segera melepaskan ciuman nya. Novi melihat itu seketika langsung menunduk.
"Ma-maaf pak, saya tidak tau tadi." ucap Novi. Radit menghela nafas panjang. "Lain kali ketuk pintu kalau ada saya dengan istri saya." ucap Radit.
__ADS_1
"Baik pak."
"Ada apa kamu ke sini?"
"Beberapa menit lagi rapat akan di mulai, bapak sudah di tunggu di ruangan meeting." ucap Novi.
"Baiklah, saya akan ke sana." ucap Radit. Novi pun langsung keluar dari sana.
"Argghh....... Nyebelin.... Aku gak suka. Aku tidak boleh diam saja kalau seperti ini." ucap Novi.
"Sayang kamu di sini dengan Farel dulu yah." ucap Radit kepada Abel.. Abel tersenyum sambil mengangguk.
"Ya udah kalau begitu." ucap Ucap Abel.
Radit pergi meninggalkan Abel di ruangan itu bersama Farel.
Sampai di ruangan meeting semua mata tertuju kepada Novi. "Ada apa sih dengan Novi?" ucap Heri kepada Enjel yang duduk di samping nya.
"Aku tidak tau tanya saja pada dia." ucap Enjel.
"Sudah lah aku tidak perduli." ucap Heri.
Enjel menghela nafas panjang.
Mood Novi terlihat sangat buruk sekali sehingga tidak ada yang berani bercanda. Semua nya sangat serius sekali.
"Huff aku sudah bosan seharian di sini." ucap Abel.
Dia melihat jam. "Seperti nya kak Radit masih lama selesai nya. Sebaiknya aku pulang duluan saja deh." ucap Abel.
Dia meninggal kan surat di atas meja setelah itu pulang membawa Farel.
Tidak lupa juga dia merapikan ruangan yang sudah berantakan karena Farel.
Mereka pulang di antar oleh supir.
"Non Abel sudah pulang?" Bibik menyambut mereka.
"Iyah bik, aku sangat bosan di sana, pinggang ku terasa sangat sakit dan badan ku juga tidak enak." ucap Abel.
"Itu efek hamil non, sebaiknya non istirahat saja, biar Farel dengan saya." ucap Bibik. Abel mengangguk.
"Terimakasih yah bik." ucap Abel.
Satu jam setengah Radit baru saja keluar dari ruangan Meeting dia langsung ke ruangan nya.
"Sayang..." Ucap Radit sambil membuka pintu namun ternyata ruangan nya sudah kosong.
"Loh kemana mereka?" tanya Radit. Dia masuk melihat Ruangan sudah rapi, dia melihat surat di atas meja.
__ADS_1
"Aku pulang duluan yah, aku mau istirahat di rumah."
"Bye suami ku..."
Radit menghela nafas panjang. "Aku sudah menduga itu. Dia tidak akan betah di sini lama-lama." ucap Radit.
Ruangan yang tadi nya terasa sangat ramai jadi sangat sepi. Radit memilih lanjut bekerja.
Hari sudah sore.. Abel baru selesai mandi.
"Humm kak Radit dan aku sudah lama tidak melakukan itu, apa sebaiknya aku mempersiapkan diri untuk menyambut nya?" ucap Abel.
"Humm tapi aku yakin kak Radit sudah menginginkan nya juga." ucap Abel. Akhirnya dia memilih pakaian yang sangat seksi untuk menyambut suaminya.
"Papah pulang..." Radit berteriak ketika pulang dan Farel akan berlarian kepada Radit.
Abel mendengar suara suami nya dari kamar.
"Tuh kak Radit sudah pulang." ucap Abel.
"Sini Tuan saya bantu bawa tas nya." ucap Bibik. Radit memberikan nya.
"Abel mana Bik?"
"Di kamar Tuan, seperti nya baru saja selesai mandi." ucap Bibik. "Oohh kalau begitu saya ke atas dulu yah bik." Radit naik ke lantai atas.
"Wangi sekali." ucap Radit. Dia mencium dari Farel namun tidak sewangi itu dia mendekati kamar dan ternyata asal usulnya dari kamar.
Dia membuka pintu.
Abel sudah berdiri di depan pintu. "Sayang... Apa yang kamu pakai?" ucap Radit kaget langsung menutup mata Farel.
Abel juga kaget karena Farel ikut di bawa masuk.
Dia langsung mengambil bantal menutup badan nya.
"Farel di luar sama Bibik yah." ucap Radit langsung membuat Farel di depan pintu. Bibik melihat Farel dia langsung mengambil nya.
Radit melihat penampilan Abel yang tidak biasanya.
"Abel...." Ucap Radit. Abel malu-malu.
"Humm aku mau mencoba nya saja, percuma saja ada di lemari kalau tidak di pakai." ucap Abel.
Radit mengunci pintu, dia mendekati Abel.
"Kak..." "Humm??"
"Kamu sangat cantik sekali." ucap Radit.
__ADS_1