Perjodohan Sejak Dini

Perjodohan Sejak Dini
Episode 123


__ADS_3

"Aku tidak akan membukakan pintu." ucap Enjel langsung pergi.. Keluar dari ruangan Heri namun dia sangat kaget melihat beberapa orang yang sangat kepo apa ya terjadi di dalam.


"Enjel apa yang terjadi di dalam ruangan pak Heri? kenapa ribut-ribut? Aku mendengar kamu meninggikan suara." ucap teman nya.


"Apa kalian mendengar nya?"


"Iyah! Kamu mendengar nya, namun sayang nya tidak jelas Kamu mengatakan apapun." ucap teman-teman nya.


"Huff syukurlah." batin Enjel.


Tiba-tiba handphone nya berdering telepon dari Abel.


"Halo Enjel kamu masih di kantor?"


"Iyah Abel, kenapa?"


"Nanti sore ketemu di luar yok."


"Tumben banget, suami kamu gak melarang nya?"


"Aku sangat bosan di rumah, kak Radit sampai sekarang belum pulang dan tidak bisa di hubungi." ucap Abel.


"Oohh kalau begitu aku akan kabarin kamu." ucap Enjel. Panggilan telepon pun terputus.


Sudah sore Enjel ke tempat yang sudah di janjikan dengan Abel.


"Akhirnya kamu datang juga Enjel." ucap Abel. Enjel melihat Pakaian Abel yang sangat terbuka.


"Abel ada apa dengan kamu? kenapa pakaian sangat terbuka seperti ini?" tanya Enjel.


"Aku sudah lama tidak memakai pakaian seperti ini.. Lagian gak ada kak Radit." ucap Abel. Enjel menghela nafas panjang.


"Namun tetap saja kamu tidak boleh memakai pakaian seperti ini karena semua orang tau kamu adalah istri dari pak Radit, menantu dari pak Malvin." ucap Enjel.


"Huff kamu jangan sama seperti kak Radit dong, aku juga kalau bisa milih aku tidak ingin pakaian seperti ini, namun mungkin ini bawaan bayi nya." ucap Abel.


Enjel menghela nafas panjang.


"Kamu selalu saja menjadi kan kehamilan kamu menjadi alasan." ucap Enjel.


"Sudah-sudah jangan banyak protes. Sebenarnya aku mau ngajakin kamu belanja." ucap Abel.


"Hum pas banget. Aku juga mau mencari sesuatu." ucap Enjel.


Mereka segera berangkat ke mall.


"Bagaimana dengan Heri?" tanya Abel sambil menyetir.


"Tidak ada apa-apa." ucap Enjel.


"Masa sih?" tanya Abel.


"Iyah." ucap Enjel.

__ADS_1


"Jangan bohong, kamu dengan Heri hari ini pasti berantem lagi kan?" tanya Abel.


"Kamu tau dari mana?" tanya Enjel.


"Ada yang bilang deh pokoknya." ucap Abel.


"Huff pasti anak-anak kantor." ucap Enjel.


"Ada apa lagi?" tanya Abel.


"Aku mengajukan surat pengunduran diri." ucap Enjel.


Abel menghela nafas panjang.


"Kamu kenapa sih Enjel? Kenapa sampai mengajukan pengunduran diri? kalau kak Radit tau dia pasti menolak nya." ucap Abel.


"Heri juga menolak nya." ucap Enjel. "Bagus deh. Kalau kak Radit tau tentang ini dia pasti marah." ucap Abel.


"Kamu sendiri kenapa mengajukan surat pengunduran diri?" tanya Abel. Enjel menggeleng kan kepala nya.


"Kamu tidak tahan yah melihat Heri bersama Jesica?" tanya Abel.


Enjel diam saja. "Huff Kalau kamu menyukai Heri katakan dengan jujur, jangan membohongi perasaan kamu sendiri." ucap Abel.


Enjel diam saja. "Aku sendiri tidak tau ada apa dengan ku, apa aku menyukai Heri atau hanya karena nyaman saja ." batin Enjel.


Tidak beberapa lama akhirnya sampai. Mereka berjalan ke toko kosmetik.


"Tumben-tumbenan banget kamu membeli skincare sangat lengkap." ucap Abel.


Enjel melihat sabun mandi dan semua peralatan kamar mandi.


"Di kamar mandi sebelah tidak ada sabun lagi. Sebaik nya aku membeli yang baru." ucap Enjel.


Setelah selesai dari sana mereka pindah toko sampai tidak terasa sudah sangat malam. Mereka makan dulu setelah itu baru pulang..


"Kamu langsung pulang saja Abel, aku bisa pula sendiri kok " ucap Enjel.


"Kamu yakin? Aku bisa kok nganterin kamu." ucap Abel.


"Apartemen ku sangat jauh, aku tidak mau membuat kamu kelelahan. Kamu pulang saja sebelum Bibik ucap Enjel.


"Ya udah kalau begitu. Aku pulang dulu yah. Makasih sudah Nemanin aku." ucap Abel. Dia meninggal kan Enjel di depan mall.


Enjel mau mencari taksi namun tiba-tiba mobil berhenti di Hadapan Nya menghentikan langkah nya.


"Pantesan saja sore-sore kamu sudah keluar dari perusahaan, ternyata kamu shopping di sini." ucap Heri menurunkan kaca mobil nya.


Melihat Heri Enjel menghela nafas panjang.


"Ada apa kamu ke sini?" tanya Enjel.


"Tidak ada, aku hanya jalan-jalan saja namun tidak sengaja melihat kamu." ucap Heri.

__ADS_1


"Kalau tidak ada yang begitu penting aku akan pulang." ucap Enjel.


"Naik lah ke dalam mobil." ucap Heri. Enjel menggeleng kan kepala nya.


"Masuk lah ke dalam mobil!" ucap Heri.


"Aku sudah menunggu kamu satu jam lebih di Depan apartemen namun tak kunjung datang, untung saja kamu di sini." ucap Heri.


"Kamu dari apartemen?"


Heri mengangguk.


"Kenapa kamu ke apartemen? bukan nya kamu bilang akan pergi dan tidak mau tinggal di sana?"


"Aku sudah bilang kalau aku akan pulang."ucap Heri.


"Kalau begitu kenapa kamu tidak langsung masuk saja?" tanya Enjel.


"Kamu lupa yah kalau kamu mengganti password pintu nya?" ucap Heri. Enjel terdiam sejenak dia mengingat pada waktu menukar nya. Dia kesal dan menukar nya.


"Maaf." ucap Enjel. "Buruan masuk ke dalam.. Hari sudah sangat malam." ucap Heri.


Heri membantu membawa semua belanjaan Enjel ke dalam mobil.


"Huff kamu seperti baru gajian saja berbelanja Banyak seperti ini." ucap Enjel.


"Di mana-mana perempuan sama saja yah, suka nya shoping yang tidak jelas." ucap Heri.


"Seperti nya Banyak perempuan yang sudah kamu belanjain." ucap Enjel.


"Tidak banyak sih. Hanya beberapa saja. Karena aku tidak suka menemani perempuan belanja. Aku hanya memberikan uang kepada perempuan-perempuan mantan ku." ucap Heri.


"Oohh..." ucap Enjel. Heri menoleh ke arah Enjel yang duduk di samping nya.


"Perempuan itu ribet. Harus ini, harus itu. Beli ini beli itu. Putar ke sana putar ke sini membeli barang-barang yang aneh." ucap Heri.


Enjel hanya diam saja. Tidak terasa sampai juga di apartemen Enjel.


Enjel menekan pin pintu.


"Loh itu kan tanggal lahir kamu?" ucap Heri.


"Kamu tau tanggal lahir ku?" tanya Enjel. Heri mengangguk.


"Apa sih yang tidak aku tau tentang kamu."


"Apa kamu tau tentang orang tua ku?" tanya Enjel. Seketika Heri langsung diam.


"Tidak mungkin aku tau, aku tidak pernah bertemu dengan mereka." ucap Heri.


"Tapi kamu tau semua nya tentang aku." ucap Enjel. "Aku hanya bercanda." ucap Heri.


"Papah dan mamah sudah bercerai dari aku remaja." ucap Enjel sambil masuk ke dalam.

__ADS_1


"Jadi mereka sekarang sudah tidak tinggal satu rumah?" tanya Heri. Enjel menggeleng kan kepala nya.


"Sudah tidak lagi. Mereka sudah memiliki kehidupan nya masing-masing."


__ADS_2