Perjodohan Sejak Dini

Perjodohan Sejak Dini
Episode 143


__ADS_3

"Jangan Gila Tania. kita sudah berjanji untuk tidak ada hubungan lagi bukan? Kita sekarang hanya sepupuan, status hanya status saja. Aku sebagai suami akan terus menafkahi kamu." ucap Radit.


"Aku tidak butuh uang kamu, aku hanya butuh kamu. Satu tahun tidak bisa membuat aku melupakan kamu Radit." ucap Tania.


"Stop Tania, stop! Aku tidak ingin mengingat itu lagi."


"Kenapa? Kamu takut akan jatuh cinta lagi kepada ku? Atau jangan-jangan kamu masih belum bisa melupakan aku?" tanya Tania.


"Tania... Stop.. Kamu tau kan hubungan ku dengan Abel seperti apa. Dan sekarang dia sedang hamil." ucap Radit.


Di tempat lain Abel sedang enak melihat ke luar dari balkon. Namun tiba-tiba Dada nya sakit.


Mencoba minum obat yang biasa dia minum namun Tetap saja terasa sangat sakit sekali. "Ada apa ini? Kenapa Dada ku sakit sekali." batin Abel.


"Mah... Mamah..." Panggil Abel karena sudah tidak tertahankan lagi. Setelah beberapa lama akhirnya mamah mertua nya datang berusaha membuat Abel tenang agar rasa sakit nya segera hilang.


"Bagaimana nak? Masih sakit?" tanya Mamah mertua nya. Abel menggeleng kan kepala nya.


"Enggak mah, sudah tidak sakit lagi hanya sedikit lemas saja." ucap Abel.


"Mamah kabarin suami kamu dulu yah."


"Gak usah mah, dia pasti sudah istirahat, jangan mengganggu dia, lagian aku sudah tidak apa-apa."


"Kamu yakin nak?" Abel tersenyum. Setelah itu mamah mertua nya keluar.


Abel Memegang dada nya.


"Akhir-akhir ini sudah dua kali dada ku sakit seperti dulu lagi. Ada apa ini? kenapa aku berfirasat buruk?" batin Abel.


Keesokan harinya pagi-pagi...


"Good morning sayang." sapa Heri yang baru saja bangun namun sudah melihat Enjel bersih-bersih apartemen.


Enjel tersenyum. "Pagi.. Kenapa kamu belum mandi?" tanya Enjel. Heri mendekati Enjel.


"Pergi mandi dulu. Kamu belum sadar sepenuhnya." ucap Enjel.


Heri meletakkan kepala di bahu Enjel.


"Saya tidak memiliki tenaga."


Enjel menghela nafas panjang.


"Maka nya mandi dulu."


Heri menatap wajah Enjel.


"Saya butuh kis morning agar aku sadar." ucap Heri.


Enjel tersenyum.. Heri memberikan Pipi sebelah kanan nya.


Namun bukan ciuman yang dia dapat, tapi pukulan sapu dari Enjel di bagian pantat.


"Enjel.... Sakit." ucap Heri.


Enjel tertawa kecil.


"Kamu sudah sadar kan? Sudah sana mandi." ucap Enjel. "Sayang aku mau cium dari kamu." ucap Heri.

__ADS_1


"Tidak ada! Jangan harap ada cium." ucap Enjel.


Heri menghela nafas panjang. "Kamu pasti kecapean kan? Kamu istirahat saja dan aku akan membersihkan semua nya."


"Bagus deh, nih bersihkan semua nya, dapur, ruang tamu dan juga balkon. Oh iya jangan Lupa dapur di Rapikan yah, aku mau mandi dulu." ucap Enjel langsung pergi meninggalkan Riski.


Riski menghela nafas.


Tidak beberapa lama mereka sarapan bersama.


"Aku berangkat naik Taksi saja yah." ucap Enjel.. Heri menggeleng kan kepala nya.


"Gak boleh!" ucap Heri.


"Kamu harus ikut dengan ku."


"Tapi aku tidak ingin orang lain berfikir aneh-aneh karena kita selalu datang bersama.. Mereka semua bisa tau kalau kita tinggal satu rumah."


"Jangan perduli kan apa kata mereka." ucap Heri. Enjel menghela nafas panjang.


"Aku tidak nyaman." ucap Enjel.


Riski menatap wajah Enjel.


"Baiklah kalau itu mau kamu, lagian aku tidak bisa memaksa kamu." ucap Heri.


Enjel tersenyum. Mereka pun berangkat ke kantor.


Satu Minggu kemudian...


Novi dan Radit menunggu Abel di bandara.


"Loh kamu di sini juga Enjel?" tanya Novi. Enjel tersenyum sambil mengangguk.


"Sebentar lagi pasti sampai kok." ucap Novi.


"Kamu datang sendirian? Pak Radit mana?"


"Pak Radit tadi ikut ke sini, namun tiba-tiba ada kerjaan penting dan baru saja dia pulang." ucap Novi.


"Aku melihat akhir-akhir ini Mbak Tania sering datang ke kantor." ucap Abel.


Novi mengangguk.


"Aku berharap semua nya baik-baik saja." ucap Enjel.


"Oh iya ngomong-ngomong kamu dengan pak Radit seperti apa sekarang? Apa kamu sudah menyerah mau menginginkan pak Radit."


"Enjel bisa tidak kamu jangan membahas itu?" ucap Novi.


"Aku hanya ingin tau, karena akhir-akhir ini aku melihat kamu lebih enjoy tidak seperti biasanya.


"Aku sudah melupakan perasaan ku kepada pak Radit, semua nya mustahil untuk mendapatkan pak Radit." ucap Novi.


"Nah gitu dong. Kamu cantik siapapun mau sama kamu, dan posisi kamu di sini sangat bagus, jangan sampai semua nya hancur." ucap Enjel.


"Hummm kamu sendiri bagaimana dengan pak Heri?"


Enjel langsung gelalapan.

__ADS_1


"Kok diam sih?"


"Kamu dengan pak Heri sudah pacaran yah? Aku bisa melihat dari wajah kamu dengan pak Heri." ucap Novi.


"Ssttt jangan gede-gede dong Ngomong nya."


"Berarti tebakan ku benar kan?"


"Baru tiga hari." ucap Enjel.


Novi tersenyum mendengar nya.


"Aku senang deh mendengar nya." ucap Novi.


Enjel tersenyum.


"Jujur saja setelah dekat dengan Heri kamu tidak seperti dulu lagi, kamu tidak pendiam dan memilih-milih teman.. Sekarang kamu sudah lebih banyak tersenyum dan bekerja dengan aktif." ucap Novi.


"Kamu yang sudah tau aku seperti apa dari dulu, aku juga senang dengan perubahan ku yang sekarang." ucap Enjel.


"Heri memang memiliki masa lalu yang buruk, sifat yang buruk, namun kalau kamu pintar kamu pasti bisa merubah nya perlahan." ucap Novi.


"Kamu benar Novi." ucap Enjel.


"Enjel...." Ucap Abel yang baru saja datang dan berteriak berlari kepada Abel.


"Abel jangan lari-lari." ucap mamah nya khawatir.


Abel memeluk Enjel.. Karena ada Novi Abel mengajak nya bergabung.


"Aku sangat merindukan kamu, bagaimana kabar kamu?" tanya Enjel kepada Abel.


"Baik-baik aja karena ada mamah yang menjaga ku "


Abel dan mereka menoleh ke arah mamah mertua nya yang ngos-ngosan.


"Kenapa mah?"


"Kamu masih tanya kenapa? Mamah khawatir karena kamu lari-lari, bagaimana kalau kamu jatuh? Kamu seperti anak kecil." ucap mamah nya.


Abel tersenyum.


"Maafin aku mah." ucap Abel.


Tidak lama orang tua Abel datang.


"Semua nya ayo makan siang dulu, aku sudah rindu kalian ajak Abel.


Mereka setuju.


"Kak Radit kok gak ada yah? Tapi mungkin dia Sibuk aku tidak boleh terlihat posesif di depan keluarga ku." ucap Abel.


Saat sedang makan siang suami nya datang.


"Kak Radit." ucap Abel langsung memeluk suaminya.


"Bagaimana liburan nya?"


"Sangat seru." ucap Abel. Radit tersenyum.

__ADS_1


Mereka makan bersama. Makan ramai-ramai sangat seru.


Saat sedang asik makan Enjel di telpon oleh Heri karena sudah sangat merindukan nya. Namun Enjel mengabaikan nya.


__ADS_2