Perjodohan Sejak Dini

Perjodohan Sejak Dini
Episode 74


__ADS_3

Dia menelpon lagi namun tidak di jawab oleh Abel.


"Kata mamah kalau sedang menstruasi itu mood nya terkadang kurang baik, sebaik nya aku jangan mengganggu nya." ucap Radit.


Di siang hari nya...


"Halo mah..." Radit di telpon oleh mamah nya.


"Apa kabar kamu nak? Apa kamu sudah makan siang?" tanya Mamah nya.


"Belum Mah." jawab Radit.


"Loh kenapa? ini sudah hampir jam satu, apa istri mu tidak mengirim kan makanan ke kantor?" tanya Mamah nya.


"Hari ini tidak mah." ucap Radit.


"Loh kenapa? Bukan nya sekarang istri mu tidak bekerja jadi Sudah bisa mengurus kamu." ucap mamah nya.


"Abel sakit perut, aku rasa dia tidak bisa Masak." ucap Radit.


"Walaupun sakit perut yang namanya kewajiban harus di lakukan." ucap mamah nya.


"Tidak apa-apa kok mah, aku juga tidak keberatan untuk makan di luar." ucap Radit.


"Tapi mamah yang keberatan nak, kamu harus tegas sama istri kamu." ucap mamah nya.


"Iyah mah, hanya sesekali saja." ucap Radit.


"Ya udah deh, pokoknya mamah mau kamu tegas.. Jangan biar kan istri kamu bermanja-manja." ucap Mamah nya.


"Iyah mah." ucap Radit. Sambungan telepon pun mati.


Radit langsung menelpon istri nya.


"Halo Abel... Kamu sedang apa?" tanya Radit dengan lembut.


"Tidak ada. Aku sedang menonton." ucap Abel.


"Apa kamu sudah makan?" tanya Radit.


"Sudah." jawab Abel.


"Oohh bagus lah kalau begitu. Saya juga akan makan." ucap Radit. "Humm.." Telpon langsung mati.


"Ini sudah kebiasaan Abel mematikan sambungan telepon sepihak." ucap Radit.


Di sore hari nya Radit kembali ke rumah. Abel menunggu nya di depan.


"Kenapa kamu di sini? Kamu tidak perlu menunggu saya kalau perut kamu masih sakit." ucap Radit.


"Tidak apa-apa." ucap Abel.


Radit melihat wajah Abel tidak seperti biasanya.


"Ada apa Abel? Kenapa Kam memasang wajah seperti ini? apa saya melakukan kesalahan. Seharian kamu selalu mengabaikan saya." ucap Radit.


Abel membuka handphone nya dia menunjukkan foto yang di kirim oleh Enjel.

__ADS_1


"Aku semakin yakin kalau kakak dengan Novi ada hubungan kan? Pakai pegangan tangan." ucap Abel.


Radit kaget melihat foto itu.


"Dari mana kamu mendapatkan foto itu?" tanya Radit.


"Tidak perlu kakak tau nya dari mana." ucap Abel.


Radit menghela nafas panjang. "Novi tidak sengaja menarik tangan saya untuk sarapan. Dia membawa makanan yang dia masak sendiri dan meminta saya mencicipi nya." ucap Radit.


"Oohh mencicipi nya?" ucap Abel.


Radit menghela nafas panjang.


"Kamu tidak perlu cemburu kepada Novi. Dia selalu seperti itu dia sudah sangat dekat kepada saya." ucap Abel.


"Aku tidak cemburu, siapa yang cemburu." ucap Abel. Dia berlalu masuk ke dalam.


Radit mengikuti nya masuk. Tidak mengatakan apapun dia juga tidak ingin membuat Abel yang sudah kesal tambah kesal.


Harus banyak bersabar menghadapi istri nya yang sedang Menstruasi itu.


Satu Minggu berlalu...


Abel baru saja selesai menstruasi.


"Kenapa kamu keramas pagi-pagi?" tanya Radit karena Abel tidak biasanya keramas pagi-pagi.


"Aku baru saja selesai mandi wajib." ucap Abel.


"Hufff bagus deh kalau begitu." ucap Radit.


"Kakak bilang apa?" tanya Abel.


"Gak, gak ada kok." ucap Radit. Abel memasang ekspresi heran.


"Hari ini kakak kemana?" tanya Abel karena hari Minggu.


"Apa kamu lupa hari ini Tante dan Om saya akan datang ke sini jadi saya tidak bisa kemana-mana." ucap Radit.


"Oohh, aku mau ke rumah mamah sama Papah hari ini boleh kan?" tanya Abel.


"Sendirian?"


"Sama Mila."


"Tidak bisa! Kalau hanya berdua saja, besok kita akan kembali sama-sama." ucap Radit.


"Aku mau nya sekarang kak. Lagian Besok Mila gak libur. Dan tidak di sini lagi, dia sekalian pulang ke rumah." ucap Abel.


"Kamu bisa gak jangan membantah?" ucap Radit. Abel menghela nafas panjang.


"Masalah Mila, ada supir yang nganterin dia pulang." ucap Radit.


"Baiklah." ucap Abel. Dia keluar dari kamar menyusul Adik nya.


"Ya Allah Mila kamu belum juga bangun?" ucap Abel melihat adiknya masih tidur di kasur berselimut.

__ADS_1


Abel membuka tirai dan jendela agar silau. "Kak Abel jangan ganggu aku dulu, aku masih ngantuk." ucap Mila.


"Hari ini kamu harus pulang ke rumah Mila, kenapa kamu masih tidur?"


"Bentar lagi kak."


"Buruan bangun!" ucap Abel.


"Kak Abel jangan ganggu aku."


"Jangan membuat kakak marah Mila, ayo bangun dari pagi papah sama Mamah sudah menelpon." ucap Abel.


"Iyah-iyah aku bangun." Mila langsung duduk.


"Kakak gak bisa nganterin kamu pulang, kamu pulang sama supir aja yah." ucap Abel.


"Humm." jawab Mila.


"Ayo bangun Mila." ucap Abel. Mila menghela nafas panjang.


"Iyah kak, nih aku mandi." Dia turun dari kasur dan masuk ke kamar mandi.


Abel keluar dari kamar nya dan ternyata Tante dan Om Radit sudah datang. Mereka menyambut nya.


Yang membuat Abel heran adalah mereka membawa anak laki-laki nya yang mungkin masih umur tiga tahun.


"Abel kamu apa kabar?" tanya Tante nya. "Baik Tante."


Sebenarnya Abel kurang nyaman, namun dia harus berusaha menyesuaikan diri dengan keluarga Radit.


Abel tidak tau jelas kedatangan mereka apa ke rumah Radit lagi.


"Kedatangan Om dengan Tante ke sini adalah mau meminta tolong kepada kalian berdua termasuk Abel untuk merawat anak Om untuk beberapa Minggu." ucap Om Nya Radit.


Abel cukup terkejut dan juga heran.


"Maksud nya apa Om?" tanya Radit.


"Kamu tau sendiri anak Om Ada empat, dan jarak mereka cukup dekat-dekat. Sekarang Tante kamu sedang hamil jadi alangkah baiknya si Farel om titip sama kalian berhubung kalian juga belum memiliki momongan. Itung-itung Belajar." ucap Om nya Radit.


Abel terkejut, dia melihat anak laki-laki yang sedang tidur di troli nya.


"Kamu gak keberatan kan Abel?" tanya Tante nya Radit. Abel menoleh ke arah Radit. Sebenarnya Abel ingin menolak namun dia tidak enak hati sehingga menyerahkan Radit untuk menjawab Tante nya.


"Kenapa Tante dan Om tidak membayar pengasuh?" tanya Radit.


"Bukan tidak mau Radit, namun Tante dan Om sangat trauma kepada pengasuh. Terkadang mereka sangat kejam." ucap Tante nya.


Radit menghela nafas panjang.


"Hanya beberapa Minggu saja sampai pekerjaan Om kamu di luar provinsi selesai dan juga masa-masa ngidam Tante kamu selesai." ucap Tante nya lagi.


Radit menghela nafas panjang. Tante dan om nya memohon. Radit menoleh ke arah Abel.


Sebenarnya dia tidak mempermasalahkan nya karena itu saudara nya juga.


Namun dengan Abel bagaimana? Tidak mungkin dia memaksa Abel.

__ADS_1


__ADS_2