
Heri tersenyum. "Aku senang kalau kamu suka." ucap Heri. Enjel tersenyum.
Cukup lam mereka di sana, mereka tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu yang tidak akan pernah terulang lagi mereka mengambil momentum bersama, mengambil video dan foto bersama. Mendengar kan musik, menikmati cemilan dan juga melihat pemandangan dari atas sana.
Heri merangkul Enjel yang sedang melihat ke arah langit. Langit yang penuh dengan bintang.
"Aku sangat menyukai kehidupan ku yang sekarang, aku tidak ingin semua nya berubah." ucap Enjel.
"Apa kamu ingin bertemu orang tua kamu?" tanya Heri. Enjel menggeleng kan kepala nya.
"Aku hanya ingin mengunjungi Nenek ku, namun aku belum memiliki waktu untuk bertemu dengan dia." ucap Enjel.
"Kalau begitu ayo kita kunjungi bersama." ucap Heri. Enjel berbalik dia menatap Heri dengan tatapan bingung.
"kenapa? Aku tidak bercanda aku serius." ucap Heri. Enjel menggeleng kan kepala nya. "Tidak perlu, lagian sangat jauh, butuh waktu satu hari ke sana." ucap Enjel.
Heri menghela nafas panjang. "Katakan saja apa yang ingin kamu lakukan nanti yah." ucap Heri sambil mencium kepala Enjel.
Di tempat lain Abel baru saja masu tidur dia melihat suami nya masih Sibuk dengan tab nya.
"Huff kakak memang pulsa cepat, namun kakak di rumah tetap saja terus bekerja. Kalau sudah di rumah kenapa tidak istirahat saja?" ucap Abel. Radit menoleh ke arah istri nya.
Dia meletakkan tab nya dan Tidur di sebelah istri nya. "Good night sayang." ucap Radit mencium kening istrinya dan setelah itu langsung tidur. Abel tersenyum.
Tidak beberapa lama Abel tidur dengan pelukan suami nya.
Radit sadar istri nya sudah tidur dia menarik tangan nya. Radit Menatap wajah istri nya yang terlihat sudah sangat nyenyak sekali.
Radit juga mengelus perut Abel.
"Nak maafin papah yah nak, Papah benar-benar bingung sekarang." ucap Radit. Karena tidak bisa tidur akhirnya dia melanjutkan pekerjaan yang ada di tab nya.
Keesokan harinya...
"Selamat pagi Radit...." Sapa Tania yang menelpon Radit pagi-pagi sekali.
"Ini bukan Radit, melainkan istri nya." ucap Abel. Tania yang mendengar itu langsung panik dia heran.
"Kenapa Kamu menjawab telpon suami kamu?" tanya Tania.
"Aku istri nya, lagian ada apa nelpon pagi-pagi sekali?"
"Aku mau berbicara dengan Radit, berikan handphone nya kepada Radit."
"Kak Radit masih tidur, nanti saja berbicara dengan dia." ucap Abel langsung mematikan sambungan telepon nya.
__ADS_1
"Huh! Menyebalkan sekali, sangat tidak sopan sekali dia mematikan Handphone ku seperti itu." ucap Tania kesal.
"Untung saja aku tidak berbicara yang aneh-aneh tadi." ucap Tania, tetap saja dia masih takut. Setelah beberapa lama lama akhirnya Radit bangun.
"Sayang...." ucap Radit yang melihat Abel baru selesai mandi.
Abel melirik ke suami nya. "Kakak sudah bangun? kakak mau langsung mandi atau mau minum kopi dulu? aku sudah membuat nya di atas meja." ucap Abel.
Radit tersenyum dia duduk dan memegang tangan istrinya, dia duduk dan memeluk istrinya yang berdiri tidak jauh dari nya.
"Kakak sangat manja sekali." ucap Abel. Radit mencium perut Abel Tampa henti. "Kamu sangat wangi dan rapi pagi-pagi, kamu mau keman?" tanya Radit.
"Tidak kemana-mana aku hanya ingin rapi saja. Sesekali. Aku juga ingin terlihat cantik di mata kamu." ucap Abel.
Radit menatap wajah istri nya. "Ayo lah sayang jangan pernah berfikir kalau kamu jelek, kamu selalu cantik di mata saya." ucap Radit.
Abel tersenyum. "Aku tau kakak akan mengatakan itu tapi aku tetap saja merasa aku sudah jelek, badan ku sudah semakin besar." ucap Abel.
Radit menggeleng kan kepala nya. "Enggak kok, jangan berbicara seperti itu, ini karena kamu hamil." ucap Radit. Abel tersenyum.
"Sudah-sudah jangan banyak berbicara lagi, kakak harus segera mandi, dan setelah itu sarapan agar tidak telat berangkat ke kantor." ucap Abel.
Radit mengangguk. "Berikan saya kiss morning." ucap Radit. "Kakak belum mandi." ucap Abel. Radit akhirnya mengiyakan langsung mandi.
"Kak tadi Tania menelpon kakak, namun karena kakak belum bangun aku menjawab nya, dia bilang ingin berbicara dengan kakak." ucap Abel.
"Biarkan saja, itu pasti mau membahas hal yang tidak penting." ucap Radit.
"Oohh," Ucap Abel. Tidak beberapa lama akhirnya Radit berangkat ke kantor. Sampai di kantor dia langsung memeriksa handphone nya.
Dia langsung menelpon Tania.
"Akhirnya kamu menelpon aku, aku sudah menunggu dari tadi." ucap Tania.
Radit menghela nafas panjang.
"Kenapa kamu menelpon aku pagi-pagi sekali? Untuk apa? Bagaimana kalau Abel curiga?" tanya Radit marah.
"Kok kamu marah sih? Apa yang membuat kamu marah? aku hanya menelpon kamu karena aku merindukan kamu." ucap Tania.
"Ada apa?" tanya Radit.
"Kamu galak banget sih? apa salah nya aku menghubungi suami ku sendiri?" tanya Tania.
"Kamu kenapa sih?" tanya Radit dengan kesal.
__ADS_1
"Justru kamu yang Kenapa. Aku hanya menelpon kamu namun istri kamu yang menjawab nya." ucap Tania.
Radit mau marah namun tidak mungkin dia marah.
"Kalau tidak ada hal yang penting sebaiknya matikan saja panggilannya." ucap Radit.
"Tunggu dulu, aku mau menyampaikan sesuatu." ucap Tania.
"Apa lagi? aku sangat sibuk aku mohon kamu jangan membuat aku semakin sibuk." ucap Radit.
"Aku ingin kamu malam ini datang ke apartemen ku." ucap Tania.
"Ngapain? Kamu jangan berfikir yang aneh-aneh yah Tania, status kita tidak sama seperti dulu." ucap Radit.
Tania menghela nafas panjang. "Aku hanya mau mengundang kamu makan malam bersama, aku mau masak sendiri, aku harap kamu datang." ucap Tania.
"Tidak bisa Tania."
"Kenapa? karena Abel?" tanya Tania langsung.
"Aku ingin kamu datang, aku ingin kamu datang jangan sampai kamu tidak datang." ucap Tania.
"Aku tidak bisa janji Tania."
"Kalau kamu tidak datang aku akan marah, kamu akan menanggung semua nya." ucap Tania.
Telpon langsung mati. Radit dengan kesal melempar kan handphone nya.
Namum Tampa sadar ternyata Novi yang masuk di sana dan melihat dia marah.
"Selamat pagi Pak.." ucap Novi.
"Pagi." jawab Radit. Novi duduk di depan Radit.
"Maafkan saya yang tidak bisa konsisten. Saya benar-benar sangat stress sekarang." ucap Radit.
Novi hanya dia karena itu bukan urusan nya. Setelah beberapa lama akhirnya Radit bisa fokus bekerja. sementara di tempat lain Abel sedang siap-siap berangkat.
"Non mau kemana?" tanya Bibik.
"Aku mau membeli barang yang aku butuhkan saja bik."
"Mau Bibik temanin gak?"
"Gak usah bik,." ucap Abel.
__ADS_1