Perjodohan Sejak Dini

Perjodohan Sejak Dini
Episode 187


__ADS_3

"Aku ingin melihat wajah kamu." ucap Heri. Panggilan beralih ke panggilan Video.


"Kenapa kamu tidur di sofa?" tanya Heri.


"Novi sudah tidur, aku takut nanti dia terganggu karena kita telponan." ucap Enjel.


"Oohh begitu kah." ucap Heri, Enjel mengangguk.


"Kamu baru mau mandi?" tanya Enjel kepada Heri yang tidak memakai baju .


"Benar, apa kamu mau ikut mandi?" tanya Heri. Enjel menggeleng kan kepala nya dengan cepat.


"Aku tidak mau. Kalau begitu kamu Mandi saja dulu, setelah itu hubungi aku lagi. Seperti nya aku tidak akan bisa tidur." ucap Enjel.


Heri mengangguk. Setelah itu Heri pergi mandi.


Abel menunggu Heri sambil memasak mie instan untuk dia makan.


"Tapi kalau di pikir-pikir di posisi Tania sebenarnya jauh lebih sakit." batin Enjel terlintas saja dari pikiran nya.


"Tania di madu demi perempuan lain, dia di abaikan dan di lupakan oleh suami nya sendiri Demi perempuan lain.. Bahkan ketika dia minta maaf pak Radit tidak memaafkan nya." ucap Enjel.


"Di tambah lagi di saat seperti ini semua orang menyalah kan dia." ucap Enjel.


"Aaarrggghhh!!! Gak tau deh, aku jadi ikut pusing kalau seperti ini." ucap Enjel.


Keesokan harinya.. Abel bangun pagi di terkejut melihat Radit tidur di depan pintu namun dia tidak perduli dia mengabaikan nya.


Hari-hari di jalani oleh Radit Tampa respon dari Abel. Dia melakukan semua nya agar bisa mendapatkan maaf dari Abel namun semua nya sia-sia.


Seperti Abel ingin memakan sesuatu Radit mencoba memasak namun Abel tidak memakannya atau bahkan membeli dari luar. Dia sangat pusing dia tidak tau harus apa namun tidak akan pernah menyerah demi istri dan anak nya itu.


Di hari Minggu kemudian..


"Kamu mau kemana?" tanya Radit menahan Abel yang melewati nya yang sedang duduk di ruang tamu sendiri.


"Kakak tidak perlu tau, urus saja istri pertama kakak." ucap Abel.


"Abel berhenti membahas itu." ucap Radit.


"Berhenti juga untuk ikut campur dengan urusan ku." ucap Abel.


Radit langsung diam. "Saya akan mengantar kan kamu." ucap Radit. Abel menggeleng kan kepala nya.


"Aku bisa pergi sendiri." ucap Abel.


"Abel jangan keras kepala." ucap Radit.


"Aku tidak akan pergi kalau kakak yang mengantarkan aku." ucap Abel. Radit menghela nafas panjang.


"Katakan kamu akan kemana? Jam berapa kamu akan pulang agar saya tidak khawatir." ucap Radit.


Abel menghela nafas panjang. "Mungkin aku tidak akan pulang." ucap Abel.

__ADS_1


Radit memegang tangan Abel dengan tatapan memohon.


"Abel..."


"Aku akan bertemu dengan Novi dan Enjel, di rumah membuat kepala ku pusing. Mungkin anak yang di perut ku juga muak di rumah ini, penuh dengan kebohongan." ucap Abel dan langsung pergi.


Novi dan Enjel berangkat.


"Mobil Heri ternyata bagus juga yah." ucap Novi mencoba mencair kan suasana yang sangat tegang.


Enjel mengangguk. "Sudah lah Enjel kamu tidak perlu tegang." ucap Novi.


"Bagaimana aku tidak tegang Novi." ucap Enjel.


Tiba-tiba handphone Enjel berdering.


"Halo Baby...." ucap Heri dengan sangat bersemangat.


"Ada apa? tumben banget kamu jam segini sudah bangun." ucap Enjel.


"Kamu jangan marah gitu dong, judes banget." ucap Heri.


Enjel diam. "Hati-hati di jalan, jangan mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi dan juga fokus." ucap Heri.


Enjel mengangguk. Telpon pun langsung mati.


"Kamu sangat beruntung memiliki Heri." ucap Novi. Enjel tersenyum sambil mengangguk.


Tidak beberapa lama akhirnya mereka sampai di tempat yang sudah di janjikan.


"Kalian sudah lama menunggu? Maaf yah aku cukup lama." ucap Abel.


"Gak apa-apa kok, silahkan duduk." ucap Novi. Abel duduk.


"Aku meminta kalian datang ke sini bertemu dengan ku mau menanyakan..."


"Kami minta maaf, kami minta maaf karena menyembunyikan semua nya dari kamu, kami tidak berniat seperti itu." ucap Enjel.


Abel terdiam. "Kami hanya orang lain, tidak mungkin kamu ikut campur dengan urusan orang lain juga." ucap Enjel langsung.


Abel menghela nafas panjang. "Jadi selama ini kalian tau?"


"Bukan hanya kami, orang di perusahaan rata-rata tau, namun kami ingin hubungan kamu dengan pak Radit baik-baik saja ." ucap Novi.


Abel menghela nafas panjang. "Jujur saja aku sangat kecewa kepada kalian." ucap Abel.


"Kami minta maaf Abel, kamu bebas mau melakukan apapun kepada kami yang penting Kamu memaafkan kamu." ucap Novi.


Abel menatap mereka.


"Apakah aku harus memberi kan hukuman kepada kalian?" tanya Abel.


"Kami akan menerima nya asak kan kamu memaafkan kami." ucap Enjel.

__ADS_1


"Kalau begitu kalian pergi dari kehidupan ku, jangan pernah menunjukkan wajah kalian berdua di kehidupan ku!" ucap Abel.


Mereka berdua terdiam. Menunduk kan kepala masing-masing.


"Aku hanya bercanda." ucap Abel. Mereka sama-sama mengangkat kepalanya.


"Aku tau kok di posisi kalian seperti apa, aku juga tidak akan menyalah kalian berdua ataupun orang di perusahaan." ucap Abel.


Enjel dan Novi langsung memeluk Abel.


"Tapi tetap saja kami merasa bersalah." ucap Enjel.


"Ssttt... Ini adalah Masalah rumah tangga ku, kalian tidak lah salah." ucap Abel.


"Jadi kamu mengundang kita ke sini mau ngapain?" tanya Enjel.


"Aku hanya ingin bertemu Kepa kalian. Aku juga mau minta maaf karena kemarin sempat mengusir kalian dan sekarang aku kesepian dan aku butuh teman." ucap Abel.


"Kalau begitu kami akan menemani kamu sepanjang hari." ucap Novi. "Kalian berdua serius?" tanya Abel. Enjel mengangguk.


Hari sudah sore.. Radit menunggu di depan pintu.


"Abel kemana? kenapa sampai sekarang di belum juga pulang?" tanya Radit.


Mencoba menelpon istri nya namun tidak aktif karena nomor nya sudah di blokir oleh Abel.


Baru saja mau berangkat mencari istri nya namun mobil Abel datang.


Radit lega melihat istrinya sudah pulang.


"Abel, kamu dari mana saja?" tanya Radit.


Tidak beberapa lama Mobil Enjel masuk.


Abel tidak menjawab Radit dia langsung masuk ke dalam. Radit melihat Enjel dan Novi.


"Kalian dari mana?"


"Dari Luar Pak, mbak Abel mau di temanin." ucap Novi.


"Apa dia marah kepada kalian berdua? Saya benar-benar minta maaf karena sudah melibatkan kalian." ucap Radit.


"Enggak kok pak, bapak tidak perlu khawatir." ucap Enjel.


"Lalu kenapa kalian di sini?" tanya Radit.


"Humm Abel meminta kami untuk tidur di sini malam ini pak." ucap Enjel.


Radit menghela nafas panjang. "Sebaiknya kalian pulang saja, saya minta maaf sekali lagi sudah merepotkan kalian." ucap Radit.


Akhirnya mereka memilih pulang, di sana sungguh sangat canggung.


"Novi dan Enjel kenapa pergi?" tanya Abel.

__ADS_1


"Saya meminta mereka pulang dan istirahat, saya tidak enak untuk merepotkan mereka." ucap Radit sambil melihat minuman yang di tangan Abel.


__ADS_2