
"Memesan makanan dari luar? saya tidak mau. Saya mau makanan yang di masak di rumah." ucap Radit.
"Tapi Bibik sedang tidak di rumah." ucap Abel.
"Kamu!" ucap Radit menunjuk Abel. Abel terdiam sejenak.
"Dua hari lagi kamu sudah resmi menjadi istri saya, anggap saja kamu belajar menjadi istri yang baik.." ucap Radit.
Abel terdiam. "Kamu jangan lupa kalau kamu tidak ada menulis di perjanjian itu kalau tidak perlu mengurus suami." ucap Radit.
"Huff aku menulis nya di sana." ucap Abel.
"Tidak ada, kamu hanya menulis tidak melayani suami pada malam hari bukan?" ucap Radit.
Abel menghela nafas panjang.
"Aku harus mengalah agar dia cepat sembuh dan tidak menyusahkan aku." batin Abel.
"Baiklah kalau begitu aku akan memasak. Tapi aku tidak yakin dengan masakan ku karena aku kurang pandai." ucap Abel.
Radit mengangguk. Abel mau pergi namun di tahan oleh Radit.
"Ambil kan pakaian saya terlebih dahulu." ucap Radit.
"Aku belum istri kakak, kalau mandi kakak bisa berarti berjalan ke arah lemari juga bisa." ucap Abel sudah kesal dan langsung pergi.
Radit menghela nafas panjang.
"Huff sungguh perempuan yang keras kepala." ucap Radit.
Di dapur Abel membuka YouTube dan melihat cara memasak.
Tidak beberapa lama Radit turun dia melihat Abel masih sibuk di dapur.
Dia senyum-senyum melihat Abel yang sesekali menjerit karena minyak dan juga menangis karena bawang.
"Aaahh aku menyerah.. aku tidak bisa." ucap nya prustasi karena melihat ikan yang dia goreng gosong karena mengerjakan yang lain.
Mendengar Abel mengeluh Radit berjalan ke dapur dia melihat Abel sudah duduk di lantai dengan penampilan yang sangat berantakan.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Radit kaget karena semua nya berantakan.
Radit melihat kompor masih hidup dia langsung mematikan nya. Dia melihat ikan yang sudah gosong.
"Aku tidak bisa memasak..." ucap Abel dengan sangat sedih.
"Sudah jangan seperti anak kecil duduk di lantai kotor, saya sudah memesan makanan ayo makan di atas meja." ucap Radit.
__ADS_1
Abel menatap wajah Radit.
Dia menunduk kan nya lagi. Dia sangat malu karena dia seorang perempuan namun tidak bisa memasak hal yang sederhana.
Radit menjulurkan tangannya..Abel menggeleng kan kepala nya.
"Bagaimana kalau orang tua kakak memarahi ku karena aku tidak bisa memasak? Mereka akan menyalahkan orang tua ku." ucap Abel.
"Sudah tidak perlu di pikir kan, kamu masih bisa belajar." ucap Radit. Abel menggeleng kan kepala nya.
Radit menghela nafas panjang.
"Saya sudah sangat lapar, menunggu kamu selesai merajuk akan membuat sakit saya semakin parah." ucap Radit.
Abel langsung berdiri dia mulai menata makanan yang baru saja di beli oleh Radit.
"Coba saja dari tadi memesan makanan seperti ini aku tidak akan susah-susah di dapur." ucap Abel.
"Tidak mungkin seterusnya kita membeli makanan di luar seperti ini, kalau orang tua saya tau mereka akan marah, itu sebabnya tidak salah jika belajar mulai dari sekarang." ucap Radit dengan pelan.
"Huff Untung saja kak Radit berbicara dengan baik, coba saja seperti Papah yang selalu marah-marah menyampaikan sesuatu, aku akan kabur." ucap Abel.
"Saya mendengar nya." ucap Radit.. Abel diam langsung.
Tidak beberapa lama akhirnya mereka selesai makan. Abel tengah membersihkan dapur. Selesai dari dapur ke ruangan tengah.
"Baru satu hari di sini aku rasa sudah satu bulan saja, rasa nya sangat-sangat tidak enak dan tidak aku suka." ucap Abel sambil mengeringkan rambutnya di depan cermin kamar Radit.
Dia melihat kotak obat Radit dan juga kotak obat untuk Tangan nya.
"Oh iya aku lupa kalau kak Radit belum makan obat, sekarang jadwal nya dia mengganti perban tangan nya."
Abel selesai dari kamar dia langsung keluar mencari keberadaan Radit.
"Ya Allah kak, bisa-bisa nya sedang sakit seperti ini kakak masih bekerja? Sudah jangan bekerja dulu. Kalau kakak masih sakit aku yang sangat repot." ucap Abel.
Radit Menatap Abel. Dia mencium aroma wangi Abel dan juga melihat wajah segar Abel yang baru saja selesai mandi membuat nya terpesona.
"Apa yang kakak lihat?" ucap Abel.
"Saya hanya memeriksa beberapa laporan kemarin." ucap Radit.
"Besok saja." ucap Abel langsung menutup laptopnya.
Radit hanya diam. "Nih Minum obat nya dulu." udah Abel memberikan obat kepada Radit.
"Saya sudah tidak sakit, kenapa harus minum obat?" tanya Radit.
__ADS_1
Abel menghela nafas panjang sambil menatap Radit.
"Tetap saja kakak harus minum obat sampai sembuh total." Ucap Abel.
Terpaksa Radit harus minum obat.
"Sini tangan kakak." Abel menarik tangan Radit dia membuka balutan nya.
"Apa kakak tidak ingin memeriksa tangan kakak ke dokter? Sudah berbulan-bulan namun belum juga sembuh, aku curiga kalau ini akan cacat total." ucap Abel.
"Seperti nya kamu sangat ingin memiliki suami yang cacat." ucap Radit. Abel menghela nafas panjang.
"Bisa gak sih jangan membuat aku kesal? aku berbicara dengan serius." ucap Abel.
Radit sangat gemas melihat wajah kesal Abel.
"Saya sudah bertemu dengan dokter beberapa Minggu yang lalu dia bilang tangan saya akan segera sembuh." ucap Radit.
"Dokter nya pasti berbohong, tidak ada kemajuan sama sekali." ucap Abel.
"Sudah tidak apa-apa, saya juga tidak bisa melakukan apapun." ucap Radit.
"Aku tidak ingin memiliki suami yang cacat." ucap Abel. "Tapi kamu tidak bisa memungkiri kalau kamu akan memiliki suami yang cacat sementara." ucap Radit..
Abel terdiam sejenak. Dia seperti memikirkan sesuatu dan memasang wajah sedih.
"Saya tau kamu pasti malu kan? kalau begitu saya akan memastikan tangan saya tidak akan di perban di saat acara pernikahan nanti." ucap Radit.
Abel diam saja dia mengoleskan obat.
"Apa kakak tidak bisa menggerakkan nya?" tanya Abel. Radit menggeleng kan kepala nya.
Abel memaksa namun tetap saja tidak bisa.
Tiba-tiba saja Abel merasa sedih karena merasa bersalah.
"Seandainya saja pada hari itu aku hati-hati aku pasti tidak akan membuat tangan kakak seperti ini." ucap Abel.
"Hikss... Hikss... kalau Orang tua kakak tau tentang itu, mereka pasti akan sangat marah kepada ku." ucap Abel.
Radit tampa sadar dia mengangkat tangan kanan nya dan menghapus air mata Abel.
Abel kaget karena melihat tangan Radit menghapus air mata nya.
"Kak..." ucap nya kaget sambil menatap tangan Radit. Begitu juga dengan Radit yang kaget tangan nya bisa di angkat walaupun sepenuhnya tidak bisa di gerakkan.
Namun tangan itu berhasil menghapus air mata penyesalan yang tulus dari Abel.
__ADS_1