Perjodohan Sejak Dini

Perjodohan Sejak Dini
Episode 84


__ADS_3

Abel bisa melihat wajah licik Novi yang mau mendekati suami nya.


Tidak beberapa lama kembali lagi. Dan benar saja Novi semakin dekat duduk dengan Radit.


"Sayang apa yang kamu lakukan?" tanya Radit melihat Abel membawa kain Pell dan juga emper perasan.


"Kata Bibik ruangan ini belum di bersihkan, aku akan membersihkan agar lebih nyaman..Kakak lanjut bekerja saja." ucap Abel.


Dia melihat kaki Novi mau menyentuh Radit dia pura-pura membersihkan di bagian sana. Novi sangat kesal namun dia tidak bisa melakukan apapun.


Bisa-bisa dia kena pecat sama seperti yang lain kalau berani mencari masalah dengan istri bos nya itu.


Sudah selesai membersihkan kamar itu, Abel sudah sangat kelelahan.


"Huff kenapa sangat lama sih bekerja nya?" ucap Abel. Dia tidak berhenti akhirnya dia meminta Farel masuk ke ruangan itu.


Radit melihat Farel masuk.


"Papah..." Ucap Farel sambil menarik tangan Radit yang sedang fokus bekerja.


"Ada apa sayang?" tanya Radit.


"Non Abel mana sih Pak? Kenapa Dia tidak menjaga anak ini? Kalau seperti ini kita akan lama menyelesaikan nya." ucap Novi.


Radit sedikit tidak enak hati karena Farel.


"Sama Mamah dulu yah Farel." ucap Radit.


"Farel kamu ngapain ke sini sayang? Ayo keluar." ucap Abel.


"Maaf yah kak." ucap Abel langsung membawa Farel keluar dari ruangan itu.


"Huff tidak ada gunanya, seperti nya kak Radit lebih senang bersama Novi." ucap Abel.


"Non ini buah nya." ucap Bibik karena Abel sebelum nya meminta buah.


"Kasih sama Farel saja bik, aku mau ke kamar." ucap Abel langsung pergi.


Bibik Heran. Namun melihat Farel mengacak-acak buah membuat nya Langsung merespon Farel.


"Bikk..." Radit sudah keluar dari ruangan itu bersama Novi.


"Iyah Tuan."


"Abel mana?" tanya Radit.


"Non Abel di kamar Tuan. Apa mau saya panggil kan?" tanya Bibik.


"Gak usah bik, seperti nya dia mau istirahat." ucap Radit.


"Oh iya Novi kamu bisa langsung ke kantor hari ini." ucap Radit. "Tapi pak."


"Oh iya jangan lupa kasih laporan kepada saya." ucap Radit. Novi mengangguk.

__ADS_1


Radit mengantarkan ke depan.


"Pak saya boleh menanyakan sesuatu?" tanya Novi.


"Iyah boleh tanyakan saja." ucap Radit.


"Apa besok bapak ada waktu untuk makan malam bersama keluarga saya?" tanya Novi.


Radit terdiam sejenak. "Ada acara apa?" tanya Radit.


"Papah ulang tahun." ucap Novi.


"Oohh, saya lupa. Tentu bisa dong." ucap Radit.


Novi tersenyum dia terlihat sangat senang sekali.


"Terimakasih banyak yah pak, keluarga saya pasti sangat senang mengetahui bapak datang." ucap Novi.


Radit tersenyum. "Ya sudah kalau begitu kamu berangkat lah." ucap Radit.


"Ya ampun pak Radit semakin ke sini semakin dingin saja, dia juga sangat cuek kepada ku tidak seperti dulu." batin Novi.


"Sudah lama tidak bermain ke sini, baru beberapa jam saja sudah berulang kali di suruh pergi." ucap Novi dalam hati.


Novi dengan sangat berat hati akhirnya pergi.. Setelah Novi pergi Radit cepat-cepat langsung masuk ke dalam.


"Tuan tidak mau buah?" tanya Bibik. "Tolong kupas kan dan bawa ke atas yah bik." ucap Radit.


Melihat Farel asik main dia tidak mengganggu nya.


"Kok Abel mengunci pintu sih?" batin Radit. Dia mengetuk berulang kali namun tidak ada jawaban dari dalam.


"Non Abel pasti sangat cemburu melihat Tuan bersama non Novi." ucap Bibik.


"sudah ku duga." batin Radit.


"Ya sudah bik biarkan saja, dari pada dia marah-marah." ucap Radit.


Bibik mengangguk.


Sudah sore Abel baru saja keluar dari kamar nya dia melihat Radit, Farel dan Bibik duduk di ruang tamu.


"Kalau kamu mau turun, turun saja." ucap Radit. Abel langsung bersembunyi. Radit sadar kalau istri nya melihat dari atas.


Bibik tersenyum melihat Abel.


Sudah malam Radit baru saja menidurkan Farel.


Dia melihat ke arah Abel yang bermain handphone. "Sayang... Mau sampai kapan kamu akan diam seperti ini?" tanya Radit.


"Tidak perlu perduli kan aku, Perduli kan saja pekerjaan kakak itu!" ucap Abel. Radit menghela nafas panjang.


"Kamu marah karena Saya bekerja atau karena cemburu terhadap Novi?" tanya Radit.

__ADS_1


"Enggak! siapa yang cemburu? Aku juga tidak Marah." ucap Abel.. Radit mendekati Abel. "Kamu yakin tidak marah?" tanya Radit.


"Iyah." ucap Abel. Radit tersenyum dia mencium pipi Abel namun Abel menolaknya.


"Jangan Mencium ku!"


"Kalau kamu tidak marah, kamu pasti mengijinkan saya mencium kamu." ucap Radit.


"Aku tidak mau!" ucap Abel. "Ngaku saja kalau kamu cemburu kan?". Abel menggeleng kan kepala nya.


"Kamu berusaha melakukan banyak hal agar saya dengan Novi tidak bisa fokus bekerja bukan?" ucap Radit.


Abel diam. "Kalau kamu cemburu ngomong saja." ucap Radit.


"Iyah aku cemburu! aku cemburu sama kedekatan kakak dengan sekretaris kakak itu." ucap Abel.


"Aku tau Kalau Novi suka sama kakak." ucap Abel.


"Tidak mungkin Novi suka sama saya, kita sudah bekerjasama bertahun-tahun. Dan di kantor sudah ada peraturan tidak boleh membawa perasaan." ucap Radit.


"Tetap saja aku cemburu, semua orang bilang kalau kalian sangat Cocok." ucap Abel.


"Baiklah saya minta maaf." ucap Radit.


"Tidak cukup dengan kata Maaf." ucap Abel.


"Apa yang harus saya lakukan agar kamu tidak marah?" tanya Radit.


"Bagaimana kalau kakak tukar sekretaris saja?" tanya Abel. Radit diam.


"Aku yakin kakak tidak mau, aku tau kalau kakak juga pasti sudah nyaman dengan sekretaris Novi." ucap Abel.


"Bukan seperti itu Abel.. mengganti sekertaris itu tidak lah mudah." ucap Radit.


"Kenapa? apa susah nya?" tanya Abel.


"Aku tidak suka kedekatan kalian. Pokoknya aku cemburu." ucap Abel.


"Kamu boleh saja cemburu. Cemburu adalah hal yang wajar.. Tapi jangan sampai kamu berfikir seperti itu." ucap Radit.


"Ya sudah kalau begitu, tidak perlu berbicara dengan ku." ucap Abel. Radit menghela nafas panjang. Dia tidak tau harus melakukan apa menghadapi istri nya itu.


Dari pada mereka berdua ribut, Radit memilih tidur saja.. Melihat Radit mengabaikan dia, Abel tambah kesal.


Kedua nya berusaha untuk tidur, Abel tidak bisa tidur karena kefikiran, sementara Radit tidak bisa tidur karena tidak memeluk istrinya.


Mau memeluk nya namun takut istri nya menolak.


Setelah beberapa menit akhir nya Radit memberanikan diri untuk memeluk Istrinya.


Abel awal nya menolak namun Radit memaksa Abel.


"Saya minta maaf kalau membuat kamu kesal, lupakan hal itu, saya hanya mencintai kamu." ucap Radit sambil mencium kepala Abel.

__ADS_1


Tidak beberapa lama akhirnya Abel tenang dia sudah luluh lagi.


__ADS_2