
"Kok marah sih? aku kan hanya berbicara seperti itu." ucap Abel. Novi menghela nafas panjang.
"Ingat yah, hubungan kamu dengan pak direktur tidak akan lama, kita lihat saja." ucap Novi.
Abel tertawa kecil. "Kamu masih mengharapkan suami saya?" tanya Abel.
"Ada apa ini?" tiba-tiba Radit datang. "Tidak ada Pak, ibu meminta bantuan saya." ucap Novi.
"Sayang kamu kenapa jalan jauh-jauh ke sini?" tanya Radit mengelus rambut Abel.
"Abis nya aku tidak tau mau ngapain di lobby." ucap Abel. "Ya sudah kalau begitu kita keruangan saya yah. Kamu harus istirahat banyak agar janin kamu tidak kenapa-kenapa." ucap Radit.
Abel tersenyum dia mengikuti Radit dia menatap wajah Novi yang sudah memerah menahan api cemburu.
"Abel hamil anak nya Pak direktur?" ucap Novi kaget.
"Ini tidak mungkin, bagaimana bisa? Tidak mungkin pak direktur mau menyentuh perempuan itu." ucap Novi.
Dia tau kalau hubungan Abel dengan Radit sangat buruk.
Di dalam ruangan Radit dia bekerja. Abel duduk di sofa membaca majalah, sambil memerhatikan Farel yang bermain di sana.
Radit sesekali melihat ke arah istri dan juga keponakan nya. Dia melihat Abel ngantuk sambil terus membaca majalah.
Dan tidak beberapa lama Abel ketiduran di sofa. Radit menghela nafas panjang. "Sudah di bilang tinggal saja di rumah namun sangat keras kepala." ucap Radit.
Dia membuka jas nya memberikan selimut kepada istri nya.
Dia membiarkan Farel main sendiri. Tiba-tiba Novi datang.
"Pak...."."Ssttt.. Jangan berisik." ucap Radit. Novi melihat ke arah Sofa dan ternyata Abel tidur.
"Ck bisa-bisa nya dia datang ke sini seperti nyonya sesungguhnya dia malah tidur di ruangan kerja pak direktur." ucap Novi dalam hati.
Novi duduk namun tiba-tiba Farel berjalan ke arah nya dan memegang paha nya.
"Apa-apaan ini!" ucap Novi kaget karena tangan Farel penuh dengan bekas buah naga yang baru saja dia makan.
Rok Novi sudah kotor. "Farel..." ucap Radit langsung mengambil Farel karena Farel seperti nya kaget dengan suara Novi.
"Maaf-maaf. Dia tidak tau apa-apa." ucap Radit. Novi terlihat sangat jengkel. Dia tidak berani karena ada bos nya.
"Tidak apa-apa pak, nama nya juga anak kecil, saya hanya kaget saja." ucap Novi. Farel tersenyum.
__ADS_1
"Ya udah kalau begitu kamu bisa keluar." ucap Radit. Novi pun keluar dari sana.
"Nyebelin banget sih! Ngeselin deh!" ucap Novi sambil berjalan ke kamar mandi, namun tidak sengaja berpapasan dengan teman nya.
"Kamu kenapa?" tanya teman nya.
"Ini loh keponakan Pak Radit membuat rok ku kotor." ucap Novi.
"Mana aku nanti ada janji di luar, ngeselin banget sih mereka. Ngapain datang ke kantor?!" ucap Novi.
"Wajar lah mereka datang, kamu gimana sih, sudah jelas mereka itu adalah keluarga pak direktur.". ucap Teman nya.
"Sudah-sudah jangan mengatakan itu lagi, aku tidak mau mendengar nya." ucap Novi.
Radit baru saja membersihkan tangan Farel. "Kok Farel nakal sih nak? Papah gak suka yah kalau Farel seperti ini!" ucap Radit.
Farel hanya diam saja. Radit melihat Abel masih tidur.
"Ya udah kalau begitu kamu pergi main gih, Papah mau lanjut kerja." ucap Radit.
tidak terasa hari semakin siang.. Abel bangun karena perut nya terasa lapar.
"Kamu sudah bangun?" tanya Radit. Abel membuka mata nya dia kaget di depan wajahnya sudah ada Radit yang memerhatikan nya tidur.
"Waktu nya makan siang. Apa kamu tidak lapar?" tanya Radit. Abel memegang perut nya.
"Iyah aku lapar tapi aku mau makan cumi-cumi." ucap Abel. "Ya udah kita ke restoran di bawah saja." ucap Radit.
Abel tersenyum sambil mengangguk.
"Farel mana kak?"
"Dia sudah di bawa Enjel ke bawah untuk makan siang." ucap Radit.
"Aku ketiduran sangat lama, kakak gak keganggu kan karena Farel?" tanya Abel.
Radit menggeleng kan kepala nya. "Hanya saja Farel membuat pakaian Novi kotor. Kamu memberi nya buah naga." ucap Radit.
Abel tertawa kecil. "Kenapa kamu tertawa? Lain kali jangan berikan makan yang membuat Farel kotor kalau di luar." ucap Radit.
"Iyah-iyah." ucap Abel. Namun tiba-tiba Abel mencium bau yang aneh dia mencium ke arah Radit. "Kakak kok bau sih?" tanya Abel.
"Bau? saya dari tadi tidak berkeringat." ucap Radit. Dia mencium badan nya namun tidak merasa bau sama sekali.
__ADS_1
"Tidak bau kok." Abel mengeluarkan parfum dari tas nya dan menyemprotkan ke badan suami nya. "Nah gini kan wangi." ucap Abel.
"Tapi ini bau perempuan sayang." ucap Radit.
"Gak apa-apa, biar sekalian tidak ada perempuan yang mau dekat-dekat kakak." ucap Abel dengan wajah judes nya.
"Baiklah kalau begitu ayo kita keluar. Enjel dan Heri pasti sudah nungguin."
Sementara di bawah Enjel sedang asik melihat Heri bermain-main dengan Farel.
"Kamu terpesona sama aku yah?" tanya Heri. Sekarang senyuman Enjel hilang.
"Aku tidak terpesona melihat kamu, pede banget, aku hanya tersenyum melihat Farel." ucap Enjel.
"Kamu sangat pandai berbohong." ucap Heri. Tidak beberapa lama Abel dan Radit turun.
"Apa sih yang kalian ribut kan?" tanya Abel. "Enjel selalu saja kesal kepada ku." ucap Heri. Enjel langsung menatap tajam.
"Sudah-sudah jangan ribut, ayo kita cari makanan."
"Berhubung istri saya lagi ngidam.. Kali ini kita akan ke restoran Cumi-cumi." ucap Radit.
Enjel dan Abel sangat senang karena itu kesukaan mereka.
Heri Menatap Radit, begitu juga dengan Radit Menatap Heri.
"Loe tenang saja, di sana banyak menu lain kok." ucap Radit. "Humm semoga saja." ucap Heri.. Mereka berdua kurang suka bukan berarti tidak makan.
Setelah sampai Mereka makan, Farel sudah bisa makan sendiri sehingga tidak menyusahkan lagi, yah walaupun sebenarnya sangat berantakan.
"Loh kakak tidak makan ini?" tanya Abel karena setau nya Radit hanya tidak bisa makan udang sama kacang saja."
"Makan kok." ucap Radit langsung memasukkan ke dalam mulut nya. Begitu juga dengan Enjel Menatap Heri.
Dengan cepat Heri memasuk kan makanan ke dalam mulut nya.
"Aku juga makan kok, hanya saja kurang suka." ucap Heri.
"Huff ini adalah makanan salah satu favorit." ucap Enjel. "Aku juga akan membiasakan diri untuk memakan ini." ucap Heri.
Mereka berdua benar-benar harus mengikuti apa kemauan dua perempuan yang di depan nya sementara Farel Sibuk dengan paha ayam di tangan nya.
Tidak beberapa lama akhirnya selesai, Heri berlari ke kamar mandi.
__ADS_1
"Sialan si Enjel! Dia sudah jelas tau aku tidak suka makanan seperti ini, namun tetap saja dia memaksa ku." ucap Heri.