
Dia membawa nya langsung ke kamar. Enjel terdiam dia berdiri sampai lupa mematikan setrika tampa sadar kemeja Heri sudah bolong..."Aaa!!" dia berteriak karena panik.
Heri mendengar itu dia melihat setrika sudah berasap dia langsung mematikan nya.
Dia melihat baju nya sudah bolong.
"Aku minta maaf." ucap Enjel. Heri menatap wajah Enjel.
"Kamu tau gak baju ini adalah pemberian mantan ku. Dan baju ini sangat mahal sekali. Kamu kalau tidak bisa menyeterika jangan menyetrika pakaian ku." ucap Heri terlihat sangat kesal.
Enjel kaget karena itu pertama kalinya Heri marah, Heri kesal, pertama kali dia menatap Enjel dengan tatapan tajam sampai Enjel kaget dan takut.
Dia jadi gugup dan sedih. Heri masuk ke dalam kamar nya. Enjel menghela nafas panjang.
"Ada apa sih dengan ku? Ada apa dengan ku? Kenapa aku tidak terima melihat Heri bersama mbak Jesica." ucap Enjel.
Sementara Abel di rumah orang tua nya dia tidur bersama adik nya Mila.
"Kakak baik-baik saja kan?" tanya Mila kepada Abel yang melamun di atas tempat tidur.
"Humm baik-baik saja, ada apa?"
"Dari tadi kakak kebanyakan diam, aku jadi curiga kalau kakak benar-benar marahan kan sama kak Radit?" ucap Mila. Abel menggeleng kan kepala nya.
"Enggak kok, kakak seperti ini karena Tidak terbiasa saja, dan sekarang kak Radit tidak memberikan kabar, kakak jadi khawatir." ucap Abel.
Mila menghela nafas panjang. "Kakak yakin baik-baik saja?" tanya Mila.
Kakak nya mengangguk.
"Ya sudah kalau begitu kakak istirahat saja." ucap Mila. Mereka pun tidur bersama.
Bibik hanya mengantar kan Abel ke sana dan setelah itu dia pulang ke rumah bos nya.
Di pagi hari nya Enjel bangun lebih awal untuk masak pagi. Semua nya selesai dia langsung siap-siap mau ke kantor.
Sudah selesai dia duduk di meja makan menunggu Heri seperti biasa namun setelah Heri keluar dari kamar nya membuat Enjel heran.
"Kamu mau membawa kemana koper itu?" tanya Enjel. Heri melihat Enjel di meja makan.
__ADS_1
"Aku sudah menemukan tempat penginapan yang tidak jauh dari perusahaan dan tidak jauh untuk pergi bekerja." ucap Heri.
Enjel terdiam sejenak. "Aku tidak mau menyusahkan kamu lebih lama di sini, kamu juga pasti sangat risih aku di sini" ucap Heri.
"Lalu bagaimana kalau pak Radit bertanya?" tanya Enjel.
"Aku akan menjelaskan nya. "Kerja sama kita masih sangat lama, aku harap Hubungan baik kita jangan hancur hanya karena aku menginap di sini." ucap Heri.
Heri mengeluarkan uang dari dompet nya dan meletakkan di depan Enjel.
"Aku harap ini cukup untuk membayar biaya sewa ku selama di sini." ucap Heri.
"Aku tidak butuh uang kamu! Kamu berbuat sesuka hati kamu saja tampa memikirkan aku!" ucap Enjel marah.
"Aku minta maaf kalau membuat kamu marah." ucap Heri.
"Aku tidak butuh maaf kamu." ucap Enjel.. Heri menghela nafas panjang. "Aku pamit yah, sampai jumpa di kantor." ucap Heri.
Tiba-tiba Enjel Menahan koper Heri. "Aku tidak mengusir Kamu dari apartemen ku." ucap Enjel. Heri menatap wajah Enjel.
"Aku tidak memaksa kamu untuk pergi dari sini, namun kenapa sekarang kamu pindah?" tanya Enjel.
"Kamu tidak boleh pergi." ucap Enjel menahan Heri. Heri menarik kopernya dengan kasar dan keluar dari sana tampa mendengar larangan Enjel.
"Lepaskan." ucap Heri.
"Kalau kamu pergi jangan berharap kamu bisa kembali ke sini lagi." ucap Enjel. Heri berhenti sejenak namun di melanjutkan langkah nya lagi.
Enjel melihat Heri pergi. Enjel terlihat sangat sedih sekali melihat Heri pergi.
Di kantor Enjel sampai namun dia melihat Heri sudah bersama Jesica.
"Enjel kamu bisa periksa ini kan?" tanya Jesica kepada Enjel sambil memberikan satu lembar formulir.
Enjel mengangguk.
"Jesica apa kamu sudah memberikan laporan nya kepada Enjel?" tanya Heri. Tampa sadar ternyata ada Enjel di sana.
"Udah kok "
__ADS_1
"Oohh ya udah kalau begitu ayo." ajak Heri. Tidak ada yang tau mereka mau kemana.
"Wah.. Wah.. ada yang lagi cemburu nih." Tiba-tiba Novi datang melihat Enjel terdiam. "Huff maka nya selagi orang itu menyukai kita jangan di paksa untuk pergi. Karena kalau sudah pergi ujung-ujungnya pasti penyesalan." ucap Novi.
"Mbak jangan sok tau yah! Aku tidak ada hubungan apapun dengan pak Heri!" ucap Enjel.
"Oh ya? Aku tidak percaya. Kamu pasti memiliki rasa kepada pak Heri sehingga kamu sangat cemburu melihat pak Heri sekarang sudah bersama dengan Jesica." ucap Novi.
"Jangan ikut campur urusan orang lain deh mbak, urus saja diri mbak sendiri yang mau menjadi pelakor!" ucap Enjel dan pergi.
"Ck dasar tu anak benar-benar tidak ada sopan santun. Sama atasan sendiri berbicara seperti itu.
Di siang hari nya Enjel makan di ruangan nya karena membawa bekal. Dia masak yang banyak sehingga bisa membawa Bekal.
"Tumben-tumbenan kamu bawa Bekal." ucap Novi.
Enjel menoleh ke arah Novi.
"Berhenti mengurusi kehidupan ku." ucap Enjel. Novi tersenyum dia duduk di samping Enjel.
"Kamu sadar gak sih kamu itu sangat egois sekali." ucap Novi.
"Maksudnya?"
"Kamu mengatakan hal buruk tentang ku, mengatai aku dengan kata-kata yang tidak enak di dengar aku tidak begitu marah. Aku tidak mengambil hati kata-kata dan ejekan kamu. Sementara aku baru saja berbicara kamu sudah langsung marah." ucap Novi.
Enjel terdiam. "Dan lagi aku tau bagaimana Heri sangat menyukai kamu, bagaimana dia ingin mendapatkan kamu, namun kamu tau kan setiap manusia memiliki batas sabar. Dan mungkin sekarang Heri sudah tidak sabar dan akhirnya memilih untuk melepaskan kamu." ucap Novi.
"Aku tidak pernah berfikir seperti itu, aku tidak perduli dia dengan siapapun karena aku tidak menyukai dia."
"Jangan membohongi perasaan kamu sendiri. Jangan sampai kamu telat dan semua nya hangus. Kamu akan menjadi seperti itu hanya penonton yang tidak berani mengutarakan perasaan dan pada akhirnya sendiri memendam semua nya." ucap Novi.
Novi berdiri. "Aku pergi dulu." ucap Novi.
Enjel menghela nafas panjang dia tidak berselera melanjutkan makan. Dia bersandar ke kursi nya dan menutup mata nya.
"Apa iya aku sudah menyukai Heri? Itu tidak lah mungkin. Aku tidak akan menyukai pria mana pun kalau mereka tidak pernah serius dan tidak pernah cukup dengan satu perempuan." batin Enjel.
"Tapi aku benar-benar tidak bisa melihat Heri bersama Jesica, aku selalu berfikir yang tidak-tidak dan cemas berlebihan." ucap Enjel.
__ADS_1