Perjodohan Sejak Dini

Perjodohan Sejak Dini
Episode 75


__ADS_3

Abel terkejut, dia melihat anak laki-laki yang sedang tidur di troli nya.


"Kamu gak keberatan kan Abel?" tanya Tante nya Radit. Abel menoleh ke arah Radit. Sebenarnya Abel ingin menolak namun dia tidak enak hati sehingga menyerahkan Radit untuk menjawab Tante nya.


"Kenapa Tante dan Om tidak membayar pengasuh?" tanya Radit.


"Bukan tidak mau Radit, namun Tante dan Om sangat trauma kepada pengasuh. Terkadang mereka sangat kejam." ucap Tante nya.


Radit menghela nafas panjang.


"Hanya beberapa Minggu saja sampai pekerjaan Om kamu di luar provinsi selesai dan juga masa-masa ngidam Tante kamu selesai." ucap Tante nya lagi.


Radit menghela nafas panjang. Tante dan om nya memohon. Radit menoleh ke arah Abel.


Sebenarnya dia tidak mempermasalahkan nya karena itu saudara nya juga.


Namun dengan Abel bagaimana? Tidak mungkin dia memaksa Abel.


Abel melihat Radit Menatap nya. Dia berpura-pura tidak tau dan tidak open namun Om dan Tante Radit terus memohon.


"Apa tidak ada cara lain Tante? Kenapa tidak menitipkan nya kepada Kakek atau nenek nya saja?" tanya Radit lagi.


"Mereka sudah tua."


"Farel masih sangat kecil Tante, kamu tidak yakin bisa merawat nya walaupun hanya beberapa Minggu." ucap Radit.


"Tante sama Om yakin kalau kalian bisa, Abel juga sudah tidak bekerja jadi dia memiliki teman." ucap Tante nya.


Mereka berdua tidak bisa menolak, apapun Alasannya Tante dan Om nya memiliki jawaban.


Bahkan Tante dan Om nya menelpon Pak Malvin.


pak Malvin meminta Radit membantu Om nya.


"Baiklah-baiklah Farel boleh di sini. Tapi kalian harus sering datang mengunjungi nya." ucap Radit.


Abel menghela nafas panjang mendengar keputusan Radit.


"Terimakasih banyak Radit, Abel. Om sama Tante sangat berterimakasih. Kalau begitu kamu permisi dulu yah, sebelum Farel bangun." ucap Tante nya.


Mereka mencium pipi Farel, mereka berdua terlihat sangat sedih membuat Abel bingung.


"Tidak ada orang tua yang ingin berpisah dengan anak nya, namun kenapa mereka melakukan ini." batin Abel.


"Ini barang-barang farel semua nya sudah di sini, Tante dan Om Tante titip farel yah." ucap mereka pada Abel.

__ADS_1


Abel terpaksa tersenyum dan mengangguk.


Akhirnya mereka pergi Abel langsung menutup pintu dan mendatangi Radit ke ruang tamu.


"Apa-apaan ini kak!? Kenapa kakak langsung menerima Tampa membicarakan nya?" tanya Abel.


"Papah sama mamah sudah menyuruh kita Abel, kamu bisa menolak nya?" ucap Radit.


Abel menghela nafas panjang. "Aku tidak bisa menjaga anak bayi, apa lagi laki-laki pasti akan sangat nakal." ucap Abel.


"Kamu yang harus menjaga nya, siapa lagi?" ucap Radit.


"Aarrhhh!!! Aku sangat benci hal ini. Aku tidak ingin memiliki anak yah karena ini, aku tidak bebas sama sekali." ucap Abel.


Radit menghela nafas panjang. "Yang di katakan oleh mereka benar-benar, itung-itung kamu belajar merawat bayi. Jadi kalau kita memiliki anak kamu tidak kewalahan lagi." ucap Radit.


Abel menghela nafas panjang. "Bagaimana mau punya anak, percuma saja kalau tidak pernah melakukan itu." ucap Abel dalam hati.


"Kamu mau kemana?" tanya Radit.


"Ke kamar." ucap Abel.


"Bawa Barang-barang Farel, saya akan membawa Farel ke kamar." ucap Radit.


"Bawa saja sendiri." ucap Abel.


Membawa ke kamar dan meletakkan nya di sana. Abel Menata barang-barang Farel di atas meja, dia memerhatikan Radit yang memandangi Farel sambil senyum-senyum.


"Kalau Farel di sini, kak Radit pasti tidak menginginkan mempunyai anak dari aku, sampai kapan pun kamu akan seperti ini terus." ucap Abel dalam hati.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Radit berdiri di belakang Abel. Abel berbalik namun Radit menahan pinggang Abel.


"Senyum dong. Jangan cemberut seperti ini." ucap Radit. "Aku sedang bete kak, jangan mengganggu ku.' ucap Abel.


Radit tersenyum dia mengelus rambut Abel mencium pipi Abel. Abel yang di perlakukan seperti itu langsung Luluh dia menghela nafas panjang.


"Farel termasuk sebagai keponakan saya juga. Itu keponakan kamu, tidak ada salah nya dia di sini menemani kamu di saat saya bekerja." ucap Radit.


"Saya tau keluarga saya hanya menguji kita saja. Mereka sengaja memberikan Farel agar kita segera memiliki anak." ucap Radit.


Abel terdiam sejenak mendengar kata-kata Radit.


"Saya tidak akan memaksa kamu untuk memberikan saya anak, saya akan menunggu sampai kamu benar-benar siap." ucap Radit.


"Aku..." Tiba-tiba handphone Radit berbunyi dari Orang tua nya.

__ADS_1


"Bentar yah." kata-kata Abel jadi terpotong.


"Iyah halo mah." Radit menelpon keluar agar tidak ribut di kamar itu.


Abel melihat Farel mulai bergeliat. Dia mendekati nya berusaha menenangkan nya namun Farel sudah bangun. Seperti nya dia terkejut melihat orang asing di depan nya sehingga dia menangis.


Abel panik dia menghibur nya namun Farel terus menangis. Radit masuk.


"Kenapa bisa menangis?" tanya Radit.


"Aku tidak tau kak, dia tiba-tiba menangis." ucap Abel.


Radit menggendong nya dan Farel langsung diam.


"Apa perlu susu? Aku akan membuat kan nya." ucap Abel.


Abel membuat nya agar Farel lebih tenang namun Farel tidak mau.


"Mau dia apa kak? Kenapa sangat ribet sih?" ucap Abel.


"Mungkin dia masih kaget karena di sini bersama kita." ucap Radit.


"Orang tua Farel sangat tega meninggalkan nya di sini." ucap Abel. Abel tidak berhenti mengoceh.


Radit mengerti dengan Abel sehingga dia hanya diam saja.


Di malam hari nya Abel menyuapi Farel makan namun dia sangat susah di kasih makan. Radit menghela nafas panjang. Dia makan di depan Abel yang menyuapi Farel.


"Kamu harus menyuapi nya dengan lembut Abel. Dia jadi takut melihat kamu." ucap Radit.


"Aku tidak tau kak, aku tidak ingin memiliki anak seperti ini." ucap Abel langsung pergi. Radit menghela nafas panjang.


Abel terlihat sangat kesal, dia sudah lelah memasak namun Farel tidak mau makan.


Radit melarang Bibik membantu Abel agar dia tau tugas nya.


Farel baru saja selesai mandi dengan Radit.


"Apa kamu bisa membantu saya memasang kan baju Farel?" tanya Radit.


Abel yang sedang main handphone di kasur menoleh ke arah Radit yang sedang menggendong Farel di depan pintu kamar mandi.


Abel menggeleng kan kepala nya. "Aku tidak bisa, aku mau istirahat aku ngantuk." ucap Abel.


Radit tidak bisa mengatakan apapun akhirnya dia memasang baju Farel dan. setelah itu dia memakai baju.

__ADS_1


Waktu nya untuk tidur. Abel lagi-lagi kesal karena Farel tak kunjung tidur dia malah menangis mencari mamah nya.


__ADS_2