
"Sama saja! Aku menjaga anak ku dengan baik, aku memberikan nya dengan baik, namun kenapa dia harus mengalami hal seperti ini."
Karena sangat tegang akhirnya mamah Abel membawa suami nya keluar agar tidak terlalu ribut mengganggu kenyamanan pasien lain karena Abel masih di periksa oleh dokter.
Setelah beberapa lama akhirnya dokter keluar.
"Bagaimana keadaan istri saya dokter?" tanya Radit.
"Pasien hanya kurang istirahat, syok dan juga tidak makan. Dan seperti nya beliau memiliki sakit yang saya tidak bisa lihat membuat pasien pingsan." ucap dokter.
Radit terdiam. "Kalau begitu saya permisi dulu." ucap dokter.
"Baik dokter, terimakasih banyak." ucap Radit dan langsung masuk ke dalam melihat keadaan Abel.
Abel belum sadar. "Sebaiknya kamu jangan di sini dulu nak, Mamah takut melihat kamu Abel jadi semakin syok." ucap mamah nya.
"Tapi mah."
"Percaya sama mamah." ucap Mamah nya.
"Biar kami saja yang menunggu Putri kami di sini." ucap orang tua Abel.
Mereka tidak bisa mengatakan apapun akhirnya mereka keluar dari ruangan Abel.
"Hari ini pak Radit kenapa tidak ke kantor yah?" ucap Novi khawatir karena jadwal hari ini sangat padat sekali."
"Mungkin Sedang ada urusan lain, sudah lah sebaiknya aku menangani sendiri." ucap Novi, namun sebelum nya dia harus menghubungi Radit terlebih dahulu untuk mengkonfirmasi.
Radit sedang duduk bersama kedua orang tua nya di luar rumah sakit.
mereka diam semua sibuk dengan pikiran masing-masing.
Tiba-tiba handphone Radit berdering dia melihat dari sekretaris nya.
"Ada apa Novi menghubungi ku?" ucap nya.
"Jawab saja, mungkin ada yang penting." ucap mamah nya. Radit sebenernya tidak mood untuk menjawab telpon dari Novi.
"Halo.."
"Selamat siang Pak." ucap Novi.
"Iyah, ada apa?" tanya Radit.
"Bapak ada di mana? bapak tidak ingat hari ini ada janji." tanya Novi.
"Ya saya ingat, namun saya tidak bisa ke kantor. Saya minta kamu yang mengurus semua nya." ucap Radit.
"Tapi Pak.."
"Saya percaya kepada kamu. Saya sedang di rumah sakit." ucap Radit.
__ADS_1
"Rumah sakit? Bapak sakit?" tanya Novi langsung khawatir.
"Bukan saya namun Abel." ucap Radit.
"Mbak Abel? Ada apa dengan mbak Abel?" tanya Novi.
"Kamu tidak perlu khawatir, Abel hanya sakit biasa." ucap Radit.
"Kalau begitu saya akhiri dulu," ucap Radit dan langsung mematikan sambungan telepon.
"Kalau sakit biasa tidak mungkin sampai ke rumah sakit dan pak Radit tidak datang ke kampus. Ini pasti ada masalah lain.. Tidak biasa nya pak Radit mengabaikan pekerjaan yang sangat penting seperti ini." ucap Tania.
"Novi kenapa kamu berbicara sendiri? Apa kamu sudah mengurus untuk pertemuan kita?" tanya Enjel.
"Sudah kok."
"Pak Radit mana?"
"Hari ini pak Radit tidak datang, jadi aku yang akan menggantikan nya." ucap Novi.
"Oohh, untung saja pertemuan kali ini tidak memaksa pak Radit untuk hadir.. Kalau boleh tau pak Radit kemana?" tanya Enjel.
"Pak Radit di rumah sakit, kata nya Abel masuk rumah sakit."
"Hah! Kok bisa? Sakit apa?" tanya Enjel.
"Pak Radit bilang hanya sakit biasa." ucap Novi.
"Sama Enjel, aku juga kefikiran." ucap Novi.
"Sebaik nya setelah pulang nanti kita datang ke rumah sakit melihat Abel." ucap Enjel.
Novi mengangguk. Mereka berdua pun keluar semua mata tertuju kepada mereka berdua yang baru saja keluar dari ruangan Radit.
"Aku sangat cemburu kepada mereka berdua yang menjadi tangan kanan pak Radit." ucap Staf lain nya.
"Iyah, aku yakin sebentar lagi Enjel akan naik jabatan." ucap Mereka lagi.
"Di posisi mereka itu ada enak ada enggak nya, sesuai seperti dengan pekerjaan mereka." ucap Rio.
"Maksud kamu?"
"Apa kalian pernah melihat mereka libur atau berlengah-lengah sama seperti karyawan lain nya?" tanya Rio.
"Tidak pernah, mereka selalu bekerja bahkan di hari libur." ucap Mereka lagi.
"Nah itu dia, menjadi orang penting di sebuah kerjaan itu tidak lah enak karena susah untuk istirahat, hidup nya hanya khusus bekerja." ucap Rio.
"Humm tapi tetap saja aku ingin sekali seperti mereka, sudah cantik, pintar dan terpercaya."
Di rumah sakit Abel baru saja bangun dia melihat kedua orang tua nya yang sangat khawatir. Namun setelah dia bangun membuka mata nya orang tua nya tersenyum.
__ADS_1
"Kamu mau minum dulu? Apa kamu masih pusing atau dada kamu masih sakit?" tanya mamah nya.
Abel menggeleng kan kepala nya. "Enggak kok mah." dia berusaha untuk biasa saja namun kenyataannya masih sangat sakit.
"Kamu tenang kan diri dulu yah nak, jangan memikirkan hal yang aneh-aneh." ucap mamah nya..Abel mengangguk. Dokter datang memeriksa Abel.
"Dok saya sudah bisa pulang kan?" tanya Abel.
"Untuk beberapa hari harus dii sini dulu yah Bu, keadaan janin ibu saat ini sangat lemah, kami khawatir akan terjadi sesuatu yang buruk." ucap Dokter.
"Gak apa-apa nak, kamu di rawat dulu." ucap Papah nya. Abel tidak bisa membantah dia pun mengangguk.
Setelah selesai di periksa Abel makan dulu.
"Mah.."
"Suami dan mertua kamu di luar, mamah tidak mengijinkan mereka masuk agar kamu tidak terlalu banyak beban pikiran." ucap nanah nya seakan tau kalau anaknya akan bertanya mereka di mana.
"Oohh begitu yah mah." ucap Abel. Tidak beberapa lama akhirnya selesai makan.
"Mamah sama Papah pulang saja dan istirahat, aku tidak ingin kalian sakit." ucap Abel.
"Lalu kamu bagaimana?" tanya mamah nya.
"Aku sudah meminta Mila datang ke sini, dia akan menemani aku di sini." ucap Abel.
"Mamah akan menjaga kamu sampai sembuh, mamah masih sehat, papah juga bisa di sini bersama kamu."
"Mah aku tidak ingin kalian sakit, kalau kalian sakit siapa yang akan menemani aku nanti?" ucap Abel.
"Sstt!! Jangan berbicara seperti itu nak."
"Novi, Abel.." ucap Radit melihat Mereka datang.
"Kenapa pak Radit dan juga ibu bapak menunggu di luar? Bagaimana dengan Abel?" tanya Enjel.
Mereka tidak lupa memberikan hormat kepada orang tua Radit.
"Mamah sama Papah pulang saja, Kalian istirahat." ucap Radit kepada orang tua nya. Mereka mengangguk dan langsung pamit pulang.
"Ada apa pak? kenapa wajah bapak seperti ini?" tanya Novi.
"Abel sudah tau semua nya." ucap Radit.
"Tau tentang apa pak?" tanya Enjel Masih belum kefikiran sampai sana.
"Pernikahan saya dengan Tania." ucap Radit. Mereka berdua seketika langsung terdiam. Duduk Lemas diam seakan tidak berdaya.
"Lalu Abel masuk rumah sakit karena tentang ini? bagaimana dengan kandungan nya?"
"Abel hanya syok, kandungan nya hanya lemah sehingga harus di rawat di rumah sakit." ucap Radit.
__ADS_1