Perjodohan Sejak Dini

Perjodohan Sejak Dini
Episode 26


__ADS_3

"Tangan ku terluka karena seharian memasak di dapur." ucap Abel. Radit berbalik dia mendekati Abel.


"Sini saya lihat." ucap Radit, Abel menggeleng kan kepala nya.


"Tidak perlu, aku bisa mengobati nya sendiri."


Radit menghela nafas panjang.


"Untuk tiga hari ini kita akan di sini dulu. Setelah itu saya akan berbicara kepada orang tua saya untuk pindah." ucap Radit.


"Seperti nya mereka tidak akan memberikan ijin." ucap Abel.


Abel terlihat sangat tertekan di rumah Radit. Abel sepanjang hari harus menjadi orang lain, dia harus berpura-pura. Dia juga harus bisa melakukan apapun yang sebenarnya tidak bisa dia lakukan.


Radit diam. "Aku sudah ngantuk sebaiknya aku tidur duluan." ucap Abel langsung naik ke kasur.


Radit mau berbicara namun handphone nya berdering telepon dari klien nya.


Dia menjawab nya ke balkon sebentar. Tidak beberapa lama dia kembali ternyata Abel sudah tidur.


Radit duduk di pinggir kasur memerhatikan Abel yang tidur menyamping.


Radit menarik tangan Abel dengan pelan dia melihat ternyata jari-jari Abel banyak terluka.


"Huff sangat ceroboh sekali." ucap Radit.


Dia mengambil obat dan membalut semua yang luka.


Keesokan harinya...


Abel terbangun karena alarm yang dia pasang jam enam pagi.


Dia mematikan alarm tersebut dan duduk di atas kasur.


Abel menoleh ke arah sofa Radit masih tidur dengan nyenyak.


Abel berjalan ke kamar mandi dia mau gosok gigi namun dia baru sadar tangan nya sudah di balut dengan pembalut luka.


"Bik sini aku bantuin.." Setelah sudah di dapur.


Mertua dan Mamah nya ternyata ikut memasak sarapan pagi ini.


"Suami kamu belum bangun?" tanya mamah mertua nya.


"Belum Mah. Seperti nya dia kelelahan." ucap Abel.


"Oohh kecapean..." Ucap mertua nya dan Mamah nya sambil senyum-senyum.


"Huff aku salah ngomong, mereka pasti berfikir yang aneh-aneh." batin Abel.

__ADS_1


Tidak beberapa lama Radit turun dari kamar nya.


"Buatin kopi sama suami kamu nak, sebagai istri kamu berkewajiban untuk melayani suami kamu dengan baik." ucap Mamah nya.


Abel hanya bisa mengangguk saja.


"Putri mu benar-benar sangat baik Handoko." ucap pak Malvin kepada pak Handoko yang sedang duduk berdua melihat Abel mengantarkan Kopi kepada Radit.


"Semoga mereka berdua bisa menua bersama dan hidup bahagia." ucap pak Malvin. Pak Handoko yang tidak terlalu banyak berbicara hanya bisa tersenyum.


Dia juga sangat bahagia melihat anak pertama nya itu sudah memiliki suami. Dia juga tidak perlu mengkhawatirkan ramalan di masa lalu.


Di siang hari nya mereka berkumpul.


"Hari ini aku mau bilang kepada semua orang yang ada di sini. Aku dan Abel sudah memutuskan untuk tinggal di rumah ku." ucap Radit.


"Maksudnya?" tanya Pak Malvin.


"Iyah Pah, aku dan Abel merasa tinggal berdua jauh lebih baik aku juga harus belajar Mandiri begitu juga dengan Abel." ucap Radit.


"Tapi Mamah tidak yakin kalau kalian berdua saja." ucap Mamah Radit.


"Mamah harus yakin dan percaya sama aku." ucap Radit. Mereka semua sebenernya hanya ingin Radit dan Abel semakin dekat kalau di pengawasan mereka tidak ada keributan atau kesalah pahaman.


Radit berusaha untuk membujuk namun tetap saja tidak di ijinkan.


Radit setiap hari bolak-balik pergi bekerja dari rumah orang tua nya sudah hampir tiga hari. Sementara Abel belum di ijinkan bekerja.


"Huff sangat membosankan sekali." ucap Abel yang duduk di balkon rumah mertua nya.


"Abel..." panggil mertua nya.


"Iyah Pah." ucap Abel langsung berlari menghampiri kedua mertua nya itu.


"Humm Kamu sedang apa di atas? Ayo duduk di sini saja." ucap Papah mertua nya..Abel tersenyum dia duduk di sana gugup, Takut dan tidak terbiasa.


Tampang wajah kedua mertua nya membuat Abel sedikit takut.


Abel hanya diam saja. Dia tidak tau harus ngapain sampai pada akhirnya dia melihat Bibik sibuk di dapur untuk masak makan malam akhirnya dia langsung ke dapur.


"Huff kapan aku akan keluar dari rumah ini? Aku tidak betah." batin Abel.


"Non Abel jangan melamun, lihat semua jari-jari non sudah tergores." ucap Bibik.


Abel sadar dia langsung melanjutkan pekerjaannya.


"Ini sudah jam tujuh malam kenapa kak Radit belum pulang yah?" dia menunggu.


"Dari kemarin mamah tidak melihat kamu main handphone nak, apa kamu tidak memiliki handphone?" tanya Mamah mertua nya.

__ADS_1


"Humm aku punya kok mah, Hanya lagi rusak, aku tidak memiliki waktu untuk memperbaiki nya." ucap Abel.


"Kamu sangat aneh sekali." ucap Mamah nya. Abel hanya tersenyum saja.


"Ini sudah jam berapa pah? Kenapa Radit belum pulang juga sih?" ucap mamah nya.


Mereka Menelpon Radit dan ternyata Radit masih bekerja. Mereka pun Makan malam terlebih dahulu.


Setelah selesai Abel langsung ke kamar. Di kamar dia menonton TV menghilangkan rasa bosannya sampai dia mengantuk.


Tidak beberapa lama akhirnya Radit sampai.


"Nak kamu sudah pulang?" Mamah nya kebetulan lagi di bawah.


Radit tersenyum. "Loh istri kamu mana sih? Masa suami pulang dia tidak ada di sini?" ucap Mamah nya.


"Mungkin lagi di kamar, biarkan saja mah." ucap Radit.


"Huff tapi tetep saja dia harus menyambut kamu ketika pulang bekerja nak, tidak sulit kok." ucap Mamah nya.


Abel baru saja turun.


"Maaf mah, tadi aku ketiduran." ucap Abel.


"Lain kali jangan seperti itu, ayo layani suami kamu." ucap Mamah nya dan pergi.


Abel melihat kepergian Mertua nya. "Sini aku bawa." Abel Mengambil jas dan juga tas Radit.


Sampai di kamar Abel melempar kan tas Radit di kasur.


"Orang lain menikah untuk mendapatkan kebahagiaan, sementara aku menjadi tahanan di sini, menjadi pelayan dan aku harus mendengarkan semua apa kata mertua ku!" ucap Abel.


Radit Menatap Abel terlihat sangat kesal sekali.


"Aku sangat benci dengan situasi seperti ini, aku tidak suka. Aku menyesal!" ucap Abel marah-marah meluapkan semua nya apa yang di hati nya.


Radit yang sudah lelah hanya bisa diam saja.


"Aku gak mau tau besok kakak harus bilang sama Mamah kalau aku mau pulang ke rumah orang tua aku." ucap Abel.


"Jangan kekanak-kanakan Abel.." ucap Radit dengan suara yang sangat lusuh karena sudah jam sebelas malam.


"Aku tidak suka mertua ku, aku tidak suka di sini. Aku benci sama kakak." ucap Abel.


"Tidak mau tau aku besok akan kembali ke rumah orang tua ku, aku tidak perduli." ucap Abel.


"Saya sangat lapar.. Saya belum makan." ucap Radit mencoba mengalihkan pembicaraan agar dia tidak mendengar ocehan Abel. Setiap hari Abel mengoceh.


"Minta tolong saja pada Mamah, aku tidak mau." ucap Abel.

__ADS_1


__ADS_2