
"Tapi tetap saja Tania, aku yang sudah merebut kak Radit dari kamu." ucap Abel. Tania menggeleng kan kepala nya.
"Enggak kok, siapa bilang? Aku tidak merasa seperti itu. Justru aku Sendiri yang meminta kak Radit pergi dengan sifat ku, dan aku yang membuat kamu dan Radit seperti ini." ucap Tania.
"Aku yang salah karena memaksa Radit pada saat itu menikahi ku walaupun aku sudah tau kalau Radit sudah memiliki tunangan." ucap Tania.
"Dan aku juga yang meninggal kan Radit dan mengabaikan nya sehingga dia hilang rasa kepada ku. Dia di paksa menikah Oleh orang tua nya, dia meminta ijin kepada ku untuk mengurus surat cerai. Namun aku tidak mau karena aku sangat egois, aku masih membutuhkan uang Radit." ucap Tania.
"Aku yang harus minta maaf sama kamu dan juga Radit. Aku sangat egois." ucap Tania sambil menangis.
Abel diam. "Aku hanya melakukan apa yang aku inginkan tanpa memikirkan orang yang ada di sekitar ku, aku benar-benar sangat jahat." ucap Tania.
Abel mendekati Tania dia memeluk nya.
"Jangan merasa bersalah seperti ini, aku tidak menyalah kan kamu." ucap Abel.
"Abel.." Tania memegang tangan Abel.
"Aku mohon jangan membenci Radit. Dia sangat mencintai kamu, dia benar-benar mencintai kamu." ucap Tania.
"Berhenti marah pada nya. Dia melakukan semua ini karena kamu, dia takut kalau dia jujur kamu tidak bisa menerima dia." ucap Tania.
"Tapi seharusnya dia harus jujur, aku jauh lebih kecewa kepada nya karena dia tidak bisa menjaga kepercayaan ku." ucap Abel.
"Tania aku mohon maafin dan dengarkan penjelasan Radit." ucap Tania.
"Aku tidak masalah kalau kamu tidak memaafkan aku, tapi kamu harus baik-baik dengan Radit, aku hanya meminta itu."
"Aku juga akan mengurus surat cerai sampai selesai dan berhenti mengganggu kehidupan kalian." ucap Tania.
"Tapi kamu mencintai Kak Radit. Aku sekarang sudah pasrah kalau suatu saat nanti anak ku bersama kalian." ucap Abel.
Tania menggeleng kan kepala nya. "Tidak Tania, tidak. Kamu tidak boleh berbicara seperti itu." ucap Tania.
"Kamu adalah wanita yang di cintai oleh Radit. Radit adalah Pria yang baik, dia akan mencintai kamu setulus hati nya, di tambah lagi kamu sudah mengandung anak dari Radit."
"Tapi aku tidak boleh egois Tania, kamu juga mencintai kak Radit."
"Justru karena aku mencintai dia Abel, aku ingin dia bahagia dengan pilihan nya." ucap Tania.
"Kamu bagaimana?"
"Aku bisa sendiri, aku sudah terbiasa sendiri. Aku hanya belajar sedikit lagi untuk melupakan Radit."
Abel menghela nafas panjang. "Kamu harus berjanji untuk terus bersama Radit, jangan sampai hal bodoh yang aku lakukan sebelum nya terjadi lagi kepada kamu dan Radit. Radit sudah cukup menderita karena aku." ucap Tania.
"Abel.. Kamu harus membesarkan anak kalian bersama. jangan menjadi kan masalah ini membuat anak kamu sengsara." ucap Tania.
"Kamu akan membuat aku merasa bersalah seumur hidup kalau kamu berpisah dari Radit."
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu. Tapi aku masih kesal kepada nya." ucap Abel.. Tania tersenyum dia langsung memeluk Abel.
"Aku ingin kamu bahagia bersama Radit." ucap Tania.. Abel tersenyum sambil membalas pelukan Tania.
"Tok!! Tok!! Tok!!"
"Tania buka pintu nya, Tania! Aku tau Abel di dalam sana." ucap Radit.
Tania membuka pintu.
"Abel di sini kan? di mana dia? Kamu yang meminta nya datang ke sini kan?" tanya Radit.
"Aku sendiri yang ingin datang ke sini." ucap Abel. Radit mendekati Abel.
"Ayo pulang Abel." ucap Radit.
Abel melepaskan tangan Radit.
"Aku bisa pulang sendiri." ucap Abel langsung pergi. Radit menoleh ke arah Tania.
"Apa lagi yang sudah kamu katakan kepada Abel Tania? kamu tidak cukup melihat ku menderita seperti ini?" tanya Radit.
"Aku tidak mengatakan apapun." ucap Tania.
"Lalu kenapa dia menangis? Kenapa dia datang ke sini?" tanya Radit.
"Tapi..."
"Sudah pulang saja." ucap Tania mengusir Radit.
Akhirnya Radit menginyakan dan pulang mengikuti istri nya.
"Hufff." Tania menghela nafas panjang.
Dia mau menutup pintu namun tiba-tiba Zaki datang menahan nya.
"Eist jangan di tutup dulu, aku mau bertemu dengan dokter Tania." ucap Zaki.
"Ya ampun Zaki, kamu membuat ku terkejut saja, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Tania.
"Aku sudah bilang aku ingin bertemu dengan kamu."
"Bukan nya hari ini kamu ada jadwal operasi?" tanya Tania.
"Sudah selesai. Aku mau ngajakin kamu makan siang di luar." ucap Zaki.
"Aku sudah bilang kalau aku tidak ingin kemana-mana, kamu tau sendiri aku bahkan mengosongkan jadwal ku agar aku bisa istirahat."
"Kalau begitu kita makan siang di apartemen kamu saja." ucap Zaki.
__ADS_1
"Aku tidak bisa masak, kamu Gofood saja."
"Bohong! giliran sama Radit saja kamu bisa masak makanan yang enak. Sama aku kamu menggunakan banyak alasan." ucap Zaki.
"Ya sudah masuk, aku akan masak. Kebetulan aku juga belum makan pagi dan ini sudah siang aku sangat Lapar." ucap Tania. Zaki tersenyum.
"Aku melihat Suami dan juga madu mu datang. Ada apa?" tanya Zaki.
"Tidak ada, kamu sangat kepo. Buka jas dokter mu dan bantu aku ke dapur." ucap Tania.
"Huff gelar ku saja yang dokter, namun tetap ke dapur." ucap Zaki. Mereka pun masak bersama.
Radit dan Abel sampai di rumah.
"Sayang kamu sudah makan siang? Ayo makan siang." ajak Radit.
Abel menoleh ke Radit.
"Kakak makan saja sendiri, aku masih kenyang."
"Tapi saya sudah memesan nya." ucap Radit.
"Makan saja sendiri." ucap Abel.
Radit menghela nafas panjang.
"Saya tidak melihat kamu makan dari pagi. Saya takut kesehatan kamu terganggu." ucap Radit.
"Tidak perlu perduli kan aku."
"Baiklah setidaknya kamu makan Demi anak kita." ucap Radit.
Abel menghela nafas panjang. Dia sebenernya sudah sangat lapar akhirnya dia pun mau makan bersama Radit.
Radit sangat perhatian kepada Abel, dia bersikap peduli, ramah dan melayani Abel dengan baik.
"Kalau kakak Melakukan ini agar aku luluh itu tidak mungkin, aku masih marah kepada kakak."
"Terserah kamu mau marah atau tidak, saya akan berusaha mendapatkan maaf kamu. sampai kapan pun itu." ucap Radit.
Abel diam dan lanjut Makan.
"Oh iya mamah sama papah mengundang kita makan malam bersama mereka." ucap Radit.
"Aku tidak ingin pergi."
"Jangan seperti ini Abel, jangan sampai mereka khawatir lagi dengan kita." ucap Radit.
Abel menghela nafas panjang. "Huff Iyah juga sih, aku tidak ingin orang tua kami khawatir." batin Abel.
__ADS_1