Perjodohan Sejak Dini

Perjodohan Sejak Dini
Episode 38


__ADS_3

"Mau sampai kapan kamu berdiri di depan saya? Apa kamu sekalian modus agar bisa melihat badan saya lebih dekat?"


Abel melihat badan Radit.


"Sembarangan! Aku tidak selera melihat nya, badan pria di tempat olahraga jauh lebih bagus." ucap Abel.


Radit terdiam mendengar itu.


"Aku akan memilih kan pakaian untuk kakak. Kakak minggir lah." ucap Abel.


Dia mengambil pakaian untuk Radit.


"Kakak tidak boleh tinggal diam saja, sekarang kakak bilang kalau kita sedang tidak di rumah kepada orang tua kakak." ucap Abel.


"Kenapa sih kamu sangat takut? mereka tidak akan marah-marah datang ke sini." ucap Radit.


Abel Menatap Radit.


"Aku tidak ingin bertemu dengan orang tua kakak, aku tidak mau." ucap Abel.


"Kamu takut kalau mereka tau tentang kita di sini seperti apa?" tanya Radit.


"Ya iyalah! aku tidak ingin Papah marah kepada ku." ucap Abel.


"Kalau kamu takut dan tidak ingin orang tua kamu marah sebaiknya kita mengubah semua nya ini dan segera menuruti keinginan mereka." ucap Radit.


"Maksudnya?" tanya Abel. "Kamu pasti mengerti lah dengan apa yang saya maksud." ucap Radit.


"Aku serius kak, aku tidak bercanda." ucap Abel.


"Saya juga tidak bercanda, siapa bilang saya bercanda?" ucap Radit.


"Sebaiknya kita memperbaiki hubungan kita ini. Lagian kamu sudah tidak memiliki pacar lagi kan? Saya juga tidak memiliki pacar." ucap Radit.


Abel menggeleng kan kepala nya. "Aku tidak mau, membayangkan nya saja aku tidak mau." ucap Abel.


"Kenapa? Apa kamu belum bisa move on dari mantan mu?"


"Atau jangan-jangan kamu masih mengharapkan dia kembali?"


"Jangan sok tau yah, membayangkan bersama kakak saja sudah membuat ku pusing, aku tidak akan mau. aku tidak mau." ucap Abel.


Radit menarik tangan Abel yang mau pergi. Dia melempar kan Abel ke kasur menggunakan tangan kiri nya.


Abel kaget. Radit langsung naik di atas Abel.


"Apa yang mau kakak lakukan? Jangan macem-macem!" ucap Abel.


Radit Menatap wajah Abel. "Apa salah nya kalau kita berdua sama-sama belajar? Apa salah nya kalau kita belajar untuk saling mencintai satu sama lain?" tanya Radit.


Abel menggeleng kan kepala nya. "Aku tidak bisa memaksakan perasaan ku terhadap orang lain." ucap Abel.

__ADS_1


"Minim harapan untuk kita berpisah, seperti nya itu tidak mungkin terjadi. Karena kita berdua sudah di takdir kan untuk bersama." ucap Radit.


Abel menghela nafas panjang.


"Aku berharap suatu saat nanti ada yang bisa menyelamatkan kita dari kutukan sialan ini." ucap Abel.


"Ini tidak kutukan, ini takdir." ucap Radit.


"Sama saja, aku tidak suka dengan takdir ini." ucap Abel.


Radit menatap wajah Abel. "Sejujurnya kalau saya bisa memilih saya juga tidak ingin seperti ini. Saya juga tidak ingin kamu benci karena pernikahan ini." ucap Radit.


"Kalau begitu bujuk lah kedua orang tua kakak dan berbicara kepada orang tua ku. Setelah itu kita bertemu dengan orang pintar." ucap Abel.


Radit menjentik kening Abel dengan jari nya.


"Pikiran mu benar-benar sangat pendek sekali, di kantor dan di sekolah saja kamu pintar lebih dari itu kamu sangat lambat." ucap Radit.


"Sakit tau." ucap Abel. Radit mengelus nya. Abel kaget mata mereka bertemu.


"Maafkan saya. Saya pikir itu tidak akan sakit." ucap Radit..Abel langsung duduk.


"Segera lah pakai baju, kakak bisa masuk angin kalau seperti ini."


Tidak beberapa lama Radit selesai memakai baju nya.


"Kak..." Tiba-tiba Abel masuk ke kamar Radit dan menunjukkan layar handphone.


"Mamah menelpon." Ucap Abel.


. Radit mengambil nya dia langsung menjawab nya.


"Halo Mah."


"Kamu di mana sayang? Mamah sama papah menuju rumah kamu sekarang." ucap Mamah nya.


Abel memberikan isyarat agar berbohong.


"Mamah kok gak ngomong sih kalau ke sini? Aku dan Abel masih di kantor." ucap Radit.


Abel bernafas lega.


"Di kantor? Tapi mobil kamu dan istri kamu ada di depan rumah." ucap Mamah nya.


Abel dan Radit terdiam sejenak. Abel melihat keluar ternyata Mertua nya sudah datang.


"Kalian berdua mau membohongi Mamah sama Papah yah?" tanya Orang tua nya setelah sudah bertemu.


"Bukan seperti itu mah, ini aku dengan Abel mau keluar." ucap Radit.


"Kamu sungguh anak yang durhaka, mamah sama papah merindukan kalian berdua, kenapa kalian malah menghindar?" ucap papah nya.

__ADS_1


"a-aku minta maaf Pah."


"Ayo masuk." ajak Abel.


"Kamu apa kabar sayang? Kamu semakin cantik saja." ucap mamah mertua nya.


Abel tersenyum saja.


Mereka masuk ke dalam.


"Maaf yah Mah Pah masih berantakan. Karena aku sibuk di kantor. Bibik juga tidak di rumah." ucap Abel.


Dia merapikan barang-barang yang berantakan. Radit hanya bisa diam saja berpura-pura tidak ada terjadi apapun.


Abel sudah sangat sibuk mondar-mandir membersihkan rumah.


"Kamu sudah menjadi seorang istri Abel, seharusnya kamu resign saja dari kantor. Fokus mengurus rumah, suami kamu dan juga sebentar lagi kamu pasti punya anak." ucap mertua nya.


Abel hanya bisa tersenyum saja.


"Oh iya Radit tangan kamu sudah tidak di perban lagi?" tanya Mamah nya.


"Iyah mah, sudah lebih baik, sudah bisa di gerakkan." ucap Radit.


"Ternyata istri kamu cukup mahir Merawat kamu yah, tapi kenapa badan kamu semakin kurus sih nak?" tanya Mamah nya.


"Ya Allah nih mamah mertua rempong banget sih, perasaan badan kak Radit gitu-gitu saja.


"Abel kamu harus rajin Memasak makanan yang di sukai oleh suami kamu, jangan membiarkan suami kamu makan yang tidak bergizi." ucap mamah mertua nya.


"Iyah Mah."


"Aku saja makan apa adanya yang bisa aku masak." batin Abel.


"Mamah sama papah kok gak ngomong sih mau datang ke sini?" tanya Radit.


"Biar menjadi kejutan nak, tadi mamah dari rumah besan mamah silaturahmi dan rencana nya Mamah malam ini akan menginap di sini gak apa-apa kan?"


"Gak apa-apa kok mah, mau pulang sangat jauh takut terlalu malam."


Abel menggeleng kan kepala nya, namun Radit tidak perduli.


Di malam hari nya setelah selesai makan malam Orang tua Radit tidur di kamar Radit karena itu yang cukup layak untuk mereka.


kamar Abel penuh dengan barang-barang nya. Kamar yang seharusnya luas menjadi sangat sempit.


"Kakak tidur lah di kasur." ucap Abel menunjuk ke arah tempat tidur Abel.


"Kenapa kamar mu sangat bau? Dan ini juga sangat berantakan." ucap Radit.


"Aku tidak sempat merapikan nya, aku akan merapikan nya." ucap Abel.

__ADS_1


Radit melihat susunan kado-kado yang masih banyak.


__ADS_2